Minggu, 08 Januari 2012

KAPITALISME KELAS

KAPITALISME KELAS

Oleh: Arif Budiman*

Prestasi pembelajaran hampir bisa dipastikan sebagaian besar berpegang pada paradigma Kognitif (Cognitif Minded). Meski jargon pembentukan moral dan akhlaq atau nilai afektif didengungkan hampir tiap hari di sesi pembelajaran kelas, kenyataannya keberhasilan tentang terbangunnya moralitas atau akhlakul karimah hampir tak pernah jadi kenyataan. Sebagaimana bunyi sebuah pepatah ”api jauh dari panggang”. Pendidikan kita tengah didera mimpi tak berkesudahan tentang cita-cita dibangunnya manusia yang sempurna, insan kamil dan seluruh idiom tentang idealitas pribadi anak manusia yang diharapkan mampu membawa perubahan.

Tentu kita semua sadar bahwa kualitas suatu generasi yaitu anak didik kita banyak ditentukan lewat proses pendidikan. Lebih kecil atau lebih spesifik, kualitas itu ditentukan dalam ruang berukuran kurang lebih 6X8 meter yaitu ruang kelas. Ruang yang menjadi tempat bagi berlangsungnya proses belajar. Dalam ruang yang kita punya andil di dalamnya itu, terkandung peran yang sangat menentukan keberhasilan atau ketercapaian sebuah tujuan pendidikan. Kita yang dimaksud tentu saja bukan hanya guru namun kita adalah orang tua, masyarakat, lingkungan dan juga pemerintah. Baik atau tidaknya pengelolaan kelas, akan sangat berpengaruh pada kualitas generasi yang dididiknya. Kenyataan menunjukkan hal yang sangat memprihatinkan. Ketaatan murid pada guru, rasa hormat sampai pada perhatian siswa pada pembelajaran menjadi pemandangan yang jarang kita temukan. Yang ada kelas kita dihiasi dengan anak yang suka membantah perintah guru dengan ulah-ulah atau perilaku keonaran. Kewibawaan dan kehormatan kelas kita telah hilang. Item-item berupa nilai moralitas, ahlaq dan budi pekerti yang dulu pernah ada dalam kelas kita, kini telah menipis bahkan tiada.

Tidak usah menutup-nutupi semua fenomena (baca: kenyataan) yang terjadi dalam kelas pembelajaran. Guru menjadi tiada dihargai dan tiada pula berharga. Ia tidak lagi menjadi sosok yang digugu (dipercaya) dan ditiru (diikuti). Kata-kata kita (guru) akan didengar dengan dua kemungkinan, pertama kita berlaku sebagai penguasa otoriter alias berlaku represif . Pendekatan represif ini sedang sangat gencar ditentang oleh mereka para pengusung ide menjadikan siswa sebagai pusat pembelajaran. Sehingga siswa bebas menjadikan dirinya seorang pembelajar.

Atau dengan kemungkinan kedua yaitu guru memerankan dirinya sebagai seorang entertain (baca: badut, orator, aktor). Menurut saya tanpa harus otoriter dan berperan sebagai badut, kelas kitapun bisa berwibawa. Sebagaimana wibawa kelas yang pernah ada tempo dulu. Bukan bermaksud bernostalgia kosong dengan masa lalu. Tapi paling tidak disanalah kita bisa kembali membuka lembaran-lembaran Indah pendidikan masa lalu yang pernah berjalan. Tidak perlu metodenya tapi rasakan jiwanya atau roh pembelajaran yang dijalankannya.

Kelas kita tempo dulu adalah kelas yang sangat berwibawa. Guru begitu dihargai, sopan santun begitu dikedepankan. Bahkan ada cerita seorang murid ketika berpapasan dengan gurunya, ia memilih menghindar atau mengambil jalan lain. Bukan sang murid takut pada gurunya tapi disana ada penghormatan pada nilai-nilai akhlaq dan sikap yang begitu dijunjung tinggi. Dalam salah satu kitab Ta’alim Muta’alim dalam bab ”Ta’dziimul Ustadz” disana dibahas dengan detail bagaimana sikap seorang murid terhadap gurunya dengan penghormatan yang tinggi.

