Kamis, 14 November 2013

KAPAL TITANIC DI NEGERI SWARNA DWIPA



KISAH TITANIC DI NEGERI 
SWARNA DWIPA[1]
Oleh: Arif Budiman

Sosoknya kini bertenger jelas di mataku yang sesungguhnya sedang sangat lelah. Gadis diam yang matanya tajam menatap hamparan luas laut di selat Sunda itu sedang sangat kupikirkan. Ia yang pertama kulihat keluar mobil dalam kondisi hujan. Ia gadis pecinta hujan itu. Ia sedang sangat nyata di depan mata ini. Selendang Coklat berseling warna ungu yang sering dikenakannya, kini ada di tanganku. Selendang itu tertinggal di kursi dak belakang kapal "Indonesian Fery ASDP".
Malam senin itu, kami telah sampai di Jakarta, kubuka Google Earth, sekedar ingin tahu persisnya wilayah Kotabumi, Lampung Utara. Loading pencarian Google cukup lama. Gambar karakter topografinya belum terlihat. Nampaknya Google Earth belum memiliki photo yang detail tentang wilayah ini. Atau mungkin Google Earth tak mampu menjangkau wilayah yang jauh terpencil ini. 

Jam menunjuk angka 00.00. saat dimana aku lebih ingin membaringkan tubuh ini di atas kasur empuk di rumah sana. Namun malam memaksaku nginap di Sekolah. Pak Yuswanto juga menginap di sekolah. Dalam kondisi lelah itu, sesekali muncul keinginan untuk mengguyur tubuh ini dengan air bak yang dingin di kamar mandi sana. Tapi pertimbangan kesehatan menahanku untuk melakukannya. Berjam-jam di jalan membuat tubuh ini sangat lepek dan tidak nyaman. Hingga malam kian larut, aku belum melakukan apapun kecuali membuka Laptop ini dan mengingati sebuah perjalanan indah pertamaku menuju Sumatra.

Inilah perjalanan pertamaku ke Sumatra itu. Tentu tidak sehebat kawan-kawanku yang berpose saat jalan ke pulau-pulau luar Jawa yang lain, seperti ke Ambon, Kalimantan atau tempat jauh lainnya. Atau pergi ke luar negeri dan berphoto dengan setting menara Eifel di Prancis. Atau Mas Yuki, temen SMA yang berphoto dengan setting bukit salju saat dirinya kunjungan di Australia.
Ini perjalanan ke Sumatra, masih negara sendiri yang mungkin akan dinilai biasa tapi bagiku sangat luar biasa.

Sebagai bukti pernah kesana, sepertinya menjadi keharusan untuk agak sedikit narsis dan berusaha pasang mimik atau pose terbaik di atas kapal Fery, atau sengaja berhenti di taman-taman kota di jalur menuju Lampung Utara. Itulah sebabnya mengapa peran Pak Soiman menjadi sangat sentral untuk mendokumentasikan perjalanan kami  yang sangat special ini.

Kami berempat Saya, Pak Yuswanto, Pak Harjo dan Soiman berangkat dari Jakarta pukul 20.30.
Ini adalah kesempatan yang baik bagi kami. Aku tak banyak tahu Sumatra. Aku hanya tahu kalo disana ada Pak De yang sudah lama bertransmigrasi bahkan sebelum beliau menikah. Anak cucunya kini telah menjadi orang-orang berhasil di sana. Beliau bukan transmigran Lampung, melainkan  yaitu transmigran kabupaten Siak (Riau).

Jam 20.30 adalah waktu yang ditentukan untuk kami berangkat. Pak Yuswanto telah siap dengan mobilnya yang saat aku datang sudah terparkir di halaman Sekolah. Tak berapa lama, Mas Harjo dan Pak Soiman datang. Taka lama, pemberangkatan kami pun dimulai. Saat hendak memasuki pintu Tol, Pak Yuswanto mengatakan "Serius Nih mau Ke Sumatra?" Dengan Nada Canda atau ungkapan yang sesungguhnya ada pada kami yatu betapa pergi keluar pulau adalah sesuatu yang sangat baru. Ada perasaan percaya dan tidak percaya. Artinya perjalanan ke Sumatra ini buat kami sangat spesial.

Mobil telah melaju di Jalur Tol Jakarta Cilegon. Kami telah mantap menuju kesana, merambahi hutan Sumatra. Buat sebagian orang mungkin akan bertanya, apa sih menariknya pergi ke Sumatara?. bagi saya pribadi, ini akan menjadi perjalanan yang akan sangat luar biasa. Belum tentu di waktu lain akan dapati kesempatan yang sama. Makanya aku merasa bersyukur mendapat kesempatan atau ajakan Pak Yuswanto.


Bertahun-tahun dengar istilah Pelabuhan Merak-Bakauheni disebut-sebut, tapi tak pernah melihat secara langsung seperti apa dan bagaimana? Pelabuhan itu menjadi catatan penting bagi saya, karena ini akan menjadi pengalaman baru. Terlebih penyeberangan dari Pelabuhan Merak menuju Bakauheni. Selama ini hanya Jawa, Jakarta atau Bandung. Belum pernah sekalipun menjejakan kaki di bumi Swarna Dwipa.
Apa yang kita dengar ternyata berbeda dengan apa yang kita pikirkan.
Penggambaran apapun bahkan photo dan vidio tak akan mampu menjelaskan secara utuh sebuah realitas (baca: Lampung atau Sumatera), karenanya pertemuan langsung adalah media utama untuk menjelaskan apa yang sesungguhnya. Bahasa, gambar dan photo tidak pernah bisa secara sempurna mewakili apa yang terkandung dalam satu fenomena yang sesungguhnya lebih indah, bahkan kata-kata seringkali gagal mengungkapkan keindahan esensinya.

