Minggu, 14 Oktober 2012

BROSS KUPU-KUPU (SURAT TERAKHIR UNTUKNYA)

BROSS KUPU-KUPU (SURAT TERAKHIR UNTUKNYA)
Oleh: Tirta Pawitra

Saat langit akhir bulan september mulai terlihat gelap, sesekali rintik kecil air hujan tak jua mewujudkan aharapan banyak orang tentang datangnya sang air yang jauh lebih melimpah alias hujan. Tidak juga di tanah ini. Tanah kering yang nyaris tak ditemui air disana. hanya galian kecil di tengah sawah itu telah menjadi kering sebab pro
yek pembuatan batu bata telah lewat dari musimnya.

Ini hanya sebuah pesan kecil yang aku sendiri tak sanggup menyampaikannya. Padanya dan untuknya. Setitik air mata yang entah apa artinya. Kesedihankah. Iya. Umumnya orang akan mengartikanya sebagaimana kenyataannya. Layaknya dan umunnya sang wanita yang akan menangis saat sang kekasih pergi meninggalkannya.mangu menatapi benda kecil berbentuk kristal kupu-kupu berwarna ungu dan tas kecil disampingya tak pernah sampai di tangnnya.

Aku beli benda kecil itu di jakarta. Tanda bahwa aku mencintai-Nya. Tanda bahwa hanya persembahan kecil dan penghambaan cinta itu murni datang dari dalam hati. Kini aku meninggalkannya sendiri. Membiarkannya berjuang sendiri untuk sebuah mimpi dan harapan yang aku tak pernah yakin ia bisa mewujudkannya. Aku tak yakin jika ia akan menemuka cintanya. Egoisme lelaki yang lebih merupakan keangkuhan sesaat di tengah harapannya yang juga sebenarnya membentur dinding keterbatasan.

Bross itu kini ada di tanganku. sesekali kuletakkan di atas meja kaca ruang kamar yang sejak dulu selalu sepi. kamar pengantin yang semestinya dihias pernak-pernik surga. Keharuman yang menyentuh jiwa. Kini semua tak terjadi, hanya Bross Kupu-kupu yang kini sedang ada di depanku.

Aku belum menyampaikan perhiasan kecil yang selalu kubawa ini. Tak yakin bahwa ia sudi menerimanya. Justru ia pernah sangat membencinya. Pernah dengan permintaan yang teramat sangat agar aku tak pernah akan menyerahkannya. Bross Kupu-kupu yang akan menghias jilbabnya dan menambah cantiknya. Aku belum sempat memberikannya. Atau aku tak akan pernah memberikannya sebab bisa saja benda ini akan segera diminta atau dimiliki orang lain.

22 September akan tercatat sebagai hari paling memilukan antara melanjutkan sebuah harapan atau mengubur harapan. Siapa bilang aku tak pernah sedihkannya. Siapa bilang aku tak mempedulikannya.

Hanya egoisme dan keterbatasan ruang yang menjadikan ruang bicara kita tak selebar kemampuankata yang mampu menembus semua keterbatasan itu.

Memang ia tidak sempurna sama sebagaimana diriku yang tak sempurna bahkan penuh dosa, tapi kuingin menyampaikan Bross Kupu-Kupu ittu Untuknya wala untuk saat terakhir kalinya. Walau ia tak pernah pedulikannya. Walau niatku menghadiahinya tak pernah mendapat tanggapannya. 

Kini Ia yang telah jauh disana, tak ingin palingkan wajahnya atau membalikan badan kembali merajut cinta dan menemuiku dan nyatakan cinta. Ada mungkin kesempatan kedua tapi tak yakin akan ada kesempatan yang ketiga atau lebih dari itu. Semua telah paripurna. Harapan dan keinginan sendiri telah usai sudah. Semua telah berakhir tanpa sebuah cerita. Tak ada akhir yang mendukung Jiwa menggapai tujuan terakhirnya....!

Bross Kupu-kupu yang ada di dekatku ini adlah kenyataan yang tak teberitakan. Cinta yang tak bisa bicara.