Hari ini kondisinya sungguh jauh berbeda. Bahkan ada satu kasus di sekolah negeri di Jakarta yang anak muridnya tidak percaya dengan pengelolaan dana Kegiatan perpisahan yang dikelola gurunya dan meminta pengelolaan dan penyelenggaraan kegiatan itu diserahkan ke murid hingga urusan jadwal acara, semua diminta agar segala sesuatau dikelola siswa, guru tinggal datang dan menyaksikan saja acara yang akan digelarnya. Menurutnya, merekalah yang membayar seluruh biaya kegiatan sehingga logis jika semuanya dikembalikan pada murid. Sungguh fenomena ini menunjukkan betapa guru telah dan sedang sangat tidak dihargai (baca: direndahkan). Bukankah guru terkesan layaknya pengemis di hadapan murid. Bukankah guru seolah sedang hanya ditempatkan sebagai tenaga kerja layaknya pelayan toko atau pekerja di Pabrik yang setiap saat bisa diperlakukan seenaknya oleh sang majikan. Bukankah seharusnya kita merasa sangat sedih dengan pelecehan terhadap wibawa keguruan kita?

Kelas Yang Hilang

Ada yang hilang dalam kelas-kelas pembelajaran kita. Moralitas yang seharusnya dikedepankan, kini telah tiada. Kata-kata yang sering kita sampaikan tidak mampu menyentuh intuitas yang ada pada mereka. Bukankah kenyataan itu menjadi hal yang wajar jika kelas kita disebut sebagai kelas yang tidak berwibawa. Bukankah kata-kata kita tentang moral, sopan santun dan budi pekerti pernah (bahkan sering) tidak didengarnya? apalagi meminta mereka untuk mempraktekkan.

Sesungguhnya bukan karena mereka tidak mau mendengar dan bukan pada tempatnya kita menyalahkan anak sebagai biang masalah dengan mengkambinghitamkan dan menjatuhkan punishmen pada mereka sebagai tidak bermoral, urakan dan lain sebagainya. Anak kita adalah kertas putih yang dengan kertas itu kita bisa membuat tulisan apapun dengan corak dan warna apapun. Goresan apapun yang ada dalam kertas itu adalah hasil kerja kita. Jadi jelas bahwa dalam problem ini anak tidak perlu dilibatkan. Lalu siapa yang harus bertanggung jawab terhadap nasib yang menimpa kelas pembelajaran kita? Menyebut guru sebagai yang paling bertanggungjawab, rasanya juga tidak bijak. Meskipun penyelenggaraan proses belajar dalam kelas sepenuhnya menjadi tanggungjawab guru, kelas yang berwibawa atau sebaliknya kelas menjadi tidak berwibawa sangat ditentukan penyelenggara pendidikan itu sendiri yaitu masyarakat sebab pendidikan adalah rekonstruksi masyarakat. Contoh, ketika masyarakat telah menjadi sangat kapitalis, bukankah segala yang ada didalamya juga harus kapitalis. Demikian paling tidak logika kapitalis berlaku. Termasuk sekolah (baca: Kelas) pun akan mengalami nasib yang serupa seiring berkembangnya masyarakat.

Maka jangan pernah membayangkan kelas kita akan dihiasi dengan anak yang hormat, sopan dan berbudi pekerti luhur, sementara negara atau masyarakat tidak punya komitmen pada bidang pembentukan moral. Kalaupun ada, ha itu hanyalah sebatas jargon. Masyarakat kita telah banyak didominasi oleh logika kapitalis, maka sopan santun, budi pekerti dan religiusitas cenderung disingkirkan karena tidak dibutuhkan. Yang dibutuhkan dalam masyarakat kapitalis adalah hal-hal yang terkait dengan logika pasar, nilai produksi dan keuntungan. Masyarakat kapitalis tidak berpikir bagaimana moralitas, sopan santun dan keagamaan dijadikan acuan atau dasar berprilaku, menurut mereka nilai-nilai tersebut dikembalikan pada masing-masing pribadi. Kelas yang ada dalam masyarakat kapitalis berfungsi sebagai mesin produksi yang diharapkan tercipta manusia-manusia atau tenaga-tenaga (baca; Robot-robot kapitalis). Saat anak sudah punya kecerdasan intelektual (baca: Ketrampilan yang dibutuhkan pasar), maka itu sudah cukup artinya telah tercapai tujuan belajarnya. Maka jangan heran jika nilai atau instalan yang paling penting tertanam dalam diri anak tidak lain, tak bukan adalah nilai disiplin waktu. Logika ini sepadan dengan logika kapitalisme yang sangat berhitung dengan penggunaan waktu untuk mendapatkan kapital.