Kami mulai menyeberang Selat Sunda pada pukul 02.00 pagi. Tak terlalu banyak mobil atau penumpang disana. Setelah mobil di parkir, kami masuk ruang ber-AC, dan tak bisa menikmati laut selat Sunda karena suasana yang masih gelap. Hanya lampu-lampu memancar dari bibir pantai dan juga kapal-kapal yang melintas. Pukul 05.00 kapal merapat di pelabuhan Bakauheni. Seperti di awal sudah saya sampaikan, rasanya dokumentasi Photo tidak boleh dilewatkan. Pak Soiman paling banyak berphoto, kayaknya beliau paling suka berphoto-photo-ria. Dari arah Timur, terbit dengan rona yang sangat Indah, Sang mentari pagi. Sejuk udara pelabuhan seketika memenuhi rongga dada. Subhanallah, betapa Indahnya Pelabuhan Bakauheni di pagi hari. Malamnya kami tertidur dalam kapal, pengin lihat suasana luar juga sia-sia, hanya lampu kapal lain (mercusuar) yang terlihat dan kapal yang bergerak perlahan. Pagi hari pemandangannnya baru terlihat jelas. Sangat Indah. Subhanallah. 

Di arah barat di atas bukit, berdiri maskot kota Lampung yaitu Menara Siger berbentuk topi adat Lampung. Saat kapal bersandar di bumi Sumatra, SAAT ITU JIWA INI MENGEMBARA DI BUMI SWARNADWIPA

Inilah yang yang dinanti. Injakan kaki pertama di bumi Sumatra yang dalam ramalan Jayabaya disebut dengan Swarna Dwipa (artinya Sumatra yang kaya dengan Emas/Makmur). Insya Allah, hakikat Jiwa adalah pengembara, ia akan selalu mencari dan menggapai cita-citanya yang abadi. Bisa jadi Swarna Dwipa dalam perjalanan kali ini adalah jalan dan petunjuk untuk semakin menggapai-Nya. Mencintai-Nya. dan Mengibadahi-Nya. Amin.

“Semoga suatu hari nanti pak Tirta tidak saja menginjakkan di bumi Swarna Dwipa bagian selatan saja tapi juga sampai belahan Swarna Dwipa bagian utara tempat saya tinggal sekarang” Kata seorang Kawan Lama satu jurusan yang kubaca di akun FB.

Begitu ban Mobil menggilas tanah Sumatra dan berhenti untuk Istirahat, sengaja kubuka sepatu sendal dan kubiarkan kulit kaki ini menyentuh langsung Bumi Sumatra yang kaya ini. Di depan kami berhenti, terpampang wajahgagah nan kekar Gunung Rajabasa. Itulah Injakan kakiku yang pertama di Bumi Sumatra.

“Selamat Datang di Bumi Sumatra. Itulah sambutan yang kudengar dari bukit-bukit yang cantik serta tanah yang luas. Juga angin sejuk yang yang berhembus menyapa”.

Sobat, tempat yang kutuju sesungguhnya adalah tempat orang tua pak Yuswanto yang hari itu adalah hari kepulangan Jamaah Haji Kloter Sumatra Selatan (Lampung). Ke sanalah laju mobil yang kutumpaki ini akan menuju. Tempat terpencil, tempat yang hanya ditumbuhi pohon karet, Kelapa Sawit dan Juga Singkong, menghampar sepanjang dan sejauh mata memandang.

Perjalanan panjang kami dari jam 05.30 pelabuhan Bakauheni, menempuhi jalan yang panjang, menanjak dan menuruni bukit Bandar Lampung, pelabuhan pertama Lampung yang kini telah berpindah di bakauheni. Di Bandar lampung pemandangan Pelabuhan tampak begitu Indahnya.


Air bening di pelabuhan Bakauheni begitu indah. Sejuta ikan dan aneka tanaman, kuyakin tersebar di tiap kedalamannya. Hijau warna air memperlihatkan keyakinan itu. Beberapa perahu nelayan kecil terlihat melintas, tentu pagi ini mereka tengah menuju pulang setelah semalaman merambah lautan menjala atau menjaring ikan. Lampu penerang yang digunakannya kulihat masih menyala.

Sesudah merasakan semua keindahan itu, kini aku justru sedang merasakan hal lain yang sangat mendalam. Aku tak bisa membayangkan andai tubuh ini dilempar Tuhan di genangan air tenang dalam itu,,, Apalah artinya diri hamba yang  dipenuhi dosa ini..??

Kata Soiman, "Ini baru secuil Indonesia, tapi keindahannya sangat Luar Biasa. Bagaimana dengan Bumi Indonesia yang lain.??? bagaimana pula dengan Keindahan di seantero dunia?? Subhanallah. Tasbih dan Takbirku sebentar-sebentar tercipta dari mulut ini merasai dan mengagumi karya Cipta-Nya.

Saat kapal mulai bersandar, kami telah ada di luar ruang AC yang kami tempati semalam. Kami nurut dengan apa yang disediakan pak Yuswanto. Kulihat beliau sangat menservis kami. Karya ini juga sekaligus ucapan terimakasih kami kepada beliau. Mudah-mudahan Allah SWT senantiasa memberkahinya. Pak Yuswanto sengaja membayar ruang ber-AC sebab beliau sering mabuk air laut dan tak tahan dengan goyangan kapal. Di bibir kapal, beliau katakan Ini baru ujungnya Indonesia. Dan masih banyak wilayah atau daerah yang lain di Sumatra ini yang kaya. Dan anehnya, negeri yang kaya ini hanya dikuasai oleh orang-orang tertentu, bahkan orang asing. Orang pribumi tak punya akses yang luas untuk memanfaatkan kekayaannya.

