Kamis, 03 Juli 2014

KASIH TAK SEMPURNA

KASIH TAK SEMPURNA
(Hampir 20 Tahun Lamanya di Jakarta)
Oleh: Tirta Pawitra

Tangisnya pecah tiba-tiba. Tanpa prolog ia sampaikan semua yang dirasanya.”Mamamu sudah tak mencintai bapakmu. Ia tak pernah bisa menghargai bapak. Ia tak pernah bisa akur dengan bapak”. Mendengar itu,aku tak sanggup bicara apa-apa. Rasanya ini bukan kali pertama bapak sampaikan hal yang sama. Seingatku ini yang ketiga kalinya soal ini seetelah yang kedua kalinya saat ia ingin pulang kampong sendiri. Dan yang pertama kali saat masih di Kampung.

Mama ada di ruang tengah. Aku tidak mau berkomentar soal ungkapan bapak yang barusan. Aku tidak ingin terkesan memihak pada salah satu dari kedua orang tua yang cintaku tak akan pernah mati. Sebab mereka adalah segala-galanya bagiku, aku tidak mau hanya mencintai salah satu dari mereka berdua. Aku mencintai mereka berdua. Mereka adalah sumber inspirasi yang tak akan pernah mati. Jujur seluruh usaha penulisan ini juga aku lakukan dalam rangka membahagiaka mereka. Aku ingin mengabadikan kisah ini sebagai pelajaran bagi saya dan juga mudah-mudahan untuk orang lain.

Tangisnya makin menjadi-jadi saat Mama menyatakan. Lah Aku salah apa?.Mama ngga ngapa-ngapain. Koq ngomong kaya gitu. Bapak menambahinya dengan kalimat "Punya istri satu aja kaya gini susah bener dibenerin..." Mama kembali dengan jawaban. Benerin pa, emang aku salah apa. Kaya aku rusak ,sakit atau penyakitan lah dibenerin.

Aku yang ada di dekat diantara mereka. Hanya menghela nafas panjang. Aku sungguh tak kuasa melihat  keadaan seperti ini. Aku hanya bisa beristighfar atas kondisi yang terjadi pada kedua orang tuaku. Semestinya ini tidak terjadi. Semestinya mereka hidup bahagaia di hari tuanya.menikmati masa tua dengan menimang cucu-cucunya, memandikan cucunya yang masih kecil atau mengantar cucunya pergi ke sekolah sebab itu lebih membahagiakan daripada apa yang mereka rasakan saat ini. Atau ada yang lebih membahagiakan lagi adalah focus ibadah semisal shalat tarawih dan berzikir mendekatkan diri dengan tuhan dari pada lelah memikirkan usaha yang hingga saat ini belum memperlihatkan hasilnya.

Itu adalah pemicu awal mengapa Bapak inginmenangis dan pecah tertumpah apa yang dirasanya. Ibumu disini hutang lagi, katanya…

Aku adalah anak dari empat bersaudara dimana kesemua saudara-saudaraku kini telah berpisah karena telah berkeluarga. Mba Inayah tinggal di Tangerang dengan suaminya yang pekerja Pabrik ban di tangerang. Badriyah tinggal di kampong yang bekerja sebagai seorang perawat, dan terakhir adikku kini sudah lama menikah dan kini dikaruniai 3 anak. Tinggal aku yang belum menikah. Padahal usiaku sudah tak muda lagi. Hal ini yang membuatku juga berpikir apakah sebab mereka Bapak dan Ibuku sering berantem dikarenakan aku yang belum juga menentukan pilihan.  Jika benar ini jawaban bahwa dengan aku menikah mereka akan akaur. Aku akan lakukan. Tapi aku berkeyakinan sebabnya bukan ini.
Bapak jangan menangis, hentikan tangis itu. Hentikan jangan pikirkan hal-hal negative tentang Mama. Cobalah bersabar…?

"Sabar….??" Sudah lama kaya gini. Sudah lama mamamu tak mencintai bapak lagi. Musriah yang dulu beda dengan Musriah yang sekarang. Sangat jauh berbeda.
Bapak hanya minta dihargai. Dianggap suaminya. Aku ngga dianggap. Kalo kaya gini mendingan Mati saja. Astaghfirullah. Bapak jangan ngomong gitu. Istighfa Pak…!!!
Aku sungguh merasakan sesak yang teramat dalam. Aku tidak kuat dengan semua pertengkaran yang tak kelar-kelar ini. Sesungguhnya, aku bosan dengan situasi ini. Ini sungguh sangat membuatku lelah. Tolong hentikan semua ini. Inilah doaku pada Tuhan. Ya Allah ampunillah segala salahku ya Allah. Aku tidak ingin melihat mereka berdua berantem. Aku ingin melihat mereka akur sebagaiman dulu bapak yang akur dengan Mama.

Jika seorang suami istri tidak akur, maka keberkahan itu tertutup. Makanya benar jika usaha kita tidak pernah membuahkan hasil sebab di rumah ini, keluarga kita antara Mama dan bapakmu ini tidak pernah akur. Coba kamu lihat, kita udah usaha demikian keras tiap hari dari pagi samai Malam, tapi hasilnya tidak ada. Bahkan mamamu malah hutang.

Hutang apa sih pak…??? Tanya saja Mamamu. Mama di dalam dengan nada agak meninggi. Wong duit nggo berobat. Kakiku sakit. Ra isa digerakkna..Aku mau minta sama Kamu Bram tapi lagi ngga ada, makanya pinjem Bank Keliling (Rentenir).
Aku hanya bisa nyesak mendengar kata hutang dari Bapak. Memang aku dan bapak dan juga kami sekeluarga sangat sangat trauma dengan kata Hutang. Kuhadirkan mereka berdua di Jakarta ini adalah dalam rangka menghindarkan Mama dari jerat hutang. Tapi di tempat yang sengaja diisolasi agar mama tak hutang ternyata masih bisa Hutang??? Seketika rasa kecewa mendera. Sebuah pertanyaan besar disini muncul….

Untuk soal hutang Bapak tidak terlalu memusingkan, masa Bodoh tapi yang paling Bapak Pikirkan bagimana caranya bisa Akur…Terlalu sakit bapak harus menahan beban batin ini. Bapak merasa tidak dihormati sebagai seorang suami… Makan ngga pernah  nawarin boro-boro nyiapin, Minum aja ngga pernah nawarin apalagi nyediain..

Ngga jauh-jauh, nawarin makan aja ngga pernah. Yang ada malah tiap hari diliatin kalo makan sehari ini sudah sampai 4 dan lima kali. Dansererusnya. Seolah bapak yang ngabisin makananan. Bapak jadi merasa jadi beban di rumah ini. Jadi bapak mending mau pulang saja.

Aku langsung jawab dengan bertanya: Apa dengan pulang ke Jawa, keadaannya akan lebih baik. Apa tidak sebaliknya jika pulang maka akan babak belur, sebab akan banyak orang berdatangan menagih hutang???? Kuajukan pertanyaan dasar ini pada bapak dan rupanya pertanyaan itu membuatnya berpikir ulang dan “terpaksa” harus tetap dengan pilihan bertahan tinggal di kontrakan kecil ini dan bertahan hidup dengan dengan usha kecil ini.
Karenya aku pernah menulis status di FB isnya:

Jika hari ini engkau meminta ijin untuk secepatnya pulang, sungguh aku tak akan lagi menahanmu.. Aku tak akan memintamu tetap di tempat ini menunggu mekarnya bunga di taman yang belum usai pembaangnannya. Entah esok hari..