Kelas Pembelajaran Kapitalis

Kapitalisme yang melanda kelas-kelas pembelajaran kita melahirkan kelas-kelas pembelajaran yang kapitalis. Kelas kapitalis menunjukkan bahwa kelas-kelas dalam pembelajaran di sekolah yang ada selama ini adalah kelas yang berlaku atas logika kapital. Misi sekolah sebagai sarana membangun sisi moralitas, ahlaq dan budi pekerti dinilai sebagai jargon belaka sebab kenyataanya kelas dengan misi pembangunan moralitas, religiusitas itu lebih punya perhatian pada kegiatan pembelajaran untuk memenuhi logika kapitalisme. Ciri kelas pembelajaran yang kapitalis yang utama adalah minimnya materi-materi moral, budi pekerti dan nilai agama. Kurikulum yang dipakai pun terpaksa didisain dengan mengurangi jam-jam pelajaran agama dan kelompok mata pelajaran humaniora lainnya. Hadirnya kelas-kelas pembelajaran yang kapitalis secara otomatis menandai hilangnya wibawa kelas. Sehingga seluruh energi yang ada diarahkan pada upaya sebesar-besarnya untuk terbentuknya masyarakat kapitalis.

Pada saat kelas kita menjadi demikian kapitalis seperti itu, maka mengharap kelas kita menjadi kelas berwibawa adalah pekerjaan berat. Sehebat apapun konsep kurikulum yang diterapkan, tidak akan mampu membentuk kelas berwibawa sebab kesatuan visi antara masyarakat dan sekolah adalah dua hal yang harus diperhatikan dalam menyusun arah pendidikan. Selama jiwa masyarakatnya masih kapitalis, maka penyelenggaraan di bidang pendidikan pun akan terpengaruh dengan pola kapitalis. Anak tidak merasa perlu mengembangkan sisi moralitas sebab dalam system kapitalis hal itu tidak diperlukan. Pembelajaran moralitas, budi pekerti dan juga agama hanya akan menyebabkan perkembangan kapital itu terhambat. Sehingga sudah selayaknya pembelajaran pada bidang-bidang itu diabaikan. Baginya saat ia telah menjadi cerdas dengan bekal ketrampilan berpikir, bahasa dan lain-lain, itu dirasa lebih penting.

Kelas kita telah menjadi begitu tidak berwibawa dan bukan lagi menjadi tempat bagi anak untuk belajar pengalaman-pengalaman suci atau nasehat-nasehat kemanusiaan. Kelas kita telah menjadi sempit makna. Kelas kita hanya berperan sebagai tempat bermain ketika orang tua menitipkan anaknya pada sekolah karena kesibukan orang tua. Sehingga wajar jika kelas kita menjadi “lembaga jasa” penampung anak-anak yang ditinggal ortu-nya yang sibuk. Dalam kasus tersebut kelas kita telah menjadi lembaga profit. Bahkan tanpa malu sekolah pun berlomba-lomba memasang tarif/harga untuk dan atas jasa yang diberikan. Dalam kasus kapitalisme dalam dunia pendidikan yang lebih kompleks, sekolah yang ada telah menjadi ruang tertutup dan terbatas hanya dan hanya untuk mereka yang mampu membayar sesuai tarif yang ditentukan. Saat itu sekolah tidak lagi punya hubungan kolaboratif-edukatif dengan orang tua, yang ada adalah hubungan balas jasa. Maka jangan heran setelah anak lulus, jarang didapati komunikasi dan hubungan berkelanjutan antara anak dan guru atau sekolah. Hubunganguru dan murid itu hanya terjadi saat ada selama dalam ikatan sekolah. Sesudahnya tinggal cerita dan masa lalu yang hanya indah untuk dikenang.

Orientasi Kelas

Kedepan tentu harus dibangun kembali wibawa di dalam kelas pembelajaran kita sebab kelas kita adalah garda terdepan dalam system pendidikan yang dijalankan. Kelas kita adalah ruh yang menggerakan dan tidak digerakan. Ruh yang menentukan dan tidak ditentukan. Kelas kita merupakan perpaduan tak terpisahkan dengan tujuan masyarakat, sehingga kemana masyarakat itu hendak dituju, kesana pulalah kelas atau sekolah kita juga akan diarahkan. Wibawa kelas kita adalah jiwa otonom yang membangun basis kediriannya pada kesadaran utuh tentang tujuan utama pembelajaran.