Dari tepi pelabuhan Bakauheni, kulihat Gunung Rajabasa bertengger dengan kegagahannya. Dibalut kabut tipis yang dingin memberi kesan kebersahajaan dan kedamaian. Sepanjang jalan dari Bakauheni, kami disuguhi lukisan Indah dan kekayaan melimpah yang menjadikan Pak Harjo bersedia meninggalkan Jakarta dan rela tinggal disana. Pepohonan menghijau, hasil pertanian melimpah ruah, Pohon pisang berjajar, menyajikan kemakmuran bukan kemiskinnan, bukan pula kelaparan sebab tanah yang subur ini siap menumbuhkan segala macam tanaman yang mensejahterakan dan menghidupkan..

Jam 10.30. Di warung sate sederhana, kami berhenti sesaat. Untuk sekedar makan, padahal hari masih pagi, Sepertinya makan itu lebih dikarenakan aku yang tak mau ikut sarapan saat di Bakauheni. Karena seperti biasa aku tak makan pagi. Paling Ngopi atau minum secangkir teh manis ditemani gorengan atau cemilan-cemilan lain sejenisnya.

Sang penjual sate di warung ini ternyata orang Jawa. Sebab saat pak Yuswanto ngobrol dengan Sang Penual menggunakan bahasa Jawa yang sangat fasih. “Dia orang Jawa. Katanya banyak transmigran di Lampung yang berasal dari Jawa. Kebanyakan Jawa Timur. Katanya. “Ohh gitu ya pak. Dan kenyang adalah realitas yang harus diterima. dan perjalanan kami dilanutkan.
Saat di perjalanan, hujan turun, mengingatkanku pada sosok yang selama ini kupikirkan. Rupanya aku terkantuk-kantuk, Tak berapa lama tiba-tiba mobil berhenti dan kulihat sosok Indah yang Diam di depan Mobil sedan warna hitam. Ia hanya diam. Ia tak banyak berbicara. Ia tetap diam. Aku tak bisa lepas dari melihatnya. Aku seperti sangat mengenalnya. Ia yang selalu kupikirkan.

Tiba-tiba bayangan tubuhnya menghilang saat pak Yus membuka dan masuk mobil dan berkata. "Sesaat lagi sampai di Bandar Lampung..!!" Gunung Rajabasa yang kekar itu kini tentu sedang dibekap dingin yang mendalam. Dan aku kehilangan sosoknya. Aku tak bisa memburu dan mengejarnya. Tak beberapa lama, perjalanan ini dilanjutkan.


Dalam perjalanan itu, aku tak bicara. Pikiranku masih tertuju pada sosok diam dan dingin yang beberapa saat lalu kusaksikan. Ia sangat diam, sesekali menitik air mata di tengah hujan yang mengguyurnya. Aku tak tahu apa yang ia renungkan. Ia seperti orang ragu yang menanati sebuah kepastian. Sesekali tatap wajahnya ke arahku dan seuntai harapan memancar darinya. Aku kembali kehilangan dirinya. Bayangannya menjeratku dalam keyakinan insaniah (cinta). Aku terjerat padanya, bahkan sejak rintik hujan mengguyurnya.

Rasa kantuk kadang-kadang menyerang sangat kuat. Padahal aku sudah bilang ke Pak Yuswantoro untuk tidak makan. Tapi beliau memaksa. Dan memang perjalanan masih sangat panjang. Sengaja agar aku tidak ngantuk. Aku ingin tetap terjaga saat pak Yuswantoro lelah dan mengantuk dan siap menggantikannya. Tapi beliau tidak pernah mau digantikan menyupir. Katanya jika bepergian tidak menyetir akan membuatnya mual dan atau muntah. Maka aku hanya menemaninya menjadi navigator.

Hujan masih mengguyur dengan deras saat memasuki wilayah Bandar Lampung. Setting pelabuhan dan deretan bukit yang berbaris sangat Indah, itulah sebabnya deretan pegunungan di Pulau Sumatra ini disebut Bukit Barisan. Bukit yang Elok serta asri. Berbukit dan disana terlihat pembangunan rumah-rumah besar diatas bukit. Pemandangan ini akan menyeretku untuk ingin dan ingin selalu dating ke tempat ini. 
Dan kini aku masih memikirkan Gadis Diam saat rintik hujan mengguyur tubuhnya.

Jam 14.00, kami masih di perjalanan. Jalan panjang lurus bahkan lebih lurus dibandingkan jalan tol Jakarta Cikampek, banyak terlihat dan kutemui sepanjang jalan menuju Lampung Utara. Pak Yuswanto mulai bercerita masa lalunya. Kisah masa yang lalu yang membuatnya ingin tertawa sendiri. Katanya jika ada orang sekarang masih ngeluh dengan keadaannya, itu belum seberapa dengan kondisi dan perjuangan keluarganya dan dirinya saat harus memutuskan untuk pindah ke Lampung utara. Bukan sebagai transmigran yang dijamin pemerintah dengan beragam fasilitas mulai dari rumah sampai tanah yang luasnya ber hektar-hektar.