WANITA DI TENGAH SAHARA

WANITA DI TENGAH SAHARA
by: Tirta Pawitra
Aku ingin memanggilnya, memintanya mendekat seraya mendendangkan lagu keinginannya. Hari demi hari kuperhatikan langkahnya kian jauh kesana. ke tempat yang dihuni para penguasa murka. 
Yang kutahu di kalbunya ada cinta. Yang kutahu ia sedang mennikmati syair-syair cinta sejati meski di tengah sahara sebagaimana lagu yang pernah kudengar tempo dulu saat aku pernah sedikit menjejak tanah sahara.


Berhentilah...!!

CINDERAMATA YANG TERTINGGAL


CINDERAMATA YANG TERTINGGAL
Oleh: Arif Budiman[1]


Melihat photo fb guru bahasaku yang beberapa saat lalu telah menikah, fotonya terpampang jelas di newsfeed fb-ku. Photo saat berpose di depan arca Borobudur beberapa saat lalu saat bulan madu, mengingatkanku pada sesuatu di bulan Juni tahun lalu. Taman Borobudur terdiam tanpa kata, walau sesungguhnya ia telah berbicara dan menuturkan banyak cerita. Megaproyek arsitektural yang nyaris tak terjangkau akal. 

Sudah sejak lama kulihat senyumnya. Sudah sejak lama aku memperhatikannya. Setidaknya saat di Borobudur itu aku telah berusaha menyatakannnya dan menunjukkan perasaan ini padanya tentang apa yang kurasa. Meski tidak dengan kata-kata.

Aku tahu hari itu tentu sangat lelah. Rangkaian perjalanan panjang wisata perpisahan bersama kelas XII sekolah kami sangat mengesankan. Itu yang selalu ada dalam acara perpisahan sekolah kami. Aku sangat bangga dengan bapak dan ibu guru juga ucapan terima kasih. Setidaknya karena acara itu, kisah kecil ini tercipta. Terkisah untuk yang selalu di damba, walau kutahu ia akan sulit memahaminya. Ia tentu tak membanyangkan akan adanya kisah itu di tengah kelelahan perjalanan yang tak terlalu perlu dimaknai sebagai perjalanan bernuansa cinta.

Cinta adalah aliran universal yang mampu menembus semua ruang dan dimensi waktu atau dimensi apapun yang berusaha menghalanginya. Demikian halnya kisah kecil ini adalah hati yang terserak di belantara harapan yang luas lagi sulit didefinisikan. Ijinkan aku terus menuliskannya….!!

Ia berlari ceria bersama kawan-kawannya di tengah keramaian pengunjung tentang saat menikmati eksotika Borobudur---The Unbelieveable Architecture. Naik dan turun tangga di seputar archa-archa dalam posisi Dyani Budha. Atau ketika sampai lantai teratasnya, bersama pengunjung lain berusaha meraih stupa sebab dengan begitu akan didapati keterangan berharga dalam hidupnya tentang laki-laki yang akan menjadi pendamping hidupnya. Setidaknya barang siapa bisa menyentuh bagian stupa itu, maka akan di dapatinya pasangan sempurna yang didamba atau diimpikannya selama ini. Cita-cita normal yang dikejar setiap insan yang dalam dirinya mengalir energi Cinta.

Sebagian memilih berphoto dalam banyak pose sebab merasa diri paling cantik atau paling ganteng, wajar dan normal sebab fitrah manusia juga tak bisa lepas dari liputan dan harapan kesempurnaan. Kabaikan dan kesempurnaan sesunguhnya ada dan terus dikejar tiap pribadi, karenanya tak semestinya ada kecil hati. Narsis adalah sikap ekspresionis tentang sejauh apa kesempurnaan dalam dirinya tersaji. (pastinya hasilnya tak mungkin akan beda dnegan kenyataannya, kecuali minta bantuan adobe photoshop)