Kejelasan orientasi kelas merupakan hal mendasar ketika wibawa kelas itu hendak dibangun. Kewibawaan kelas adalah perisai utama saat panji-panji keberhasilan pendidikan hendak kita kibarkan. Jangan terpengaruh sedikitpun dengan gagasan diluar tujuan yang pasti, sebab pendidikan membutuhkan kepastian langkah. Kelas punya satu tujuan yaitu tujuan yang telah dirumuskan oleh mereka para penyelengara pendidikan dalam satu meja diskusi yang ditentukan berdasarkan filosofi masyarakatnya. Bukan tujuan orang tua, bukan tujuan para kapitalis dan atau tujuan-tujuan yang lain.

Kalau masyarakat atau bangsa kita belum memiliki orientasi kemana masyarakatnya akan dituju, maka itu merupakan prioritas utama yang harus diperhatikan. Arah pendidikan kita sangat ditentukan oleh arah masyarakat atau pemerintah. Saran yang ingin kita sampaikan adalah kejelasan arah pendidikan yaitu arah yang ditentukan dan didasarkan atas tujuan masyarakat. Tentu saja stujuan masyarakat yang humanis, demokratis, berkeadilan dan berkesejahteraan sesuai dengan karakter asli masyarakatnya. Kita adalah masyarakat yang sangat menghargai, nilai sopan-santun, menghormati dan jiwa keagamaan yang kuat. Bukan masyarakat yang hedonis atau masyarakat yang merasa paling modern tapi melupakan nilai moralitas dan spiritualitas. Masyarakat dan pendidikan dalam hal ini tentu saja adalah satu kesatuan. Sehingga bagaimana wujud kelas itu ditampilkan dan dihidupkan akan sangat ditentukan jiwa masyarakatnya. Kalau masyarakat masih memperdebatkan tujuan masyarakatnya, maka wajar jika wibawa kelas pun akan sulit diwujudkan. Meskipun demikian sejauh dan sekeras apapun perdebatan masyarakat dan tokoh tentang tujuan masyarakat dan kebudayaan kita. Hal mendasar dalam pendidikan tentu saja dapat kita sepakati. Dari sana tentu wibawa kelas dapat dipastikan. Kelscas pun tidak perlu goyah dalam berproses sebab telah ada pondasi yang kuat. Dan kita semua termasuk orang tua pun harus diberikan penyadaran tentang makna kelas itu. Kembalikan makna kelas pada tempatnya. Kembalikan guru di kelasnya. Perlakukan murid sebagaimana seharusnya murid dan tidak perlu berpikir lain pada mereka kecuali memanusiakannya. Bukan menjadikannya mesin atau robot-robot kapitalis. Bukan pula menjejalkan ke dalam dirinya semua kecerdasan intelektual, tapi emosional dan spiritualnya dilupakan. Pendidikan dalam kelas kita adalah pendidikan untuk mengembangkan semua potensi anak baik inteketual, emosional dan juga spiritualnya sebab potensi inilah unsur-unsur utama kewibawaan kelas pembelajaran. Wibawa kelas kita adalah ruh yang harus terus ada. Wibawa kelas pembelajaran kita adalah penjaga tapal batas nilai-nilai moral agar tetap pada posisinya yang kokoh. Hilangnya wibawa kelas kita dapat terjadi karena kita lalai. Hilangnya wibawa kelas pembelajaran kita adalah bencana pendidikan. Tapi bencana tidak akan ada selama kita menyadari hal utama dalam kewibawaan kelas. Wibawa kelas pembelajaran kita adalah gambaran bagaimana masyarakat kita. Wibawa kelas kita adalah gambar pendidikan kita, wibawa kelas kita adalah gambar budaya kita. Karena itu jangan biarkan wibawa kelas pembelajaran kita hilang. Pastikan ia terus ada.[]

­­_____________

*Arif Budiman, saat ini aktif sebagai tenaga pengajar dan Tim Pengembang kurikulum di SMP Internat Al-Kausar Jl. Habib, Desa Babakan Jaya Sukabumi Telp. 0266734576, 0266734577 HP: 08176661322 E-mail: tirta_pawitra@yahoo.co.id

PEMBELAJARAN KONTEKSTUAL

PEMBELAJARAN KONTEKSTUAL

Oleh: Arif Budiman[1]

Sudah menjadi rahasia bersama bahwa sebuah pembelajaran harus dikemas dengan inovasi. Apapun inovasi yang dilakukan oleh guru tentu akan diapresiasi sebagai produktifitas pembelajaran artinya inovasi adalah karya guru saat mengajar di kelas sehingga kelas menjadi menarik. Belajar tidak harus dalam kelas tapi dapat dilakukan diluar kelas (Learning Out Door). Itu adalah satu bentuk inovasi pembelajaran dengan segala variasi yang bisa dikembangkan.