Saat berbelok di satu tikungan, atau tepatnya pertigaan dan memasuki pintu rel tak berpintu beliau katakan” dulu kami, saya dan Ibu jalan di sepanjang jalan ini. Dan jalannya bukan jalan aspal seperti saat ini. Jalannya masih berbatu. Sembari mengatakan nanti di ujung jalan ini akan saya tunjukkan betapa jauh jalan yang ditempuh untuk hanya menuju kota dan menjual ayam. Dulu selain sebagai petani, keluarganya juga berdagang ayam.

Sepertinya ada kisah lebih pahit yang ia tak mau sampaikan. Akhirnya beliau hanya cerita hal-hal lucu dan heroic di matanya tentang berjuang di tengah hutan Lampung sebab Lampung yang dulu sangat berbeda dengan Lampung yang sekarang. Berjuang dan memulai kehidupan baru di tengah kehidupan para transmigran yang telah memiliki lahan yang luas dan juga unit-unit usaha. Beliau sesungguhnya masih sangat berharap agar kedua orang tuanya dapat kembali ke Jawa.

Saya yakin bukan karena persoalan perbedaan budaya, tapi lebih kepada pertimbangan, bagaimana jika kedua orang tuanya jatuh sakit. Siapa yang akan mengurusnya. Anak-anak dan keluarganya banyak tinggal di Jawa.

Itu aja Mas, saya kepingin saat Ibu atau bapak Sakit, kami juga akan lebih mudah mengurusnya. Di jawa keluarga, adik dan tetangganya banyak. Itu alas an saya mengapa saya bersikeras agar bapak dan Ibu bisa pulang ke Jawa.

“Jadi selesai Haji ini, Bapak mau langsung diboyong ke Jawa”. Kubertanya. 

“Iya tapi bukan waktu-waktu ini. Biarkan urusan-urusannya disini diselesaikan. Katanya melanjutkan. Saat ditanya apa sebenarnya yang melatar belakangi pak Yus dan keluarga harus pindah ke Lampung, apalagi saat itu pak Yus kalo tidak salah baru masuk kuliah semester 1.?

Begini Mas, Kehidupan kami awalnya adalah kehidupan yang diberi karunia nikmat serba kecukupan. Sejak proyek SD bapak bermasalah saat itu, bapak merasa kecewa dan memilih pindah ke Sumatra.” Itu cerita atau penjelasan singkat pak Yuswanto, tapi beliau tidak menjelaskan lebih dalam soal kontrak yang gagal saat pembangunan SD dulu.

Tapi itu biarlah tak sempurna beliau ceritakan masa lalunya. "Yang penting hari ini keluarga kami telah berhasil. Enam Kios besar berjajar. Sebuah minimarket serta beberapa hektar tanah dan kebun karet tentu sangat mencukupi. Ortu pak Yuswanto adalah salah satu orang yang memiliki tanah yang luas berikut Kebon karet dan Sawitnya. Tak heran jika, kedua orang tuanya bisa ikut ber-haji menunaukan Ibadah (rukun Islam) kelima.

Bagi orang Lampung (transmigran), umumnya mendapatkan uang besar itu bukan hal sulit. Hasil panennya mampu untuk membeli sebuah mobil mewah dan lebih dari itu. Terutama para petani yang telah mapan dan lahannya luas. Sayangnya lahan dan kebun kelapa sawit atau kebon karet yang dimiliki tak sedikit telah dikuasai oleh perusahaan-perusahaan asing atau orang Jakarta. Akibatnya penduduk pribumi merasa tidak mendapat apa-apa di tengah kehidupannya sendiri. Tanpa tanah dan tanpa kehidupan yang layak. Ini yang menimbulkan kecemburuan (kerusuhan)

Punggung, pinggul sudah terasa pegal-pegal. Namun rumah yang dituju belum juga terlihat. Masih jauh Pak..?. Tanya pak Soiman di sela. Pak Yuswan hanya menjawab sebentar lagi sampai.

Kayaknya bapak udah bilang kata itu ada 5/6 kali deh pak. Sob pembaca, ini memang perjalanan cukup panjang dan melelahkan. Deretan satuan pemukiman transmigran yang lama telah dilewati. Kini memasuki wilayah atau Satuan-Satuan Pemukiman yang lain yang masih sangat pedalaman. Di sepanjang jalan ini, terlihat hamparan pohon Sawit demikian luasnya, sejauh mata memandang yang ada hanyalah Pohon sawit. Di Kilometer berikutnya, ditemuai kebun karet yang menghampar.

Di areal inilah kami serasa memasuki wilayah pedalaman yang sesungguhnya. Makanya saat Jalan sudah mulai menemui jalan rusak berbatu. Mobil pun harus berjalan pelan untuk mencapai tujuan, aku katakana pada kawan-kawan Guru saat itu. “Petualangan Dimulai” sebab inilah nikmat perjalanan yang sesungguhnya, walau cirri wilayah ini sangat dibenci harjo karena ia tidak tahan dnegan jaan bergelombang dan rusak. Terlebih cerita menyeramkan seperti Begal atau aksi kejahatan yang sangat terkenal di wilayah Lampung.

Aku memandangnya dengan cara berbeda, justru inilah keaslian lampung yang akan tetap diperlukan. Inilah suasana alam yang semdstinya ada dan dilestarikan, agar tidak semua wilayah di negeri Indonesia ini menjadi kota padat dan sumpeg sebagaimana Jakarta. Harus ada tempat alami, yang menopang Jakarta. harus ada tempat alami yang menyegarkan Jiwa..