Jika hari ini engkau meminta ijin untuk pulang, kan kuantar engkau di terminal yang lama kita singgahi. itulah tempat perjanjian kita....

Jika hari ini engkau pergi meminta ijnku untuk pulang... Aku tak akan pernah menghalangi...


Tapi Plisss Ma… Bukan bertambah hutangnya. Aku ajak mama dan bapak serta buka usaha ini agar bisa sedikit-sedikit ditabung dan menutupi hutang yang ada di kampong. Setidaknya bisa bertahan hidup di Jakarta. Tapi saat ada niat kita untuk menutup hutang itu kenapa Mama malah masih saja berhutang, sesuatu yang menurut aku semestinay itu tidak dilakukan sebab kata hutang adalah kata yang paling dibenci…!!!!

Jawaban Mama utang itu untuk berobat tak sepenuhnya salah sebab memang beliau membutuhkan pengobatan. Lebih dari itu bukan saatnya lagi mereka harus berlelah-lelah bekerja. Justru saatnya mereka dimanjakan anak-anaknya. Sayang anaknya belum bisa membahagiakan meraka. Di saat yang sama aku justru sering kesal dan emosi dengan sikap orang tuaku sendiri. Aku sering kesal dengan mereka. Ekonomi tak bisa memenuhi yang terjadi malah aku sering kesal dengan mereka. Astagfirullah.

Lama aku tak bersama mereka layaknya seorang anak bersama orang tua. Lama aku terpisah dengan mereka. lama aku tak perhatian pada mereka.Tahun 1997, aku berangkat ke Jakarta. Aku tidak menyangka jika waktu itu hingga saat ini adalah waktu yang sangat lama. Lama aku tak bersama bapakku. Lama aku tak bersamaIbuku atau mamaku. Lama aku tak berada di dalam kebersamaan keluarga.
Pantas jika tahun lalu bapak pernah bilang, Bram koq beda banget, budi sangat emosian. Aku sendiri tak merasa mengalami perbubahan smosi yang membuatku disebut sangat emosian. Apakah dulu aku sangat lembut. Ramah dan baik pada orang tua. Apalak kini aku sangat berbeda. Benarkah aku yang kini adalah aku yang sangat pemarah. Bisa jadi benar sebab aku pernah bermasalah dengan salah seorang karyawan di tempatku kerja aku pernah membentaknya sangat keras. Aku juga hamper tak sadar bisa memnunculkan kata-kata kasar pada seornag karyawan itu.

Aku juga pernah berucap kasar pada wanita tepatnya bendaharaku saat aku menjadi kepala sekolah di sekolah Dasar Swasta di tempat aku tinggal ini. Padahal ia wanita yang sangat cantik dan baik tapi aku tega memarahinya. Apakah itu aku yang sesungguhnya.

1997,1998,1999, 2000, 2001, 2002, 2003, 2003, 2004, 2005, 2006, 2007, 2008, 2009, 2010, 2011, 2012, 2013, 2014. Sengaja aku deretkan angka tahun ini, agar jelas betapa tak sebenatar aku tinggal di Jakarta. Hamper dua puluh tahun aku berpisah dengan orang tuaku. Bapak dan Ibuku.  Sungguh bukan waktu yang sebentar. Aku baru lama pisah ini saat Mama bilang ke pemilik ruko yang kini kami tempati. Ni anak satu-satunya yang sejak SMA, merantau ke Jakarta dan jarang pulang. Paling pulang setahun sekali. Saat itu sungguh aku baru mikir. Iya ya ternyata aku sudah sangat lama berpisah atau merantau di Jakarta. Rentang waktu yang panjang cukup member jarak yang cukup jauh untuk memahami sosok anaknya yang selama di Jakarta.

Di hadapan Mama dan Bapak tentu aku adalah anak yang sangat pendiam, penurut baik dan tidak pernah emosi. Aku sekarang sangat emosian. Dulu adiku yang emosian. Sekarang justru sangat baik dan sabar pada orang tua. Berbanding terbalik dengan aku. Aku sering tidak sabar menghadapi mereka. Suatu hari bapak pernah bilang pada adik, “kakamu beda sekali sekarang…!!! Kata yang membuatku tersentak, sama dengan perkataan Mama  tentang aku rernta sudah puluhan tahun di Jakarta. Saya kira lama di Jakarta dan perubahan sikap dan emosiku ada kaitannya. Dan selama ini aku tak sadar.

Sejak pertama kali lulus SMA hingga kini aku masih di Jakarta?? Hamir 20 tahun. Sejak 20 puluh Tahun itu pula Mama tak pernah lagi mengelus rambutku saat aku sakit. Membawakanku air the hangat, memasakkanku masakan kesukaanku. Dan selama itu pula Mama tidak pernah melihatku berubah. Sebab perubahan itu seperti lompatan besar yang membuat mereka sangat kaget.
Hampir 20 Tahun Lamanya…

Subhanallah, cukup lumayan lama juga. Selama itu semestinya pula seorang anak hadir untuk orang tuanya di segala situasi dan kondisi yang menghimpitnya. Selama itu aku tidak sepenuhnya disana. Aku tak sempurna menemani hari-harinya. Aku tidak hadir di saat mereka sedang menghadapi situasi dan hari-hari sulit itu. Terlebih menyangkut hubungan mereka berdua yang semestinay di Usia Senja ini makin mesra. Tapi yang terjadi sebaliknya….

Kini mereka ada bersamaku. Di tempat ini. Tempat yang sesungguhnya tak diingininya sebab tempat ini jauh dari tanah kelahirannya. Sewajarnya di usia tua inginkan menghabiskan waktunya di rumahnya. Di tanah kelahirannya. Di kampong halamnnya. Tapi mereka kini ada disini. Hanya sesaat mengasingkanhya dari hiruk pikuk yang menyesak jiwanya. Dan apakah aku akan menyia-nyiakan mereka. Ngga…!!! Itu tidak akan terjadi tidak akan terjadi…...;  Aku ingin menyempurnakan dan menutup bolong-bolong waktu yang semestinya aku ada untuk mereka. Aku ingin menutupnya. Aku ingin membantunya keluardari kemelut Jiwa. Aku ingin berusaha keras membayar hutang-hutangnya…

Aku yang salah selama.. ini..
Mama Bapa,, Maafkan anakmu yang selama ini tak bisa mencintaimu dengan Sempurna…


Marunda di Ujung Senja, 29 Juni 2014



Sabtu, 24 Mei 2014

SAMARA (Part 2)

SAMARA (Part 2)


Kapal Noah, kini bersandar di lantai 3 depan Pintu Kelas X1. Air menggenang menggenang. Kapal itu sangat gagah. Tentu ini akan menjadi perjalanan (pembelajaran) yang mengasyikkan. Aku akan mengajak anak-anak menaiki kapal itu dan melaju ke kejayaan Atlantis yang kini masih secuil harapan tentang asal muasal peradaban... Saat aku sedang memperhatikan bentuk kapal itu. dari speaker terdengar suara memanggil. Kepada Bapak Ibu Guru peserta Raker harap segera berkumpul di ruang Guru, sebab acara akan segera dimulai....>>> Segera aku kembali di alam realitas. Kurapikan Buku Tua yang ada di tangan dan bergegas Turun ke lantai dasar. Mudah-mudahan Raker hari ini berjalan lancar...