Sejak pertama turun dari bis, ia masih bersama kawan-kawannya. Sesekali kulihat tatapannya tertuju padaku. Sesaat kemudian berlari menggandeng temannya, tentu ingin segera mengubur rasa penasaranya tentang Borobudur yang saat itu baru dilihatnya. Aku sudah kali yang ketiga, dan dari ketiga kunjungan hampir tak pernah menyusur setiap lorong dari Kamadatu hingga Stupa. Aku tipikal yang tak terlalu suka menikmati sesuatu dengan detail. karennya aku memilih di luar sajaa, menungguinya. Kukira tak mengurangi kekagumanku pada eksotika Borobudur itu. Menyaksikannya dari luar sama artinya memahami lebih dekat. Menyaksikannya dari luar kurasa sama seperti menyaksikan kebesaran Tuhan sebab keindahan Borobudur adalah manifestasi lain dari keindahan-Nya. Tuhan menghadirkan banyak keindahan dalam manifestasi yang berbeda-beda.

Lebih dari itu semua, aku sedang lebih tertarik pada pajangan Cinderamata yang kulihat beberapa kali sejak di pintu masuk hingga areal dalam. Cinderamata itu sangat menggoda. Kuteringat pada kisah Ramayana sebab cinderamata yang kuperhatikan itu adalah Patung Dewi Shinta, simbolitas wanita setia dalam pitutur Ramayana. Kubeli dari seorang ibu yang menggelar dagangannya di pinggir Taman itu. Ukiran yang indah. Harganya tidak seberapa tapi aku ingin memberikannya. Tak berapa lama setelah sepakat dengan harga akupun telah memilikinya, cenderamata untuknya.

"Ibu,, saya titip dulu, nanti saya kembali...!!" Kutitipkan cenderamata itu pada ibu sang penjual karena tak mungkin aku menentengnya. Aku ingin memeberikannya sendiri, saat ia sendiri. Aku ingin memberikan benda itu untuknya. Rasanya memang benar bahwa jiwa kita hanya punya satu tema, pikiran kita hanya satu kegelisahan. Itulah yang sesungguhnya terjadi saat aku ingin bicara secara pribadi dengan seseorang yang masih ada disana. Keringat bercucuran menahan rasa.

Sebagain peserta tour masih ada disana. Masih ber-photo. Satu dua mulai terlihat turun sebab waktu sudah menunjukkan pukul 11.00 deadline yang diberikan sang ketua tentang berakhirnya waktu kunjungan di Borobudur. Siang itu perjalanan berlanjut menuju Jakarta.

Kini ia ada di depan mata, terdiam tapi tetap dengan senyumnya yang menawan. Cenderamata itu harus segera kusiapkan, aku harus segera mengambilnya di tempat aku menitipkannya dan memberikannya. Ia bersama teman dekatnya, sahabat dekat dan juga teman curhatnya.

Tak berapa lama, beberapa yang lainpun kini telah menyatu dalam aliran panjang para pengunjung menuju pintu keluar. Tiba-tiba seorang menepuk punggung dari belakang memintaku menemaninya membeli oleh-oleh. Aku tak bisa menolaknya. Sementara ia yang ada disana kian jauh. Aku ingin memberikan sesuatu sehingga ada sesuatu di tangannya yang melenggang, aku ingin memberikan benda itu.

Sayang sungguh disayang, aku terbawa dalam keramaian pasar seni Borobudur hingga waktu cukup lama. Aku terbius dalam penawaran tanpa putus dalam alur-alur pasar panjang berkelok yang sengaja dibuat berkelok agar semua pedagang terlewati pengunjung. Dengan begitu semua diuntungkan. Aneka jenis makanan dan juga cinderamata.  Aku diminta kawanku untuk memberikan penilaian atas pakaian yang hendak dibelinya. Rupanya banyak yang hendak ia beli, pastinya uang dikantongnya sangat mencukupi. tidak sepertiku yang hanya sekedarnya.