Senada dengan semangat inovasi pembelajaran tersebut, Elaine B. Johnson menyuguhkan konsep Contextual Teaching Learning dalam metode pembelajaran. Menurut Prof. Dalam konsep CTL yang diuraikannya mengandung dua asumsi dasar

Pertama, kelas tradisional yang memenjarakan kreatifitas anak. Asumsi ini meyakini bahwa setiap anak bisa berkembang dengan gaya dan potensinya masing dengan cara yang tidak monoton. Kelas tradisional hanya meyakini pembelajaran dari satu arah, teacher oriented, artinya guru sebagai pusat pembelajaran.

Kedua, asumsi yang mendasarkan pemikirannya pada Tantangan Kontekstual. Pada asumsi ini kecerdasan sekolah dan guru melihat tantangan lingkungan social, politik dan budaya menjadi kata kunci dalam inovasi ini. Maka seorang guru dalam metode Contextual Teaching Learning (CTL) dituntut untuk selalu meng up-date pengetahuan dan wawasannya tentang metode-metode terbaru yang dikaitkan dengan tuntutan zamannnya.

Contoh beberapa metode CTL yang bisa dilaksanakan misalnya kelas bisa dimodifikasi sebagai ajang kompetisi Cerdas Cermat dengan men-setting ruangan kelas kita menjadi ruang sebagai ajang perlombaan Cerdas Cermat. Guru adalah sutradara, nara sumber atau juri dalam cerdas cermat itu.

Bentuk-bentuk inovasi CTL yang lain anak dapat membuat Drama di luar Kelas. Anak juga bisa melakukan kunjungan dan kajian Perpustakaan dengan Modul yang telah disediakan guru. Anak diajak untuk melakukan praktek membuat suatu karya yang terkait dengan mata pelajarannya masing-masing, itu juga bisa dikategorikan pembelajaran yang kontekstual. Intinya selama pembelajaran itu dirancang dan disesuaikan dengan potensi apa yang tersedia di lingkungan masyarakatnya, selama itu kegiatan itu masuk kategori Pembelajaran CTL.

Tidak harus dengan bahan mahal dan sulit dijangkau, sebab CTL hanya yakin pada satu prinsip kontekstual, artinya lingkungan adalah Sumber Pembelajaran yang tersedia dengan melimpah. Alam disekitar kita sangat baik digunakan sebagai Media pembelajaran. Lingkungan Persawahan yang luas adalah Pusat Sumber Belajar yang sangat memadai untuk seorang anak belajar tentang banyak hal terutama dalam hal ini dapat digunakan dalam pembelajaran Biologi. Atau kehidupan Nelayan yang ada di sekitar kita adalah juga Sumber Belajar yang sangat berarti untuk melaksankan kegiatan Pembelajaran sosiologi ataupun ekonomi.

Ajak anak-anak kita keluar kelas dan kuatkan pemahaman mereka tentang fenomena lingkungan dengan dasar keilmuan sesuai materi pelajaran. Jangan lupa ajak anak-anak kita untuk melihat kondisi kawan-kawan atau anak seumuran mereka yang tidak seberuntung mereka, semata agar mereka belajar apa artinya Bersyukur.



[1] Guru Sejarah MAN 21 Jakarta,

NOVEL DAN PEMBELAJARAN

NOVEL PEMBELAJARAN

Oleh: Arif Budiman **


Pemanfaatan Novel sebagai media pembelajaran Ilmu Sosial, begitulah kurang lebih sebentuk upaya baru yang dilakukan agar pembelajaran kita menjadi lebih bermakna. Bermakna sebab apa yang diajarkan dapat diperlihatkan dalam contoh cerita yaitu lewat pemaparan kisah-kisah dalam novel. Selain itu pembelajaran bisa menjadi bermakna sebab apa yang dipelajari dapat menimbulkan kesan mendalam dan terlihat adanya perubahan pada struktur potensi anak, baik itu pengetahuan, sikap maupun ketrampilannya. Inilah poin penting dalam kegiatan pembelajaran yaitu terjadinya perubahan. Jika tidak ada perubahan itu, maka pembelajaran yang itu sesungguhnya telah gagal. Dengan demikian yang dimaksud dengan kata bermakna untuk hasil akhir proses pembelajaran dicirikan dengan telah terjadinya perubahan itu.