Sabtu Juni 2013. Buku Semar, masih ada dalam tas. Aku selalu membawanya. Buku lama yang teguh dan sangat kuat isinya. Buku berkover warna hitam. Bergambar Semar, tokoh bijak dalam cerita pewayangan Jawa. Nampaknya buku ini menjadi buku yang tidak semua orang bisa baca. Sebagian takut dengan buku itu. Padahal buku ini yang dibaca oleh hamper semua tokoh-tokoh besar peradaban. Buku inni juga memuat kisah mereka para tokog besar perubahan. Termasuk tokoh yang proklamator NKRI, Soekarno

Hari itu Kami ngumpul di Raker untuk sebuah rencana pembelajaran untuk tahun ajaran baru. Dua hari mengadakan Raker. Saat itu aku menjadi peserta Raker, yang mungkin sedikit bicara agak berani sebab telah mengkritik kepala Sekolah yang tak dating diacara yang menurut saya harus dihadirinya. Ibarat kata Raker adalah Sang pengantin yang mengundang para tamu di acara pernikahannya. Bagaimana pernikahan akan dapat segera dilangsungkan jika sang pengantinnya ngga ada. Kepala Sekolah adalah sang penganten yang mengundang guru-guru untuk membicarakan programnya. Jadi menurut saya Raker tidak bia dilaksanakan jika Kepala Sekolah tidak dating.

Kalo kepala Sekolah tidak bisa hadir dalam acara ini sebaiknya cari hari yang lain. Kenapa Kepala Sekolah harus ada, sebab seluruh keputusan sangat bergantung pada ketok palunya. Kecuali jika ia merasa acara ini tidak penting, kecuali jika ia merasa dirinya tidak punya pengaruh signifikan, maka kepala sekolah boleh tidak hadir. Tapi jika kejadiannya demikian, saat itu sebetulnya kita tidak membutuhkan kepala Sekolah. Suaraku agak tinggi mengkritik persoalan ini di hadapan Forum Guru yang terhormat.

Serangkaian kerja setahun telah dilaporkan, rencana kerja akan segera kami susun dan rancang. Petualangan pembelajaranku kini terhenti sesaat untuk sebuah Raker yang tentu akan sangat Indah. Saya kira inilah sarana paling leluasa untuk membicarakan semua tentang pembelajaran kita di Sekolah

Terima kasih Tuhan, Atas nikmat yang Engkau Berikan. Ini adalah petualangan pembelajaran yang Indah. Dan Saya tidak pernah menyesal menjalani tugas pembelajaran ini sebab sejak awal aku sangat membanggainya. Terlebih bergabung bersama teman-teman guru yang sangat luar biasa. Teman-teman yang rela mencurahkan tenaga dan pemikirannya untuk pembelajaran terbaik.

Petualangan pembelajaran ini menurutku masih akan sangat panjang sebab tujuan Akhir pembelajaran harus terujud dengan indikatornya mampu menciptakan manusia yang kita didik menggapai tahapan kedewasaannya. Itulah semangat luar biasa yang selalu membakarku untuk memberikan pelajaran terbaik untuk anak bangsa.

Sedih sesungguhnya melihat Nasib TKW yang terlunta di Arab. Mengapa Negara ini tak jua mampu menghentikan sebegitu banyak kegetiran TV-TV masih memberitakan kepiluan yang sangat luar Biasa tentang nasib TKW. Sementara para Politisi tetap sibuk dengan dirinya sendiri yaitu kerja pemenagan pemilu tanpa pernah mau berpikir tentang penyelesaian masalah bangsa yang sesungguhnya.

Miris. Sabtu

Perkuliahan Filsafat, membahas tema kaya dan mendalam. Dosen dengan karakter kuat memaparkan Ide yang brilian tentang solusi terbaik bagi negeri. Walau disela-sela diskusi sentiment dan ego kelompok sering muncul sebgai bentuk tanggungjawab kelompok atau solidaritas.

Dari perkuliahan S2 ini aku bukan semata belajar unk mendapatkan ilmu akan tetapi aku juga melihat bagaimana sang Dosen mengajar, dan mulai semakin mampu dan mengerti bagimana kesulitan dosen saat menyampaikan ide. Ada dosen yang luar bisa mempersiapkan pembelajarannya dengan semua silabusnya. Tapi ada juga dosen yang hanya modal kemampuan bicara tanpa pernah menyiapkan materi. Dari sini aku belajar berinstrospeksi dan harus lebih bisa memahami apa yang dimaui anak-anak atau murid saat di kelas. Pembelajaran harus bermakna buat anak-anak. Pembelajaran bukanlah acara harus terikat pada formalitas. Yang hanya menjadi syarat bagi anak mendapat ijazah atau formalitas bagi guru alias asal ngajar sehingga gajinya bisa dibayar.

Aku ingin menyajikan pembelajaran terbaik bagi anak-anaku, pendidikan yang kuat tentang bagaimana semestinya bernegara yang baik. Bernegara dalam arti membentuk mereka menjadi pribadi yang kuat. Pribadi yang menghargai tanah dimana mereka dilahirkan. Pribadi yang menyadari siapa dirinya yang sesungguhnya sebagai manusia. Bukan budak yang diperalat oleh siapapun. Hanya ini mungkin yang bisa saya lakukan. Catatan panjang yang kubuat inipun hanya mengalir tanpa pernah ada yang sudi membacanya. Selain karena tanggungjawab Administrasi yang selalu dinanti, diminta dan dituntut karena itu Tugas Guru.

Salam Pedagogik Guru Indonesia…

Perdebatan tentang anak yang “di keluarkan atau “tidak dikeluarkan” cukup alot. Pelanggaran etika dasar karena ber”pacaran” di kelas bersama teman satu kelas. Aku termasuk yang memberikan porsi besar pada anak yang melakukan pelanggaran Institusi dan Etika Moral sebab berpacaran yang dilakukannya telah melampaui ambang batas yang bisa ditoleransi. Dan karena hal ini maka saya akan dinilai the moralis dan akan terkesan suci dan seolah dijauhkan dari pergaulan.

Masyarakat kita adalah masyarakat pemaaf (untuk tidak mengatakan sama-sama menjadi pelaku maksiat) sebab sang Maksiat Justru menjadi raja yang dielu-elukan. Memang tak ada manusia yang sempurna, tapi bukankah kita masih bisa mengangkat kesakralan dan kokohnya tali jiwa. Jika sang maksiat telah berbuat, maka ada keburukan yang harus dibersihkan. Darinya tak bisa memancar cahaya kebaikan sebab kebaikan hanya dating dari orang-orang yang mensucikan jiwanya. Kecuali ia membersihkan dirinya dari dosa itu. Versi Islam ia harus bertobat dan bukan membenarkan dan bangga dengan kemaksiatannya.

Saya tidak bisa menerima keberadaan Siswa tersebut sebelum ia bersungguh-sungguh untuk tobat dan menyadari kesalahannya. Dan bukan petantang petenteng, sebab jika ini dibiarkan. Murid yang lain akan mempunyai anggapan, tuhhh liat si maksiat yang ciuman di sekolah saja masih dihargai. Bahkan dieluelukan dia hebat dan seterusnnya. Itu poin pemikiran kenapa saya bersikeras untuk mengeluarkan anak itu dari sekolah ini. Saya tidak naïf bahwa manusia ada salah. Tapi berikan ruang yang lain agar dirinya belajar dari kesalahannya.

Wahai Guru Indonesia Selamat Memulai Aktifitas kita dengan niat yang baik mencerdaskan anak bangsa ini menjadi manusia dewasa. Mudah-mudahan perjalanan pembelajaran kita dalam tugas pendewasaan mereka semua dapat berjalan dengan lancer. Selamat berpetualang dengan dunia pembelajaran yang akan selamanya Indah. Insya Allah.