Tanpa sadar aku justru telah menjadi sangat dekat dengan terminal pemberangkatan. Suara pak Jatmiko terdengar lantang lewat Pengeras Suara (toa) memanggil semua peserta segera masuk ke dalam bis. Seketika sebagian tampak buru-buru mempercepat langkahnya sebab bis tour sekolah kami di ujung lapangan parkir itu siap diberangkatkan. Saat itu baru aku tersadar cinderamata yang kutitipakan masih ada nun jauh disana. Aku tak bisa lagi meminta kepada panitia untuk mengambil cenderamata itu….!! Dan aku urung mengungkapkan rasa ini padanya sebab cenceramata itu tertinggal...!!



[1] Inspirasi dari muridku yang tak sanggup mengungkapkan isi hati dan perasaannya. Ditulis oleh Arif Budiman, Guru Sejarah MAN 21 Jakarta. Alamat Kp. Sarang Bango no 2 rt 06/06 Marunda Jakarta Utara.  Aktif di CENTER, Komunitas Guru Untuk Karakter Bangsa

Kamis, 26 Juli 2012

LUAR BIASANYA AL_QURAN


LUAR BIASANYA AL_QURAN
(INSPIRASI SEJARAH)

Al-Quran atau dalam bahasa lain disebut mushhaf adalah kumpulan beberapa tulisan dan pemikiran (Wahyu Tuhan). Didalamnaya ada kisah-kisah, di dalamnya ada ayat-ayat atau tanda-tanda bagi orang yang beriman. Al-quran dari semenjak turunyya ayat pertama untuk Rasulullah dalam surat Al-Alaq hingga saat ini, maka usianya dalam hitungan Masehi telah mencapai 15 Abad lamanya mengisi sejarah, membuat sejarah dan juga mengerakan sejarah itu sendiri. Disadari atau tidak disadari.
Seandainya ada kata yang bertentangan dalam aaaal-quran, barangkali orang akan memilih beralih pada bacaan lain atau kitab lain atau agama lain. Tapi Al-Quran adalah nrasi yang sempurna tentang kisah-kisah abadi dalam zamannya. Ia menuturkan dengan disiplin sastra yang sangat tinggi. Menegur manusi adengan panggilan-pamnggilan yang mesra danbersahabat. Ya Ayyuhannaasss. Ya Ayyuhal Mukmininuun dan seterusnya. Al-quran tidak perlu menghadirkan dirinya atau dihadirkan dalam khlayak pemikiran manusia sebab keberadaaanya memang sangat dinanti, Ia dibutuhkan. Ia adalah inspirasi yang sesungguhnya bagi kehidupan itu sendiri.
Al-quran tidak hadir di tengah keterpaksaan. Ia hadir apa adanya sesui dengan fungsi dalam Al-quran itu sendiri.
Saya melihat kekuatan sastra yang sangat mendalam dalam ayat-ayat Alquran. Kehadirannya sering disalah tafsirkan. Entah kenapa saya tidak tahu. Adalah hak setiap orang untuk menilai dan menafsirkan isi yang terkandung dalam al-quran. Ia bahkan bisa direkonstruksi secara ekstreem mejadi sangat mengerikan. Ia juga bisa menjadi sangat lembut dengan kehidupan karena bahasa-bahasanya.
Satu kalimat saja dari Al-quran mampu menundukan kesombongan manusia akan karya sastra yang tiap hari dibanggainya. Al-quran cukup menampilakan sat ayat. Itu hanya didengar bagaimana jika diamalkan. Itulah kekuatan yang akan muncul dari pemahaman dan pemaknaaan kita pada Al-quran. Menurut sebuah peneitian, kemampuan akal manusia mampu menyimpan file hingga sekian bite. Itu artinya asulullah Muhammad adalah manusia sempurna yang kecerdasanay melampau para pemikir di zamannya sebelum dan sesudahnya.
Katakanlah benar  jika ternyata Al-quran karya Muhammad, maka kita harus mengakui bahwa inilah tipe manusia cerdas bahakn super cerdas yang menghasilkan karya meumental yang menginspirasi sejarah. Menggerakan umat Islam untuk berdakwah. Menyebarkan nilai Islam. Adakah pemikir yang mampu membuat karya sepanjang zaman dengan tulisan dan karya-karya yang sangat monumental seperti itu hari ini.
Para filosof sering kali menghentikan pembahasannya pada penilaian sesaat yang terkadang belum secara meyakinkan sebagai sebuah kebenaran. Contoh saat mengatakan bahwa TUhan ada atau tiada Tuhan oleh masing-masing penggagas ide itu. Pada ujungnya mereka harus meyakini dan mengentikan idealismenya tentang ketiadaan Quran. Kehebatan Al-quran adalah kekuatanya atau entitasnya yang mampu mewakili banyak pemikiran. Saat ia akan ditafsirkan dengan konsep Esoterik, Al-quran memang kenyataannya, sementara makna isoterik seringterabaikan. Namun poinnnya bahwa amerek asangat memahami sangat setuju bahwa AL-quran sangat inspiring…