Kawan, mengertikah bahwa kami tidak akan lama di pemkiman Lampun ini. Esok harinya, kami harus sudah berangkat kembali ke Jakarta. Senin kami harus sudah kembali mengajar. Maka minggu pagi kami berangkat kembali ke Jakarta. Rasa pegal-pegall itu masih terasa, tapi kami memang harus segera kembali ke Jakarta. meninggalkan keheningan dan sepi Pemukiman Lampung utara yang belum semua kami jelajahi.

bahkan pak Yuswanto belum mengajak kami pergi kemana-mana di wilayahnya. Sebab targetnya adalah menyambut kedatangan Orang Tua dari Islamic centre Lampung Utara. Setelah selesai, ya kami pulang. Tapi ini tidak mengurangi rasa ingin tahu kami tentang Lampung atau Sumatra secara umum. kami sangat bangga  dan bahagia dengan perjalanan ini.

To be continued…..

[1] Karya ini saya persembahkan kepada Bapak Supadi, Mpd (Candidat Doctor UPI Bandung) yang telah mengajak kami jalan-jalan di Bumi Swarna Dwipa

Rabu, 06 November 2013

Tak Bisa Menemanimu hari Ini
Oleh: Arif Budiman

Mudah-mudahan harimu bahagia
Mudah-mudahan tak ada sedih
Jikapun tangis harus ada,
Kuharap tangis itu adalah tangis bahagia

Jikapun tangis karena sedih
Bantulah sang pemilik tangis sedih itu untuk lapangkan dada
Sekali lagi, Ini bukan akhir segala-galanya

Selamat untuk hari ini,
Tugasmu kini telah paripurna

Segera hapus air mata itu
dan sambutlah bahagia
karena itu yang semestinya ada

Senin, 18 Maret 2013

KISAH BERSAMA HUJAN

KISAH BERSAMA HUJAN
Oleh: Awaludin Halim

Adalah kisah sangat singkat dari harapan yang sesungguhnya sangat dalam. Kisah semusim yang belum tuntas sebab hujan musim ini masih deras bahkan hingga hari ini. Jika ini kemudian harus diakhirkan, kuharap semerbak bunga yang pernah kuhirup kesegerannya di taman itu tetap segar mewangi.

Walau kutahu sesungguhnya engkau sedang menangis. Tak ada yang melihatmu menangis sebab sang hujan telah membasuh linangan air mata yang membanjiri kulit wajahmu. BUkankah engkau pernah meminta pada sang hujan dan berterimakasih padanya tentang kesejukannya. Juga kesedihannya menghapus laramu tentang masa lalu. Itu yang pernah kau sampaikan padaku.

Itu pula yang membuatku sangat mengagumimu. Saat kata telah terucap adalah busur panah yang menancap sangat kuat di jantung harapan. Bisakah itu dicabut..? rasanya sangat sulit. walau keputusan ini, akan mengakibatkanku kembali menyambut musim kering tahun ini dengan ketiadaan sebagaimana ketiadaan yang mengantarkan kita pada sebuah pertemuan Indah dalam kisah tentang Cinderamata yang tertinggal, saat cinta mulai tumbuh bersemi untuk saat yang pertama.

Sebentar lagi musim hujan akan berlalu, utara menggoyang ingatan kita. Seolah menjadi batas bagi kisah singkat yang belum ketemu klimaksnya. Kisah singkat yang baru saja kuberi judul. “Kisah Bersama Hujan" karena hujan adalah kawan sejati yang selalu menemani setiap bicara dan diskusi kecil kita di satu malam yang sepi, saat kita mencoba membaca dan saling memahami. Senyatanya aku sering merasa gagal, namun aku pernah merasa sangat berhasil memahami-Mu.

Sesungguhnya hujan adalah kawan setia dan juga energi ksejukan yang bertiup kuat dalam kesehaian kita. Hingga tak ada kekeringan sebagaimana kekeringan di musim kemarau yang kerontang.

Kisah Bersama Hujan, adalah keinginan yang sangat kuat. Ketulusan yang ingin diwujudkan. Kesetian yang ingin dibutikan. Keyakinan yang satu. Di saat kehancuran dan kegetiran pada tiadanya rasa setia.  Tiadanya percaya. dan pembuktian bahwa masih ada yang ingin berusaha setia.

Kisah Bersama Hujan, adalah bagian dari pembuktian itu, walau ternyata hanya terjadi pda sepanjang musim ini. Sesudahnya haruskah diakhiri..??

Meski untuk itu kisah ini hanya akan menjadi penggalan-penggalan cerpen yang terserak yang memenuhi dinding-dinding kesendirianmu. Sesungguhnya ia adalah mahakarya dari narasi Besar bernama "Keyakinan…!!!!!"..

Kisah Bersama Hujan, adalah proses pembuktian tentang keyakinan...!!

Senin, 31 Desember 2012

EKSISTENSI MENTAL



EKSISTENSI MENTAL
(Dari Ontology ke Epistimologi)
Oleh: Arif Budiman[1]