Ruang Guru, 17 Juni 2013





SAMARA


SAMARA: 
(Sang Guru Bangsa)

PROLOG[1]


Namaku Samara.....!!!

Aku orang daerah yang merantau di Jakarta. Aku adalah guru di sebuah sekolah Negeri di Jakarta Utara. Aku adalah anak bangsa yang sangat mencintai negeri ini. Aku bangga telah dilahirkan dan dibesarkan di tanah tercinta yang kaya ini. Detik ini, detik dimana aku sedang punya pikiran untuk menulis semua kisah perjalanan ini. Aku sedang ada dalam perjalanan menuju Jakarta. Aku ingin segera ke Jakarta karena ingin menunjukkan Buku ini kepada Negara.

Buku ini adalah Jurnal dan Agenda pembelajaran di kelasku. Ini hanya sebuah Upaya untuk menyajikan pembelajaran lewat Sisi Lain. Aku mendapatkan buku Ajaib dari Eyangku. Buku itu berjudul Serat Semar. Adalah Buku yang sedang kuseriusi beberapa hari terakhir ini.
Ini buku yang sangat luar biasa. Buku yang menyemangitiku untuk mencintai dan makin mencintai Indonesia. Kini aku sedang membawanya di tengah perjalanan menuju Jakarta.
Di suatu malam yang sangat sepi, menjelang tengah malam, aku berada di kamar beliau. Menemu lelaki tua yang tak lagi perkasa. Di Usia beliau yang kini telah di atas 60 tahun, aku ingin sesering mungkin menemuinya. Tubuhnya telah renta. Uban telah merata di kepalanya. Kupijat kakinya yang beberapa tahun ini terasa sakit.

Saat itulah beliau bicara. SaMara…!!!, Bapakmu sudah Tua, sudah saatnya Bapak menyampaikan Pesan Eyangmu. Beliau merogoh bungkusan kain yang ada disampingya dan terlihatlah sebuah buku berwarna Perunggu berbahan kulit. Sebuah Buku Lawas. Iki Buku Lawas Tinggalane Eyang Kakung, Kanggo Koe, Buku Iki Bakal Migunani Awakmu Kanggo Medar Ilmu neng Ibukota. Eyangmu pesan Isi Buku itu akan terbaca saat engkau gunakan untuk tujuan pembelajaran Kebangsaan. Kata Bapak sambil menyodorkan buku warna hitam mengkilat ke arahku. Buku itu bergambar Semar, tokoh bijak dalam dunia pewayangan. Untuk membuka Bab Mukadimah dalam buku itu, Bapak memberiku sebuah bintang perunggu dan Beliau tempelkan di gambar bintang pada Bab Mukaddimah Buku tersebut. Seketika terbuka gambar sosok yang selama ini sudah sangat kukenali. Sosok yang telah lama pergi, Eyang Kakung, meninggalkan Buku Tua yang dulu pernah kulihat di lemari Besarnya. Putuku Sing Tak Tresnani, Ini buku peninggalan para pendahulu bangsa. Belum ada seorang pun di zaman ini yang membacanya sebab hanya orang-orang tertentu saja yang bisa membacanya. Orang tertentu dengan syarat yang juga tertentu.

Gunakanlah buku ini untuk mengajar sebab dengan cara itulah penanaman Nilai Kebangsaan itu dapat tumbuh dengan baik. Temuilah para Pendahulu Bangsa ini dalam buku ini. Mereka akan mengantar-mu pada perjalanan penuh jawaban memuaskan tentang bagaimana semestinya Negara Bangsa ini menjadi Jaya. Pembelajaran terbaik adalah pembelajaran yang mendekatkan teori dengan realitas. Maka pertemukan dan kenalkan anak-anak bangsa itu dengan tokoh-tokoh besar bangsa ini. Dengan begitu pula Isi dalam buku itu dapat tergali secara mendalam.

Dapatkan Bintang Pembuka dalam setiap bab-nya dari para tokoh-sebab bintang perunggu akan di dapat setelah bertemu dengan tokohnya langsung. Itu saja Pesan Eyang, hati-hati di perjalananmu ke Jakarta. Semoga cita-cita besarmu tercapai. Seiring dengan ucapan terakhir itu sosok yang kulihat itu tiba-tiba menghilang entah kemana. Sosok itu pula yang sering hadir dalam mimpiku dan membangunkanku untuk Shalat Isya yang pernah kelewat karena ketiduran.Aku makin penasaran. Buku Lawas dan belum ada satupun yang membacanya. Ayah hanya mengatakan itu adalah buku lama, berisi pesan-pesan dan penarawangan Masa Depan Indonesia. Buku itu menjelaskan mengenai kekuatan-kekuatan Bangsa Indonesia dan kejayaan di masa yang akan datang. Saat aku ingin membukanya, pesan bapak terngiang jelas, Jangan dibuka terlebih dulu, sebelum sampai di Jakarta. Niatku tertahan dan aku hanya bisa beristirahat sambil menikmati buku yang tiba-tiba menyerot perhatian dan energiku ini.

Buku ini adalah buku yang sangat dibutuhkan negeri yang saat ini sedang dilanda krisis Identitas. Buku ini dirindukan sebab bangsa ini mendambakan pemimpin kuat yang akan membawa bangsa ini menjadi bangsa yang disegani dan dihormati. Pemimpin yang tidak mengejar jabatan. Pemimpin yang mengayomi dan mengerti suara rakyatnya.Bukan pemimpin yang tak bisa membela bangsa sendiri dari penghinaan dan pelecehan oleh bangsa lain. Indonesia membutuhkan pemimpin kuat. Pemimpin yang menjaga kehormatan dan harga diri bangsanya diatas segala-galanya. Saatnya bangsa Indonesia menjadi bangsa yang membanggakan dan dibanggakan. Bangsa besar yang berdikari, berdiri ditatas kaki sendiri.
Aku ingin membawa buku ini ke Istana, hingga sang pemimpin bangsa ini membaca dan memahami apa yang semestinya dilakukan oleh pemimpin Negara bangsa yang kaya raya ini.
Buku ini adalah jawaban untuk Indonesia.

Mentari timur telah bertabur cahaya. Hari-hari pembelajaran kini ada di depan mata. PembelajaranIndah. Pembelajaran yang terhenti karena da libur panjang. Pembelajaran untuk anak-anakku yang memang tak semuanya lucu.



Cirebon, 23 Agustus 2013 (Perjalanan Arus Balik)






[1] Ini adalah catatan di sela-sela pembelajaran berisi materi ajaran dan problem dan keunikan-keunikan yang da di kelas yang diimajinasikan dalam cerita Tokoh Samara. Ia adalah seoran Guru yang sangat mencintai Sejarah Bangsanya.

Minggu, 01 Desember 2013

HAROKAH

HAROKAH
(Gerak Jiwa)



Jiwa yang selalu bergerak. Jiwa yang tak akan pernah diam. Jiwa yang tak pernah mati. Bersamamu bukanlah pemberhentian terakhir yang menjadikan Jiwa ini Sempurna. Bersamamu di tempat ini adalah pembenrhentian yang tetap menjadikan Jiwa ini mengembara sebagaimana azalinya.

Sekatmu yang menjadikanku harus tetap bergerak. Jika kuberhenti, itu karena aku juga terbatas. Adalah salah yang baru kusadari, jika pemberhentian di tempat ini sebagai pemberhentian terakhir.

Sesungguhnya bukan pemberhentian ini yang kusesali, tapi waktu yang tersita untuk perjumpaan Indah yang belum juga terealisasi. Jika harus ada kategori salah, maka kesalahanku adalah keyakinan dan cara memandang yang tidak tepat pada realitas diri-Mu.