Kamis, 19 Juli 2012

KEKUASAAN NEGARA DAN MEDIA


KEKUASAAN NEGARA DAN MEDIA
(Peran Media Dalam Bangunan Sosial Indonesia)
Oleh: Arif Budiman
Era kebebasan pers, tidak selamanya member dampak positif untuk kesehatan social. Tak jarang kebebasan pers menjadi racun yang merusak sendi-sendi social. Salah satu bentuk kerusakan social itu adalah tidak berfungsinya lembaga-lembaga dan system nilai yang berlaku dalam masyarakat kita. Kita pun telah terbuai dengan era kebebasan sebagai pilihan terbaik yang akan member keleluasanaan dan kesejahteraan dalam arti umum. Tapi kenyataannnya sendi-sendi social itu mejadi rapuh dan tak mampu menjalankan fungsinya sebagai pondasi bangunan social.  Kegelisahan social yang berlanjut pada kerusuhan social adalah buah dari hilangnya kesadaran pada nilai budaya dan social kita. Ada nilai luhur yang terabaikan dan terlupakan. Atas nama kebebasan, kita seolah telah menjadi manusia super yang mampu menanggulangi yang ada. Seolah kebebasan itu telah menjadi tuhan itu sendiri, masyarakat menjadi Tuhan dan kebenaran yang sejati ada padanya. Padahal tidak demikian.
Sejumlah media baik surat kabar maupun elektronik telah dengan sangat bebas memasuki ruang pandang dan dengar serta alam berpikir kita. Bahkan keberadaanya telah menyatu dalam aktifitas keseharian kita. Ia menemani hari-hari dan aktifitas kita, memberikan informasi dan juga motivasi di satu sisi. Pada saat berikutnya media atau terutama dalam tulisan ini lebih kepada media elektronik yaitu televise setiap saat tampil di depan mata kita. Tanpa pernah kita bisa memahami akhir tayangan yang ditampilkannya. Jika tv swasta itu adalah media sebuah perusahaan, maka tv swasta akan menjadi alat yang efektif untuk mengkampanyekan idea tau visi perusahaan yang dipimpinnya. Jarang kita temukan sebuah  media independen yang berdiri di atas sebuah niat yang tulus dan murni menggapai kebenaran sejati.
Media telah memerankan begitu banyak peran-peran social yang selama ini ada pada sosol seorang ustad, atau seorang Romo di Gereja atau seorang biksu di Biara. Sebagai ilustrasi, saat kita membutuhkan ketenangan, serta merta ada acara di tv (bukan acara agama) yang mampu menggantikan peran tokoh-tokoh agama itu. Saya juga ingin bahas tentang adanya acara keagamaan di TV, apakah benar acara itu berpihak pada pencarian dan menuju penemuan pada esensi beragama itu sendiri.
Mee\dia telah menjadi penguasa dalam alam berpikir kita, sehingga yang muncul di otak kita adalah apa yang ditampilkan media. Sesungguhnya tida bermasalah Media itu merasuk dalam pikiaran kita. Hanya kita telah menjadi sangat tidak menyadari bahwa dakwah yang sebenarnya adalah pesan nilai itu dapat tersampaikan dengan sangat baik lewat media. Artinya belum ada kesadaran yang utuh dari para tokoh agama untuk melihat Media ini sebagai alat yang efektif dan super efektif untuk menumbuhkan gagasan tentang nilai dasarnya.
Seperti acara lawakan dan komedi di tv, betapa penetrasi media itu sangat kuat merasuk dalam alam sosal kita. Acara ini menjadi trend setter nilai dalam masyarakatnya. Apakah kita tidak melihat bagaimana perubahan pada anak-anak kita yang menjadi sangat semu dalam memahami nilai. Tidak mampu lagi membedakan mana yang pantas dan mana yang tidak atau kurang pantas. Kasus Olga, seolah muncul di sebagain besar masyarakat bahwa mencela menjadi hal yang wajar dan yang seperti itulah yang akan menghasilkan uang dan seterusnya. Dianggap gaul dan lain sebagainya.