Sejauh ini belum ada klarifikasi memuaskan tentang relasi antara penjelasan wujud dalam kaitannya untuk menjelaskan eksistensi Tuhan. Di masa Suhrawardi, pembahasan ini menjadi sangat elitis dan terkesan hanya dimiliki atau dipunyai oleh kaum atau kelompok terpelajar saja[2]. Padahal Persoalan eksistensi atau keberadaan Tuhan adalah realitas tunggal yang melampaui dan mengatasi semua persoalan yang ada di dalam kehidupan manusia. Sehingga dalam hal ini sangat wajar jika pada akhirnya yang terjadi adalah muncul persoalan  ketuhanan sebab tiap bagian menyatakan sebagai entitas sendiri dan mengakui otoritasnya sebagai yang paling benar. Secara pribadi saya ingin membuat argumentasi ini agar tidak ada rantai yang terputus (Missing Link). Karenya penjelasan ontologis dan kesadaran pada aspek ontologism ini menjadi sangat penting, dan sesudah itu tetap ada baiknya dan menjelaskan epistimologis.
Tinjauan Sejarah
Perjalanan filsafat Islam atau filsafat memasuki dunia Islam adalah sebuah realitas yang tak terelakan saat filsafat datang yang dibawa oleh proses kebudayaan (sebuat saja helenisme). Saya kira pada masa inilah persentuhan budaya itu mulai terjadi. Sebagai suatu cara berpikir, tentu bukan sesuatu yang salah jika keberadaannya menarik untuk dipakai atau  digunakan. Suhrawardi yang Plato atau Hikmah Mutaaliya yang Plotinus.  Filsafat pada awalnya sangat concern dengan tema-tema yang sangat ontologism, seiring perkembangannya, filsafat menjauh dari tema ontologis.
Wajibul Wujud oleh barat disebut dengan being. Sehingga pembahasan tema ini sangat ontology. Kenapa ada wujud..? Pertanyaan ini sesungguhnya berangkat dari kenyataan pada pertanyaan akan ada yang sesungguhnya. Realitas. Sama pertanyaan para filosof pertama yang bertanya siapakah yang hakikat. Siapakah ada yang pertama. Sejak saat inilah pertanyaan tentang ada ontologis ini sangat penting.
Seluruh argumentasi ini berujung pada pembuktian akan eksistensi Tuhan. Wujud zihni adalah mata rantai yang terputus itu dan luput dalam kajian filsafat empirisisme sebab ketiadaan dan pengingkaran paa realitas mental.
Pertama dalam makalah ini saya ingin memberikan definisi umum tentang eksistensi mental. Eksistensi Mental adalah suatu hal yang universal, apakah konsep atau penghakiman, yang dibuat dalam pikiran, dan, seperti yang kita tahu, adalah eksistensi abstrak, namun, karena tidak memiliki eksistensi di dunia luar, melainkan ada di tempat lain, yaitu, di pikiran.
            Masalah eksistensi mental yang memiliki dua aspek. Di satu sisi, ia memiliki dimensi ontologis, karena merupakan semacam eksistensi yang telah melemah untuk sebagian besar dan kehilangan fitur dan efek dari eksistensi eksternal. Namun, pada gilirannya sendiri - dan tidak bertentangan dengan eksistensi eksternal - itu adalah eksistensi eksternal (sejak manusia dan jiwa dan pikiran memiliki seperti sebuah eksistensi), namun, ketika kontras dengan ada eksternal objektif, hal itu disebut jiwa eksistensi.
Di sisi lain, masalah ini merupakan salah satu epistemologis dan berhubungan dengan pembentukan pengetahuan dan kesadaran manusia dan hubungannya dengan dunia luar.
Masalah eksistensi mental dapat dilihat sebagai penghubung antara ontologi dan epistemologi, memperjelas hubungan antara manusia dan dunia. Isu korespondensi antara dunia luar dan pikiran ini diajukan dan dianalisis dalam bagian ini. Kebanyakan filsuf Muslim percaya bahwa apa yang terbentuk dalam pikiran adalah intisari atau hakekat daripada gambar, sehingga jika suatu hakekat mengacu pada ada eksternal dan, pada kenyataannya, termasuk kategori pengetahuan, itu akan menjadi sama dengan hakekat dari obyek eksternal yang telah ditransfer ke pikiran tanpa adanya tujuan dan efek eksternal
Mulla Sadra membuktikan bahwa perseptor, obyek mental yang dirasakan, dan pengetahuan, itu sendiri, adalah sama dan satu. Saat ia, dirinya sendiri, mengatakan, 'intelek, subjek, dan dipahami' 'pengetahuan, mengetahui, dan langsung dikenal (subjek)', atau dalam kesatuan dengan satu sama lain. Masalah ini dikenal sebagai 'kesatuan intelek, cerdas, dan dipahami'.
Ibn-Sina dan sekelompok filsuf Peripatetik tidak setuju dengan teori ini, karena, menurut mereka, tidak ada metode rasional dan demonstratif untuk membuktikan hal itu. Akhirnya, Mulla Sadra menemukannya mulai mempelajarinya, dan dalam perjalanan dari wahyu yang ia terima selama periode nya praktek asketis di pinggiran kota Qum (dalam 1.037 AH, ketika ia berusia 58 tahun), ia menemukan argumen terkait dan, mengikuti pendekatan filosofis serta membuktikan teorinya
Dalam rangka untuk memahami argumen Mulla Sadra dalam hal ini, yang pertama harus memahami arti dari 'kesatuan' (Ittihad). Jelas, persatuan dalam arti memiliki dua Existent yang berbeda, objek, konsep, atau quiddities menjadi satu tidak mungkin dan tidak masuk akal. Jelas, dua hal yang terpisah atau dua konsep bertentangan selalu dua hal dan tidak akan pernah menjadi satu. Ini adalah keberatan yang sama dari Ibn-Sina dan lain-lain menguat terhadap masalah ini, karena mereka menganggap bahwa persatuan antara cerdas dan dimengerti adalah dari jenis ini
            Dalam rangka untuk memahami argumen Mulla Sadra dalam hal ini, yang pertama harus  dipahami adalah kesatuan (Ittihad). Jelas, persatuan dalam arti memiliki dua Existent yang berbeda, objek, konsep, atau quiddities menjadi satu tidak mungkin dan tidak masuk akal. Jelas, dua hal yang terpisah atau dua konsep bertentangan selalu dua hal dan tidak akan pernah menjadi satu. Ini adalah keberatan yang sama dari Ibn-Sina dan lain-lain menguat terhadap masalah ini, karena mereka menganggap bahwa persatuan antara cerdas dan dimengerti adalah dari jenis ini
Mulla Sadra percaya bahwa persepsi rasa memiliki tahapan yang berbeda: Tahap Pertama: Tahap ini terdiri dari refleksi dari fakta-fakta eksternal oleh panca indera. Dia conceives tahap ini sebagai efek dan refleksi dari sebuah gambar pada fotografi negatif, dan mempertahankan bahwa itu terlalu sempurna dan rendah untuk disebut persepsi dan menghasilkan pengetahuan bagi manusia. Tahap ini terdiri dari serangkaian kode-seperti sinyal yang membuat gambar samar di otak (dan dalam kata-kata filsuf awal ', dalam arti umum).