Disana. Nun jauh di sana. Ada jiwa yang berteriak untuk sebuah permintaan yang hingga kini belum sanggup kupenuhi. Ada harapan lama yang hingga kini juga belum aku sanggup kupatuhi. Apakah perjalanan Jiwa ini akan berhenti pada persembahan tak berarti. pada kemuliaan tanpa bisa dinikamati..?

Aku yakin ada niat suci yang sulit dimengerti, aku juga yakin bahwa kecemasan dan ketakutan-mu lebih disebabkan aku yang tak pernah bisa mengerti. Semestinya sudah sejak lama aku pergi dan meninggalkanmu di sini. sebab itu akan lebih berarti. Bukan termangu atau bersedih hati sambil menatapi cahaya bintang yang akhir-akhir ini enggan menyinari.

Ijinkan aku pergi. Ijinkan aku kembali langkahkan kaki. Jangan tahan langkahku. jangan hentikan gerak ini...


Gerak Jiwa adalahh
1. Mimpi yang akan terus dikejar
2. Keyakinan yang tak akan goyah

Engkau hanyalah batas yang membuat Cinta Sejati, kandas, terhenti bahkan mati.... Maka ijinkan, mulai saat ini untukku pergi dan berlari, sebab ketertinggalan yang menghimpit hati...


Cinta sejati adalah perjalanan panjang yang dituju Jiwa. Maka biarkan ia mengalir apa adanya. Cinta sejati adalah penghargaan pada nilai yang sesunguhnya dari perjalnanan panjang itu...


Jangan berteriak, dan kembali memanggilku sebab langkah ini telah kembali menapak dengan pasti di jalan yang selama ini kuyakini. jangan menyebut namaku dalam gambar-gambar bintang, awan atau hujan atau apapun yang bisa membuatku tertarik bahkan terlempar ke belakang...


Walau sesungguhnya masih ada keyakinan kecil tentangmu yang menjadikanku terbuai dan harus rela hati mengunjungi tamanmu bertemu di terasmu, dan berbincang lirih tentang tema kecil yang tak pernah akan tahu dimana ujungnya...

Kini aku harus kembali melanjutkan perjalanan ini. Berbekal ilmu dan pengalaman berarti. Lebih berhati-hati, lebih harus bisa memahami setiap tanda yang menawarkan pemberhentian. atau mengajak berteduh sesaat saat hujan itu datang.

Aku ingin segera bertemu dengan Sang Kekasih Sejati. Itulah gerak Jiwa yang sesungguhnya. Sesaat lagi kebahagiaan itu akan kumiliki. Sesaat lagi mimpi Indah yang menghiasai malam-malamku selama ini akan terealisasi. Meski tanpa hujan atau tanpa bintang yang kau kagumi.


Dan aku akan berlari untuk ketertinggalan yang lama ini. Di tengah padang kering, tanpa suara, dan di tengah udara senja yang mengoyak dada..



Gerak Jiwa adalah perjalanan saat mula tumbuh rasa pada kedamaian.

Gerak Jiwa adalah tumbuhnya keyakinan pada Sang pemilik sejati
Gerak Jiwa adalah rasa yang semestinya dihargai.


Kisahnya Dimulai Saat----

Rumput padang ilalang di Pinggir Pantai Laut Selatan membawaku terbang pada keabadian dan dunia imaji dan kekuatan maha dahsyat yang tak terjamah manusia. Tentang dunia Mistik yang mengilhami, dunia yang mejadikan pengemabara Sufi taat dan taklidnya untuk dan untuk Sang Pemilik Cinta Sejati.....

Kamis, 14 November 2013

KAPAL TITANIC DI NEGERI SWARNA DWIPA



KISAH TITANIC DI NEGERI 
SWARNA DWIPA[1]
Oleh: Arif Budiman

Sosoknya kini bertenger jelas di mataku yang sesungguhnya sedang sangat lelah. Gadis diam yang matanya tajam menatap hamparan luas laut di selat Sunda itu sedang sangat kupikirkan. Ia yang pertama kulihat keluar mobil dalam kondisi hujan. Ia gadis pecinta hujan itu. Ia sedang sangat nyata di depan mata ini. Selendang Coklat berseling warna ungu yang sering dikenakannya, kini ada di tanganku. Selendang itu tertinggal di kursi dak belakang kapal "Indonesian Fery ASDP".
Malam senin itu, kami telah sampai di Jakarta, kubuka Google Earth, sekedar ingin tahu persisnya wilayah Kotabumi, Lampung Utara. Loading pencarian Google cukup lama. Gambar karakter topografinya belum terlihat. Nampaknya Google Earth belum memiliki photo yang detail tentang wilayah ini. Atau mungkin Google Earth tak mampu menjangkau wilayah yang jauh terpencil ini. 

Jam menunjuk angka 00.00. saat dimana aku lebih ingin membaringkan tubuh ini di atas kasur empuk di rumah sana. Namun malam memaksaku nginap di Sekolah. Pak Yuswanto juga menginap di sekolah. Dalam kondisi lelah itu, sesekali muncul keinginan untuk mengguyur tubuh ini dengan air bak yang dingin di kamar mandi sana. Tapi pertimbangan kesehatan menahanku untuk melakukannya. Berjam-jam di jalan membuat tubuh ini sangat lepek dan tidak nyaman. Hingga malam kian larut, aku belum melakukan apapun kecuali membuka Laptop ini dan mengingati sebuah perjalanan indah pertamaku menuju Sumatra.

Inilah perjalanan pertamaku ke Sumatra itu. Tentu tidak sehebat kawan-kawanku yang berpose saat jalan ke pulau-pulau luar Jawa yang lain, seperti ke Ambon, Kalimantan atau tempat jauh lainnya. Atau pergi ke luar negeri dan berphoto dengan setting menara Eifel di Prancis. Atau Mas Yuki, temen SMA yang berphoto dengan setting bukit salju saat dirinya kunjungan di Australia.
Ini perjalanan ke Sumatra, masih negara sendiri yang mungkin akan dinilai biasa tapi bagiku sangat luar biasa.

Sebagai bukti pernah kesana, sepertinya menjadi keharusan untuk agak sedikit narsis dan berusaha pasang mimik atau pose terbaik di atas kapal Fery, atau sengaja berhenti di taman-taman kota di jalur menuju Lampung Utara. Itulah sebabnya mengapa peran Pak Soiman menjadi sangat sentral untuk mendokumentasikan perjalanan kami  yang sangat special ini.

Kami berempat Saya, Pak Yuswanto, Pak Harjo dan Soiman berangkat dari Jakarta pukul 20.30.
Ini adalah kesempatan yang baik bagi kami. Aku tak banyak tahu Sumatra. Aku hanya tahu kalo disana ada Pak De yang sudah lama bertransmigrasi bahkan sebelum beliau menikah. Anak cucunya kini telah menjadi orang-orang berhasil di sana. Beliau bukan transmigran Lampung, melainkan  yaitu transmigran kabupaten Siak (Riau).

Jam 20.30 adalah waktu yang ditentukan untuk kami berangkat. Pak Yuswanto telah siap dengan mobilnya yang saat aku datang sudah terparkir di halaman Sekolah. Tak berapa lama, Mas Harjo dan Pak Soiman datang. Taka lama, pemberangkatan kami pun dimulai. Saat hendak memasuki pintu Tol, Pak Yuswanto mengatakan "Serius Nih mau Ke Sumatra?" Dengan Nada Canda atau ungkapan yang sesungguhnya ada pada kami yatu betapa pergi keluar pulau adalah sesuatu yang sangat baru. Ada perasaan percaya dan tidak percaya. Artinya perjalanan ke Sumatra ini buat kami sangat spesial.