Media yang bebas telah mejadi alat politik tertentu, dengan kemasan ilmiah sekalipun pada ujungnya tak mampu menyentuh esensi yang memihak pada nasionalitas kita. Yang terjadi sebaliknya Media menjadi alat provokasi dan corong bagi naiknya sebuah kepentingan. Sesungguhnya memang ada yang salah dalam bangunan pemikiran kita tentang Indonesia. Apa keuntubgan yang akan di dapat dengan menampilka aksi kerusuhan bahkan hingga berdarah  ke khalayak umum jika bukan untuk meruuntuhkan sebuah otoritas tertentu atau dalam hal ini adalah pemerintah. Di saat yang sama hal itu memang perlu dilakukan saat pemerintah tak bisa tegas dalam setiap kebijakannya.
Jadi ada dua yang salah, Media salah. Pemerintah juga salah. Mengapa pemerintah tidak membangun sebuah gagasan yang sama dnegan Media dalam arti berkolaborasi d untuk membnagun ide keindonesiaan yang sama. Bukan kepentingan kelompok tertentu. Sya sedih sebab seringkali pemerintah merasa dipojokkan media. Di saat yang sama pemerintah juga tidak mau berbaik-baik dengan Media untuk membangun kultur yang terbuka.
Dalam tulisan ini , saya hanya ingin menyoroti betapa Media yang ada saat ini demikian massive memasuki ruang dalam pikiran kita. Sehingga melahirkan konstruksi keadaan yang tidak sehat dalam system dan bangunan social kita. Media telah menjadi kekuatan yang lebih besar disbanding Negara. Penguasa yang sesungguhnya negeri ini adalah kontruksi Media. Pemerintah tak bisa berbuat apa-apa. Demo menjadi besar itu karena kekuatan Media. Maka semestinya pemerintah membangun kolaborasi yang positif dengan Media, mengambil kembali tugasnya yang selama ini dikuasai Media. Bukan sekedar siaran pers untuk mengeluh atau curhat bahha drinya juag sedang sulit.
Tentang Pengajian di TV, sebuah catatan penting yang ingin saya sampaikan. Benar bahwa acara itu jauh lebih baik ketimbang acara lain itu. Namun sayangnya acara pengajian pun tak terlepas dari kepentingan komersial yang sangat besar. Itu artinya pengajian itu menjadi kehilangan esensin atau maknaya. Maka sebenarnya bukan pengajian yang tertanam dalam benak pegajinya tapi unsure komersialisasi disana. Sejauh ini saya nilai lebih baik sebab secara materi jelas lebih baik dibandingkan acara yang hanya menyuguhkan obat penat sesaat, selebihnya bangunan sosiual dan budaya kita seolah terabaikan. Nilai digoyang, kekuatan Budaya hilkang.
Sekali lagi Media harus dipandang sebagai penguasa, bahkan Budayawan Qomarudin Hidayat mengatakan bahwa Media adalah salah satu pilar demokrasi. Itu benar sebab Peran media benar-benar sangat efektif. Bagaimana salah satu pasang cagub DKI memanfaatkan Media untuk kepentingan kampanye atau pencariabn dukungan.
Saya kira sejauh ini semau sepakat dan sudah tahu tentang efektifita s dan peran Media dalam hal ini. Yang jadi persoalan adalah sedikit sekali yang mampu mengontrol konten Media dalam hall ini. KPI masih cukup bernyali untuk menyerety dan mengoreksi Olga dalam penampilannya agar memperhatikan etika dan aturan. Namun Media belum menjadikan system kritik itu menjadi bagianyang include dlam system penyiaran mereka. Yang terjadi pihak Media TV menunggu pengaduan setelah itu baru membatasi atau mengurangi siaran dll. Di system Media kita belum ada kekuasaan Media dibawah bangnan Negara. Media seperti bola liar yangt sesungguhnay sangat mengerikan dan lebih sangat mengerikan sebab Media dalam arti yang lebh tinggi telah memasuki ruang yang sangat privat bagi anak atau saudara-saudara kita. Seperti penayangan internet yang bebas dll. Pemerintah terbukti tidk berdya dan takut dengan kecaman dan lain-lainnya. Pemerintah tak berdaya