          Tahap ini hanya setengah melalui persepsi, dan empiris, yang menyamakan refleksi pada indera dengan persepsi, sudah cukup untuk setengah dari apa yang sebenarnya terjadi, dan, dengan demikian, mereka tidak dapat menyangkal proses lengkap persepsi.
           Tahap Kedua: Pada tahap ini, giliran jiwa manusia untuk memperoleh pengetahuan dari gambar-gambar dan kode. Di sini, dua elemen penting yang diperlukan untuk persepsi akal: 'perhatian' dan 'kesadaran'. Perhatian adalah fenomena psikologis, dan tidak ada hubungannya dengan tubuh. Kecuali perhatian jiwa benar-benar terfokus pada fungsi panca indera, tidak ada sinyal yang dikirim oleh mereka dapat dianggap sebagai persepsi.
            Eksisensi eksternal tidak bisa masuk pikiran tanpa menurun ke tingkat eksistensi mental 
            Beberapa filsuf dan teolog Muslim berusaha untuk menanggapi keberatan ini melalui beralih ke justifikasi palsu, dan beberapa orang lain, karena tidak tahu jawabannya, benar-benar membantah isu keberadaan mental. Namun, untuk memecahkan masalah, Mulla Sadra dikemukakan salah satu karya filsafatnya yang juga dapat digunakan dalam memecahkan kerumitan lainnya filosofis terkait. Oleh karena itu, masalah eksistensi mental dapat dianggap sebagai salah satu inovasi sekolah Mulla Sadra pemikiran.
Saya ingin menggunakan penjelasan Mulla Sadra misalnya saat bicara antara mana yang lebih esensial atau mana yang realistas sesungguhnya. Mulla Shadra dalam pandangan Hikmah Al Mutaaliyah melihat bahwa realitas tidak saja dibatasi pada hal yang empiris atau yang rasional. Mulla Shadra melihat bahwa yang riil adalah bukan semata yang ada dalam elam ekternal yang bisa diukur sebagai pendekatan rasionalis dan empirisis. Bagi Mulla Shadra rang riil itu juga terdapat dalam wujud mental atau menta eksisten.  Berikutnya dalam pembahasannya, Mulla Shadra juga banyak menyajikan gagasan tentang eksistensi mental.
Gagasan mental eksisten ini pula yang mendasari epistimologi Mulla Shadra tentang bagaimana menjelaskan eksistensi tuhan dalam keontologiannya. Tiga bangunan atau pilar dalam konsep ini misalnya dikatakan: tentang persepsi, dan ittihadul aqil wa ma’qul.
Kenyataan atau preposisi lain yang mempertegas bahwa sang Wujud menjadi penjelas tertinggi akan adanya eksistensi Tuhan adalah saat eksistensi dan keberadaan manusia adalah keadaan yang terbatas semmentara Tuhan adalah keberadaan yang tanpa bata. Keberadaan manusia adalah keberadaan yang lahir atau merupakan iktibar dari kesistensi yang wajib atau Tuhan itu sendiri.  Mulla Shadra menggunakan Burhan Assiddqiin sebagai upaya untuk menjelaskan eksistensi itu dengan pendekatan yang sangat elegan.
Manusia dan segala makhluk adalah akibat dari Tuhan. Akibat dalam terminologi Sadra adalah wujud faqir. Maksud wujud faqir disini bahwa akibat secara eksistensi adalah faqir. tak ada wujud sama sekali di dalam dirinya sehingga akibat secara totalitas bergantung pada Tuhan. tak ada satu 'saat' pun dimana akibat berada pada posisi independen secara eksistensi. berdasarkan hal ini, maka setiap 'saat' segala entitas makhluk meminta wujud kepada Tuhan secara terus menerus. karena itu setiap 'saat' kita meminta eksistensi dan karena itu pula dari sisi Tuhan setiap 'saat' senantiasa memberikan eksistensi. Jadi, setiap saat eksistensi kita baru dan baru, dan karena setiap saat eksistensi kita baru dan baru maka pada hakekatnya segala akibat senantiasa dalam keadaan penciptaan yang baru. dalam irfan fenomena seperti ini disebut dengan 'tajaddud amtsal'. Hal ini senada dengan ayat Qur'an dalam surah arrahman; ayat 29 (apa2 yang ada dilangit dan dibumi senantiasa meminta kepada Allah swt) kemudian ayat ini dilanjutkan dengan (setiap 'saat' Dia mencipta).
Ontologi dan Epistimologi
Problem besar kefilsafatan adalah saat filsafat sebagai alat atau “tool” untuk memahami eksistensi Tuhan tak mampu memberikan jawaban memuaskan. Klaim kebenaran mencuat dengan ukuran yang dikodifikasikan oleh sekelompok ilmuwan yang menyebut dirinya kaum scientis dan mendasarkan pemikirannya pada bukti empiris sebagai ukurannya.
Padahal realitas keilmuan yang empirisis ini terbukti gagal dan kini mulai ditinggalkan sebab sejumlah fenomena memperlihatkan kegagalan itu. Capra misalnya banyak bicara soal ini. Muthada Mutahari juga sangat detail menggambarkan kehancuran atau borok-borok empirissme[3]. Dia malah menambahkan konsep ilmu pengetahuan melalui tanda.
Mulla Shadra dengan Hikmah Al Mutaaliyah atau Filsafat Transendent berusaha menjawab kebuntuan dan kemandegan Ilmu pengetahuan itu. Sebagai filosof terutama filosof muslim melihat bahwa Filsafat Mulla Shadra mampu menjawab mazhab filsafat sebelumnya baik mahzab Masyaiyah maupun Isyraqiyah.
Kenapa Epistimologi. Meski argument ontologi adalah sangat fundamental atau sangat mendasar dalam peradaban dan ilmu pengetahuan modern bukan berarti antara keduanya harus dipertentangkan. Menurut saya harus ada pengertian bahwa ontologi dan epistimologi adalah satu kesatuan. Padahal yang menjadi objek dari pembahasan epistimologi adalah epistimologi itu sendiri. [4]
Upaya epistimologi adalah usaha untuk mensistematisir atau membuat susunan yang lebih komprehensif tentang pemikiran tokoh dalam batas-batas yang lebih dapat dipahami. Kenyataannya seringkali sebiah pemikiran terlihat “ngacak”. Karenanya dengan Epistimologi ini akan membantu kita dalam memahami lewat alur pemikiran yang secara umum diakui dalam ilmu pengetahuan dan kaidah ilmu pengetahuan yang biasa dipakai.
Karenanya tidak perlu mempertentangkan keduanya. Saya ingin membuat sebuah penggambaran dengan analogi saya sendiri tentang epistimologi dan ontology. Jika aspek filsafat itu ada tiga yaitu Ontologi, Epistimologi dan Aksiologi, maka saya ingin menganalogikannya sebagai suatu bangunan.
1.      Ontologi adalah sebuah bangunan
2.      Epistimologi Cara menjelaskan bagaimana bangunan itu
3.      Arti atau kegunaan Bangunan itu sendiri
Tidak perlu dipertentangkan diantara ketiganya. Saat kita telah melihat sebuah bangunan yang berikutnya terjadi adalah seringkali atau bias jadi penjelasan kita tentang bangunan pada orang lain tidak sama dengan apa yang kita lihat. Yang juga seringkali terjadi adalah apa yang kita jelaskan dari bangunan tidak sebagaimana mestinya, lalu apa yang terjadi seandainya cara kita salah menjelaskan eksistensi Tuhan.???