Mobil telah melaju di Jalur Tol Jakarta Cilegon. Kami telah mantap menuju kesana, merambahi hutan Sumatra. Buat sebagian orang mungkin akan bertanya, apa sih menariknya pergi ke Sumatara?. bagi saya pribadi, ini akan menjadi perjalanan yang akan sangat luar biasa. Belum tentu di waktu lain akan dapati kesempatan yang sama. Makanya aku merasa bersyukur mendapat kesempatan atau ajakan Pak Yuswanto.


Bertahun-tahun dengar istilah Pelabuhan Merak-Bakauheni disebut-sebut, tapi tak pernah melihat secara langsung seperti apa dan bagaimana? Pelabuhan itu menjadi catatan penting bagi saya, karena ini akan menjadi pengalaman baru. Terlebih penyeberangan dari Pelabuhan Merak menuju Bakauheni. Selama ini hanya Jawa, Jakarta atau Bandung. Belum pernah sekalipun menjejakan kaki di bumi Swarna Dwipa.
Apa yang kita dengar ternyata berbeda dengan apa yang kita pikirkan.
Penggambaran apapun bahkan photo dan vidio tak akan mampu menjelaskan secara utuh sebuah realitas (baca: Lampung atau Sumatera), karenanya pertemuan langsung adalah media utama untuk menjelaskan apa yang sesungguhnya. Bahasa, gambar dan photo tidak pernah bisa secara sempurna mewakili apa yang terkandung dalam satu fenomena yang sesungguhnya lebih indah, bahkan kata-kata seringkali gagal mengungkapkan keindahan esensinya.

Kami mulai menyeberang Selat Sunda pada pukul 02.00 pagi. Tak terlalu banyak mobil atau penumpang disana. Setelah mobil di parkir, kami masuk ruang ber-AC, dan tak bisa menikmati laut selat Sunda karena suasana yang masih gelap. Hanya lampu-lampu memancar dari bibir pantai dan juga kapal-kapal yang melintas. Pukul 05.00 kapal merapat di pelabuhan Bakauheni. Seperti di awal sudah saya sampaikan, rasanya dokumentasi Photo tidak boleh dilewatkan. Pak Soiman paling banyak berphoto, kayaknya beliau paling suka berphoto-photo-ria. Dari arah Timur, terbit dengan rona yang sangat Indah, Sang mentari pagi. Sejuk udara pelabuhan seketika memenuhi rongga dada. Subhanallah, betapa Indahnya Pelabuhan Bakauheni di pagi hari. Malamnya kami tertidur dalam kapal, pengin lihat suasana luar juga sia-sia, hanya lampu kapal lain (mercusuar) yang terlihat dan kapal yang bergerak perlahan. Pagi hari pemandangannnya baru terlihat jelas. Sangat Indah. Subhanallah. 

Di arah barat di atas bukit, berdiri maskot kota Lampung yaitu Menara Siger berbentuk topi adat Lampung. Saat kapal bersandar di bumi Sumatra, SAAT ITU JIWA INI MENGEMBARA DI BUMI SWARNADWIPA

Inilah yang yang dinanti. Injakan kaki pertama di bumi Sumatra yang dalam ramalan Jayabaya disebut dengan Swarna Dwipa (artinya Sumatra yang kaya dengan Emas/Makmur). Insya Allah, hakikat Jiwa adalah pengembara, ia akan selalu mencari dan menggapai cita-citanya yang abadi. Bisa jadi Swarna Dwipa dalam perjalanan kali ini adalah jalan dan petunjuk untuk semakin menggapai-Nya. Mencintai-Nya. dan Mengibadahi-Nya. Amin.

“Semoga suatu hari nanti pak Tirta tidak saja menginjakkan di bumi Swarna Dwipa bagian selatan saja tapi juga sampai belahan Swarna Dwipa bagian utara tempat saya tinggal sekarang” Kata seorang Kawan Lama satu jurusan yang kubaca di akun FB.

Begitu ban Mobil menggilas tanah Sumatra dan berhenti untuk Istirahat, sengaja kubuka sepatu sendal dan kubiarkan kulit kaki ini menyentuh langsung Bumi Sumatra yang kaya ini. Di depan kami berhenti, terpampang wajahgagah nan kekar Gunung Rajabasa. Itulah Injakan kakiku yang pertama di Bumi Sumatra.

“Selamat Datang di Bumi Sumatra. Itulah sambutan yang kudengar dari bukit-bukit yang cantik serta tanah yang luas. Juga angin sejuk yang yang berhembus menyapa”.

Sobat, tempat yang kutuju sesungguhnya adalah tempat orang tua pak Yuswanto yang hari itu adalah hari kepulangan Jamaah Haji Kloter Sumatra Selatan (Lampung). Ke sanalah laju mobil yang kutumpaki ini akan menuju. Tempat terpencil, tempat yang hanya ditumbuhi pohon karet, Kelapa Sawit dan Juga Singkong, menghampar sepanjang dan sejauh mata memandang.

Perjalanan panjang kami dari jam 05.30 pelabuhan Bakauheni, menempuhi jalan yang panjang, menanjak dan menuruni bukit Bandar Lampung, pelabuhan pertama Lampung yang kini telah berpindah di bakauheni. Di Bandar lampung pemandangan Pelabuhan tampak begitu Indahnya.


Air bening di pelabuhan Bakauheni begitu indah. Sejuta ikan dan aneka tanaman, kuyakin tersebar di tiap kedalamannya. Hijau warna air memperlihatkan keyakinan itu. Beberapa perahu nelayan kecil terlihat melintas, tentu pagi ini mereka tengah menuju pulang setelah semalaman merambah lautan menjala atau menjaring ikan. Lampu penerang yang digunakannya kulihat masih menyala.

Sesudah merasakan semua keindahan itu, kini aku justru sedang merasakan hal lain yang sangat mendalam. Aku tak bisa membayangkan andai tubuh ini dilempar Tuhan di genangan air tenang dalam itu,,, Apalah artinya diri hamba yang  dipenuhi dosa ini..??

Kata Soiman, "Ini baru secuil Indonesia, tapi keindahannya sangat Luar Biasa. Bagaimana dengan Bumi Indonesia yang lain.??? bagaimana pula dengan Keindahan di seantero dunia?? Subhanallah. Tasbih dan Takbirku sebentar-sebentar tercipta dari mulut ini merasai dan mengagumi karya Cipta-Nya.

Saat kapal mulai bersandar, kami telah ada di luar ruang AC yang kami tempati semalam. Kami nurut dengan apa yang disediakan pak Yuswanto. Kulihat beliau sangat menservis kami. Karya ini juga sekaligus ucapan terimakasih kami kepada beliau. Mudah-mudahan Allah SWT senantiasa memberkahinya. Pak Yuswanto sengaja membayar ruang ber-AC sebab beliau sering mabuk air laut dan tak tahan dengan goyangan kapal. Di bibir kapal, beliau katakan Ini baru ujungnya Indonesia. Dan masih banyak wilayah atau daerah yang lain di Sumatra ini yang kaya. Dan anehnya, negeri yang kaya ini hanya dikuasai oleh orang-orang tertentu, bahkan orang asing. Orang pribumi tak punya akses yang luas untuk memanfaatkan kekayaannya.