Selasa, 17 Juli 2012

MENYAMBUT GENERASI EMAS

MENYAMBUT GENERASI EMAS
Oleh: Tirta Pawitra@yahoo.co.id


Saat ini di sekolah-sekolah baru saja memulai proses pembelajaran. Peserta didik baru sedang menjalani Masa Orientasi Sekolah sebab mereka membutuhkan pengenalan akan sekolah yang akan ditempatinya. Peserta didik di kelas tengah dan ujung, pun telah bersiap menggoreskan tintanya di lembar buku catatannya. Bertemu dan menyapa mereka di kala pagi, rasanya lebih menyejukkan dibanding kesejukan hijau dedaunanan atau semilir angin gunung di lembah sana.

Sebuah azzam telah tertanam kuat tentang keinginan untuk memberikan pendidikan terbai, menjadi pendamping mereka menuju kedewasaannya atau menjadi teman curhat untuk sebuah cita-cita yang ingin mereka wujudkan. Tak sedikit menitik air mata tulus, tentang kondisi mereka serta cita-cita yang masih sangat mungkin dapat diwujudkan. Tak ada yang tidak mungkin terlebih dalam hal menggapai cita-cita itu, sebab keyakinan adalah refleksi dari realitas yang bisa dijangkau. Belajar pada tokoh besar peradaban, belajar pada guru sejati peradaban baginda rasulullah, tauladan mulia, yang menyuguhkan mahakarya tak terbantahkan, sastrawan dan sekaligus filosof sepanjang zaman, baginda rasulullah SAW. Shalawat serta salam mudah-mudahan senantiasa tercurah pada beliau

Masih segar ingatan kita pada drama memilukan Ujian Nasional. Ukuran dan standar keberhasilan yang masih dipaksakan orang-orang yang tidak memahami apa arti pendidikan. Bagi sebagaian mereka bahasa pendidikan diterjemahkan menjadi bahasa politik yang pada akhirnya menempatkan pendidikan tak lebih dari alat menggapai kekuasaan (politik). Rindu kami pada pemimpin dan guru-guru kuat yang mampu mengemban amanah peradaban ini. Masih merona wajah para pendidik kita untuk sebuah cita-cita yang baik, membimbing dan mengantarkan keinginan mereka hingga di puncak cita-cita meski hanya sebait doa setelah shalat kita. Beberapa hari berdiskusi intensif dengan guru dalam raker sederhana tapi banyak hal yang telah kami bicarakan, mudah-mudahan api yang masih berkobar itu akan tetap dan mampu menerangi jalan kependidikan yang selama ini sangat kami cintai.