Kesimpulan
            Wujud Zihni adalah gagasan fundamental dan tak pernah selesai dibahas para flosof. Dalam dan khususnya filsafat Islam. Kajian Wujud menempati peringkat pertama sebab pemabahasan wujud sama saja membahsa sesuatu yang sangat fundamental dalam agama itu sendiri yaitu tentang Tuhan. Wujud dalam segala argumenatsinya berusaha mewujudkan argumentasi bertanggungjawab tentang Tuhan.
Referensi:

Marias, Julian. History of Philosophy. New York: Dover Publication, Inc. 1996
Yazdi, Muhammad Taqi Misbah. Philosophical Instructions: An Introduction to Contempory Islamic Philosophy. Birmingham University Brigham University. 1999
Muthahhari, Murtadha. Pengantar Epistimologi Islam: Sebuah Pemetaan dan Kritik Epistimologi Islam atas Paradigma Pengetahuan Ilmiah dan Relevansi Pandangan Dunia.
Sains dan Peradaban Dalam Islam. Seyyed Hossein Nasr. Penerbit Pusataka. Bandung.1997.
El-Haady, Aminullah Dr. Ibnu Rusd Membela Tuhan: Filsafat Ketuhanan Ibnu Rusyd. Lpam (lembaga pengkajian agam dan masyarakat). 2003
Jurnal:
1.       Jurnal Mulla Shadra, Nomor 5 Volume II, No. 5, 2012
2.       Jurnal Mulla Shadra, Nomor 4, Volume I, 2012
3.        Kansz Philosophia: Jurnal For Philosophy & Mysticsme. Pengalaman Rasional Eksistensi Tuhan: Pengantar Ontoteologi. Fariz Pari. Volume 1 Number 1 tahun 2011.



[1] Arif Budiman, Mahasiswa S2 Filsafat Islam. ICAS-Paramadina. Disajikan dalam matakuliah Filsafat Hikmah Al Mutaaliayah.
[2] Thesis Mulya, S2 Filsafat Fakultas Ilmu Budaya UI. Tahun 2006
[3] Muthahhari, Murtadha. Pengantar Epistimologi Islam: Sebuah Pemetaan dan Kritik Epistimologi Islam atas Paradigma Pengetahuan Ilmiah dan Relevansi Pandangan Dunia
[4] Kansz Philosophia: Jurnar for Philosophi and Mistiscisme. Agustus-November  Tahun 2011. Volume 1 Nomor 1. Hal 113

Cari Blog Ini