Dari tepi pelabuhan Bakauheni, kulihat Gunung Rajabasa bertengger dengan kegagahannya. Dibalut kabut tipis yang dingin memberi kesan kebersahajaan dan kedamaian. Sepanjang jalan dari Bakauheni, kami disuguhi lukisan Indah dan kekayaan melimpah yang menjadikan Pak Harjo bersedia meninggalkan Jakarta dan rela tinggal disana. Pepohonan menghijau, hasil pertanian melimpah ruah, Pohon pisang berjajar, menyajikan kemakmuran bukan kemiskinnan, bukan pula kelaparan sebab tanah yang subur ini siap menumbuhkan segala macam tanaman yang mensejahterakan dan menghidupkan..

Jam 10.30. Di warung sate sederhana, kami berhenti sesaat. Untuk sekedar makan, padahal hari masih pagi, Sepertinya makan itu lebih dikarenakan aku yang tak mau ikut sarapan saat di Bakauheni. Karena seperti biasa aku tak makan pagi. Paling Ngopi atau minum secangkir teh manis ditemani gorengan atau cemilan-cemilan lain sejenisnya.

Sang penjual sate di warung ini ternyata orang Jawa. Sebab saat pak Yuswanto ngobrol dengan Sang Penual menggunakan bahasa Jawa yang sangat fasih. “Dia orang Jawa. Katanya banyak transmigran di Lampung yang berasal dari Jawa. Kebanyakan Jawa Timur. Katanya. “Ohh gitu ya pak. Dan kenyang adalah realitas yang harus diterima. dan perjalanan kami dilanutkan.
Saat di perjalanan, hujan turun, mengingatkanku pada sosok yang selama ini kupikirkan. Rupanya aku terkantuk-kantuk, Tak berapa lama tiba-tiba mobil berhenti dan kulihat sosok Indah yang Diam di depan Mobil sedan warna hitam. Ia hanya diam. Ia tak banyak berbicara. Ia tetap diam. Aku tak bisa lepas dari melihatnya. Aku seperti sangat mengenalnya. Ia yang selalu kupikirkan.

Tiba-tiba bayangan tubuhnya menghilang saat pak Yus membuka dan masuk mobil dan berkata. "Sesaat lagi sampai di Bandar Lampung..!!" Gunung Rajabasa yang kekar itu kini tentu sedang dibekap dingin yang mendalam. Dan aku kehilangan sosoknya. Aku tak bisa memburu dan mengejarnya. Tak beberapa lama, perjalanan ini dilanjutkan.


Dalam perjalanan itu, aku tak bicara. Pikiranku masih tertuju pada sosok diam dan dingin yang beberapa saat lalu kusaksikan. Ia sangat diam, sesekali menitik air mata di tengah hujan yang mengguyurnya. Aku tak tahu apa yang ia renungkan. Ia seperti orang ragu yang menanati sebuah kepastian. Sesekali tatap wajahnya ke arahku dan seuntai harapan memancar darinya. Aku kembali kehilangan dirinya. Bayangannya menjeratku dalam keyakinan insaniah (cinta). Aku terjerat padanya, bahkan sejak rintik hujan mengguyurnya.

Rasa kantuk kadang-kadang menyerang sangat kuat. Padahal aku sudah bilang ke Pak Yuswantoro untuk tidak makan. Tapi beliau memaksa. Dan memang perjalanan masih sangat panjang. Sengaja agar aku tidak ngantuk. Aku ingin tetap terjaga saat pak Yuswantoro lelah dan mengantuk dan siap menggantikannya. Tapi beliau tidak pernah mau digantikan menyupir. Katanya jika bepergian tidak menyetir akan membuatnya mual dan atau muntah. Maka aku hanya menemaninya menjadi navigator.

Hujan masih mengguyur dengan deras saat memasuki wilayah Bandar Lampung. Setting pelabuhan dan deretan bukit yang berbaris sangat Indah, itulah sebabnya deretan pegunungan di Pulau Sumatra ini disebut Bukit Barisan. Bukit yang Elok serta asri. Berbukit dan disana terlihat pembangunan rumah-rumah besar diatas bukit. Pemandangan ini akan menyeretku untuk ingin dan ingin selalu dating ke tempat ini. 
Dan kini aku masih memikirkan Gadis Diam saat rintik hujan mengguyur tubuhnya.

Jam 14.00, kami masih di perjalanan. Jalan panjang lurus bahkan lebih lurus dibandingkan jalan tol Jakarta Cikampek, banyak terlihat dan kutemui sepanjang jalan menuju Lampung Utara. Pak Yuswanto mulai bercerita masa lalunya. Kisah masa yang lalu yang membuatnya ingin tertawa sendiri. Katanya jika ada orang sekarang masih ngeluh dengan keadaannya, itu belum seberapa dengan kondisi dan perjuangan keluarganya dan dirinya saat harus memutuskan untuk pindah ke Lampung utara. Bukan sebagai transmigran yang dijamin pemerintah dengan beragam fasilitas mulai dari rumah sampai tanah yang luasnya ber hektar-hektar.

Saat berbelok di satu tikungan, atau tepatnya pertigaan dan memasuki pintu rel tak berpintu beliau katakan” dulu kami, saya dan Ibu jalan di sepanjang jalan ini. Dan jalannya bukan jalan aspal seperti saat ini. Jalannya masih berbatu. Sembari mengatakan nanti di ujung jalan ini akan saya tunjukkan betapa jauh jalan yang ditempuh untuk hanya menuju kota dan menjual ayam. Dulu selain sebagai petani, keluarganya juga berdagang ayam.

Sepertinya ada kisah lebih pahit yang ia tak mau sampaikan. Akhirnya beliau hanya cerita hal-hal lucu dan heroic di matanya tentang berjuang di tengah hutan Lampung sebab Lampung yang dulu sangat berbeda dengan Lampung yang sekarang. Berjuang dan memulai kehidupan baru di tengah kehidupan para transmigran yang telah memiliki lahan yang luas dan juga unit-unit usaha. Beliau sesungguhnya masih sangat berharap agar kedua orang tuanya dapat kembali ke Jawa.

Saya yakin bukan karena persoalan perbedaan budaya, tapi lebih kepada pertimbangan, bagaimana jika kedua orang tuanya jatuh sakit. Siapa yang akan mengurusnya. Anak-anak dan keluarganya banyak tinggal di Jawa.

Itu aja Mas, saya kepingin saat Ibu atau bapak Sakit, kami juga akan lebih mudah mengurusnya. Di jawa keluarga, adik dan tetangganya banyak. Itu alas an saya mengapa saya bersikeras agar bapak dan Ibu bisa pulang ke Jawa.

“Jadi selesai Haji ini, Bapak mau langsung diboyong ke Jawa”. Kubertanya. 

“Iya tapi bukan waktu-waktu ini. Biarkan urusan-urusannya disini diselesaikan. Katanya melanjutkan. Saat ditanya apa sebenarnya yang melatar belakangi pak Yus dan keluarga harus pindah ke Lampung, apalagi saat itu pak Yus kalo tidak salah baru masuk kuliah semester 1.?

Begini Mas, Kehidupan kami awalnya adalah kehidupan yang diberi karunia nikmat serba kecukupan. Sejak proyek SD bapak bermasalah saat itu, bapak merasa kecewa dan memilih pindah ke Sumatra.” Itu cerita atau penjelasan singkat pak Yuswanto, tapi beliau tidak menjelaskan lebih dalam soal kontrak yang gagal saat pembangunan SD dulu.