Novel adalah buku bacaan dengan kronologi cerita tentang suatu bidang kehidupan. Brown dengan karyanya The Da Vinci Code secara tidak langsung sedang memberikan pembelajaran pada kita tentang sejarah Kristen dan sejarah Eropa. (Walau Novel ini dinilai controversial). Tapi setidaknya ada sejumlah fakta otentik yang dipaparkan yang mengandung nilai pengetahuan yang bisa dipertanggungjawabkan. Yang controversial atau yang fiktif diberi penekanan. El-Shirazy dengan novel Ayat-Ayat Cintanya memaparkan sisi kehidupan masyarakat Mesir berikut aktifitas intelektual yang ada didalamnya, terutama aktifitas mahasiswa Indonesia yang sedang menimba ilmua disana. Sejumlah fakta tentang Mesir sangat nyata dipaparkan.

Bukankah dari Novel itu kita tidak sekedar sedang belajar atau membaca kisah cinta, tapi dari novel itu kita sesungguhnya sedang belajar tentang banyak hal. Kisah tokoh Fakhry dalam novel itu banyak mengajarkan tentang nilai-nilai agama. Wajar jika dalam Kover depan disebutkan bahwa novel Shirazy adalah Novel Pembangun Jiwa sebab di dalamnya banyak terdapat kisah dan fakta yang berkaitan dengan penguatan jiwa tentang keimanan dan juga fakta-fakta serta uraian-uraian agama yang sangat kaya.

Novel “Pitaloka” karya novelis muda Tasaro (Taufik Sapto Rohadi) berusaha memaparkan realitas dunia nyata dalam zaman yang berbeda. Karenanya Tasaro harus paham betul dengan sejarah zaman Majapahit. Selebihnya ia memang sedang menelaah dan membuat analisis untuk tidak mengatakan berfantasi dengan fakta sejarah yang ada. Dalam etika penulisan novel sejarah, fantasi itu adalah hal yang lumrah alias dibolehkan. Selama fantasi itu adalah hasil analisis sebelum fakta sesungguhnya ditemukan. Kita juga masih ingat novel tebal karya Pramoedya Ananta Toer yang bertutur masa keruntuhan majapahit. Disana dipaparkan dengan sangat nyata bagaimana social setting dan political setting masa itu demikian jelas mewarna. Dan itulah pengetahuan sejarah. Selain cerita atau kisah cinta yang kita dapat, dengan membaca novel itu kita juga secara tidak langsung dikuatkan dengan pengetahuan zaman atau jiwa zaman.

Novel punya arti lebih dibandingkan sekedar kisah cinta atau pengalaman fantastic tokoh-tokohnya. Novel juga punya muatan ilmu pengetahuan yang luas dan kaya. Saat novel-novel yang ada punya nilai lebih dan mendasar bagi hidup manusia saat itulah novel itu masuk dalam deretan karya besar yang dicari karena ia dibutuhkan. Hari ini novel-novel yang terpampang mengagumkan itu tidak lain karena karyanya ber-makna lebih. Bagi pecinta novel sejati, keberadaan novel adalah sahabat paling setia bahkan saat tidur sekalipun. Novel menjadi teman yang sangat dekat dan “mau mengerti” kondisi kita sebab ia memang mudah dibawa kemana-mana. Dibaca isinya untuk didapatnya makna dan dibaca kembali saat kita ingin kembali mendulang makna. Atau menjadi rujukan saat kita lupa dengan kata-kata Indah sang penulis dalam novelnya.