Pada akhirnya, pendidikan harus tetap berjalan. kelas moralitas harus tetap didirikan. Pendopo spiritualitas harus enantiasa dihidupkan sebab disana ada dibangun pondasi keyakinan. Ruang-ruang diskusi harus tetap dibuka selebar-lebarnya untuk dan agar anak-anak kita mau berbicara dan berdialog dengan kita dan juga sesama mereka tentang dirinya dan cita-cita tertingginya. Tidak mustahil generasi Emas sebagaimana yang diamanahkan dan kita dambakan bukan sekedar slogan dan mimpi di siang bolong sebab ia akan menjadi kenyataan. Dari sana, dari kelas kita akan lahir panglima-panglima peradaban yang akan menegakkan mimpi yang lama hadir dalam tidur malam kita. Ia akan menyapa kita dengan panji-panji kemenangan, dan dengan santun mereka akan menyapa kita serta berjanji akan melanjutkan dan meneruskan cita-cita Indah milik kita bersama..

Minggu, 08 Juli 2012

KILAU CAHAYA

KILAU CAHAYA
Oleh: Arif Budiman

Air Laut Marunda siang tadi berkilau, seperti kilatan-kilatan pedang yang menancap di hampir semua permukaannya. Aku jadi tertarik untuk memikirkan arti cahaya itu, saat seorang ibu penjual warung bercerita tentang anaknya yang enggan sekolah. Kilau Cahaya adalah hasil pantulan sinar dari sumbernya (matahari) melewati bidang satu bidang, dalam teori fisika ada sebuah bidang datang atau cermin. Kalau kilau air laut marunda tidak bisa kit asebut cermin datar, cekung ataupun cembung atau air itu mampu menghasilkan semua cermin itu karen ageraknya. saya kira itu yang terjadi, coba besok saya ingin berdiskusi dengan pak Anhar guru fisika. Saya mau lanjutkan. jadi air itu memantulkan cahaya matahari, berarti air itu memiliki peran sebagaimana cermin. Cobalah kita datang ke danau Parakan yang hening di kala siang atau datang di kala malam tanpa mendung dan distu ada sinar bulan, tentu kita akan dengan sangat jelas melihat sang bulan di atas air itu dengan postur dan tampakan yang sempurna. Saat itu air menjalankan fungsinya sebagi cermin yang datar. Tapi saat ada dorongan kuat katakanlah ada tenaga yang mendorong air itu naik keatas sebut saja gelombang, saat itu air di area luar atau atasnya menghasilakan cermin cembung. hasil cahaya atau pantulan pun akan menghasilkan pantulan yang menuju ke segala arah. Sebaliknya saat ada tarikan dari dalam, maka air akan tertarik kebawah, saat itu permukaan air menjadi cekung, maka pancaran cahaya akan terkumpul atau menyempit.

Gelombang laut marunda di kala siang, siangnya bolong lagi, kayaknya matahari lagi ngga pake baju, beruntung masih pake kolor kalo ngga angus kita. jadi pansnya minta ampun dahh. Jadi sinarnya tanpa ragu-ragu dan malu-malu lagi menerobos sekat udara, ruang udara menuju ruang di tas laut marunda. di saat yang sama angin laut menyenandung lagu, menggoyang air sehingga melahirkan fungsi air dalam terminologi fisika peran cermin datar, walau sedikit, kadang cermin cekung dan tak jarang juga cermin cembung. itulah sebabnya kita tak pernah bisa melihat wajah matahari saat siang dan gelombang laut yang bergoyang-goyang.

Demikian halnya KILAU CAHAYA, kilau yang sampai di mata kita adalah pancaran yang dihasilkan dari bentuk permukaan gelombang yang bermacam-macam. saat pantulannya tepat mengenai optik penglihatan kita, saat itu kita menyebutnya KILAU. dan nyaris kita tak pernah bisa melihat kilau dalam waktu lama, sebab kilau dalam waktu lama itu namanya SILAU. Yang menarik sebetulnya adalah the miracle, dan kompleksitas sifat air itu, dan sifat cahaya. Yang menarik sesungguhnya adalah Makan Gado-Gado ditemani segelas Teh yang Manis, sebab ibu penjual warung sudah selesai ngulek sambel, kini tersaji di depan...

Cari Blog Ini