Tapi itu biarlah tak sempurna beliau ceritakan masa lalunya. "Yang penting hari ini keluarga kami telah berhasil. Enam Kios besar berjajar. Sebuah minimarket serta beberapa hektar tanah dan kebun karet tentu sangat mencukupi. Ortu pak Yuswanto adalah salah satu orang yang memiliki tanah yang luas berikut Kebon karet dan Sawitnya. Tak heran jika, kedua orang tuanya bisa ikut ber-haji menunaukan Ibadah (rukun Islam) kelima.

Bagi orang Lampung (transmigran), umumnya mendapatkan uang besar itu bukan hal sulit. Hasil panennya mampu untuk membeli sebuah mobil mewah dan lebih dari itu. Terutama para petani yang telah mapan dan lahannya luas. Sayangnya lahan dan kebun kelapa sawit atau kebon karet yang dimiliki tak sedikit telah dikuasai oleh perusahaan-perusahaan asing atau orang Jakarta. Akibatnya penduduk pribumi merasa tidak mendapat apa-apa di tengah kehidupannya sendiri. Tanpa tanah dan tanpa kehidupan yang layak. Ini yang menimbulkan kecemburuan (kerusuhan)

Punggung, pinggul sudah terasa pegal-pegal. Namun rumah yang dituju belum juga terlihat. Masih jauh Pak..?. Tanya pak Soiman di sela. Pak Yuswan hanya menjawab sebentar lagi sampai.

Kayaknya bapak udah bilang kata itu ada 5/6 kali deh pak. Sob pembaca, ini memang perjalanan cukup panjang dan melelahkan. Deretan satuan pemukiman transmigran yang lama telah dilewati. Kini memasuki wilayah atau Satuan-Satuan Pemukiman yang lain yang masih sangat pedalaman. Di sepanjang jalan ini, terlihat hamparan pohon Sawit demikian luasnya, sejauh mata memandang yang ada hanyalah Pohon sawit. Di Kilometer berikutnya, ditemuai kebun karet yang menghampar.

Di areal inilah kami serasa memasuki wilayah pedalaman yang sesungguhnya. Makanya saat Jalan sudah mulai menemui jalan rusak berbatu. Mobil pun harus berjalan pelan untuk mencapai tujuan, aku katakana pada kawan-kawan Guru saat itu. “Petualangan Dimulai” sebab inilah nikmat perjalanan yang sesungguhnya, walau cirri wilayah ini sangat dibenci harjo karena ia tidak tahan dnegan jaan bergelombang dan rusak. Terlebih cerita menyeramkan seperti Begal atau aksi kejahatan yang sangat terkenal di wilayah Lampung.

Aku memandangnya dengan cara berbeda, justru inilah keaslian lampung yang akan tetap diperlukan. Inilah suasana alam yang semdstinya ada dan dilestarikan, agar tidak semua wilayah di negeri Indonesia ini menjadi kota padat dan sumpeg sebagaimana Jakarta. Harus ada tempat alami, yang menopang Jakarta. harus ada tempat alami yang menyegarkan Jiwa..

Kawan, mengertikah bahwa kami tidak akan lama di pemkiman Lampun ini. Esok harinya, kami harus sudah berangkat kembali ke Jakarta. Senin kami harus sudah kembali mengajar. Maka minggu pagi kami berangkat kembali ke Jakarta. Rasa pegal-pegall itu masih terasa, tapi kami memang harus segera kembali ke Jakarta. meninggalkan keheningan dan sepi Pemukiman Lampung utara yang belum semua kami jelajahi.

bahkan pak Yuswanto belum mengajak kami pergi kemana-mana di wilayahnya. Sebab targetnya adalah menyambut kedatangan Orang Tua dari Islamic centre Lampung Utara. Setelah selesai, ya kami pulang. Tapi ini tidak mengurangi rasa ingin tahu kami tentang Lampung atau Sumatra secara umum. kami sangat bangga  dan bahagia dengan perjalanan ini.

To be continued…..

[1] Karya ini saya persembahkan kepada Bapak Supadi, Mpd (Candidat Doctor UPI Bandung) yang telah mengajak kami jalan-jalan di Bumi Swarna Dwipa

Rabu, 06 November 2013

Tak Bisa Menemanimu hari Ini
Oleh: Arif Budiman

Mudah-mudahan harimu bahagia
Mudah-mudahan tak ada sedih
Jikapun tangis harus ada,
Kuharap tangis itu adalah tangis bahagia

Jikapun tangis karena sedih
Bantulah sang pemilik tangis sedih itu untuk lapangkan dada
Sekali lagi, Ini bukan akhir segala-galanya

Selamat untuk hari ini,
Tugasmu kini telah paripurna

Segera hapus air mata itu
dan sambutlah bahagia
karena itu yang semestinya ada

Senin, 18 Maret 2013

KISAH BERSAMA HUJAN

KISAH BERSAMA HUJAN
Oleh: Awaludin Halim

Adalah kisah sangat singkat dari harapan yang sesungguhnya sangat dalam. Kisah semusim yang belum tuntas sebab hujan musim ini masih deras bahkan hingga hari ini. Jika ini kemudian harus diakhirkan, kuharap semerbak bunga yang pernah kuhirup kesegerannya di taman itu tetap segar mewangi.

Walau kutahu sesungguhnya engkau sedang menangis. Tak ada yang melihatmu menangis sebab sang hujan telah membasuh linangan air mata yang membanjiri kulit wajahmu. BUkankah engkau pernah meminta pada sang hujan dan berterimakasih padanya tentang kesejukannya. Juga kesedihannya menghapus laramu tentang masa lalu. Itu yang pernah kau sampaikan padaku.

Itu pula yang membuatku sangat mengagumimu. Saat kata telah terucap adalah busur panah yang menancap sangat kuat di jantung harapan. Bisakah itu dicabut..? rasanya sangat sulit. walau keputusan ini, akan mengakibatkanku kembali menyambut musim kering tahun ini dengan ketiadaan sebagaimana ketiadaan yang mengantarkan kita pada sebuah pertemuan Indah dalam kisah tentang Cinderamata yang tertinggal, saat cinta mulai tumbuh bersemi untuk saat yang pertama.

Sebentar lagi musim hujan akan berlalu, utara menggoyang ingatan kita. Seolah menjadi batas bagi kisah singkat yang belum ketemu klimaksnya. Kisah singkat yang baru saja kuberi judul. “Kisah Bersama Hujan" karena hujan adalah kawan sejati yang selalu menemani setiap bicara dan diskusi kecil kita di satu malam yang sepi, saat kita mencoba membaca dan saling memahami. Senyatanya aku sering merasa gagal, namun aku pernah merasa sangat berhasil memahami-Mu.

Sesungguhnya hujan adalah kawan setia dan juga energi ksejukan yang bertiup kuat dalam kesehaian kita. Hingga tak ada kekeringan sebagaimana kekeringan di musim kemarau yang kerontang.

Kisah Bersama Hujan, adalah keinginan yang sangat kuat. Ketulusan yang ingin diwujudkan. Kesetian yang ingin dibutikan. Keyakinan yang satu. Di saat kehancuran dan kegetiran pada tiadanya rasa setia.  Tiadanya percaya. dan pembuktian bahwa masih ada yang ingin berusaha setia.

Kisah Bersama Hujan, adalah bagian dari pembuktian itu, walau ternyata hanya terjadi pda sepanjang musim ini. Sesudahnya haruskah diakhiri..??

Meski untuk itu kisah ini hanya akan menjadi penggalan-penggalan cerpen yang terserak yang memenuhi dinding-dinding kesendirianmu. Sesungguhnya ia adalah mahakarya dari narasi Besar bernama "Keyakinan…!!!!!"..

Kisah Bersama Hujan, adalah proses pembuktian tentang keyakinan...!!

Cari Blog Ini