Pembelajaran menggunakan media Novel digunakan saat kita bisa menangkap momentum tepat yang ada pada peran novel dengan tuntutan kreatifitas dan problematika pembelajaran secara umum. Pembelajaran punya peran sebagai sarana penyampai informasi, novel pun tidak diragukan punya peran itu. Sebagaimana informasi tentang kegiatan intelektual di Mesir dengan segala aktifitasnya terinformasikan secara jelas dalam Ayat-Ayat Cinta-nya Shirazy. Informasi tentang sejarah Eropa dan sejarah Kristen dalam Fiksi-nya Dan Brown begitu detail digambarkan. Novel adalah teman, novel juga seorang guru sekaligus pembimbing. Ia jelas-jelas punya peran sebagaimana peran-peran dalam pembelajaran. Pembelajaran punya peran pembentukan sikap dan kepribadian, novel juga punya sisi atau peran-peran pembentuk kepribadian sebagaimana El-Shirazy menyebut novelnya dengan Novel pembangun Jiwa. Ia dengan sangat berwibawa dan tanpa terkesan menggurui berdakwah menyampaikan tuntunan agama. Pembelajaran sebagai fungsi pemersatu dan pembentuk semangat kebangsaan, terlihat dalam karya Pramoedya, “Arus Balik” dan karya Tasaro “Pitaloka”, dua buah karya yang mengurai sisi lain sejarah Majapahit dalam kisah Romatik. Pramoedya didalam karyanya menegaskan apa arti Majapahit. Tasaro pun sedang memperjelas kekuatan sejarah Majapahit pada Sisi Pitaloka. Dua karya ini secara tidak langsung sedang menanamkan Nilai Nasionalisme dan cinta kebangsaan.

Jadi jelas bagi kita bahwa Upaya kita memanfaatkan media yang ada untuk menghasilkan sesuatu yang lebih bermakna itulah yang disebut momentum kreatifitas guru dalam pembelajaran. Dan momentum itu dinamakan kreatifitas pembelajaran untuk mendapatkan pembelajaran menjadi lebih bermakna.

Keywords:

Novel Pembelajaran: Mengabdi sepenuhnya pada pendidikan, kemanusian dan peradaban

__________

**Arif Budiman, Saat ini aktif sebagai tenaga pengajar dan Anggota Tim Pengembang Kurikulum di MAN 21 Jakarta, Jl. Raya Tambun Rengas Rorotan Cilincing Jakarta Utara. 08176661322


Selasa, 20 Desember 2011

MERAWAT SEPEDA BUTUT UMAR BAKRI

MERAWAT SEPEDA BUTUT UMAR BAKRI
Arif Budiman

…………………………………………………….

Umar Bakri, Umar Bakri, 40 tahun mengabdi

Jadi Guru Jujur berbakti memang makan ati……

Masih ingat dengan sepenggal syair lagu Umar Bakri? Itulah lagu yang sering disenandungkan Iwan Fals untuk guru-guru Indonesia. Masihkah ingat dengan sepeda butut Umar Bakri? Lagu itu memberi gambar yang nyata tentang nasib guru-guru di Indonesia. Setidaknya nasib guru pada masa lagu itu diciptakan. Guru pada masa lalu adalah guru-guru yang terabaikan. Gaji mereka yang pas-pasan meski PNS masih snagat memprihatinkan, terlebih nasib guru Honor pada masa itu. Umar Bakri pada masa itu adalah orang yang bekerja dalam dua untutan yaitu tuntutan pemenuhan kebutuhan dan tuntutan untuk mampu mendidik anak Didik menjadi generasi yang terbaik dan utuh.

Mereka adalah simbol pengabdian yang jujur dan penuh bakti. Guru pada masa lalu adalah guru yang berbakti ikhlas demi perbaikan karakter anak bangsa. Dalam lagu Umar Bakri tergambar bagaimana proses pembelajaran yang dilakukannya dihiasai dengan kesabaran karena anak-anaknya yang bengal. Inilah tantangan sesungguhnya yang dihadapi guru yaitu saat ia harus menghadapi anak-anak atau murid yang sangat beragam sifat dan karakternya. Tiada modal lain kecuali kesabaran dengan tetap berusaha memenuhi kebutuhan diri sendiri dan keluarganya agar dapur tetap ngebul.

Seiring zaman reformasi, selain reformasi telah berdampak pada perubahan bidang politik. Reformasi juga memberi pengaruh pada bidang pendidikan sehingga suara-suara perbaikan nasib dunia pendidikan pun bermunculan. Tak kurang Novel Laskar Pelangi juga menyumbang upaya peningkatan aspek pendidikan dimana disana diceritakan nasib pendidikan di Balitong. Di zaman kepemimpinan SBY, paket kebijakan di bidang pendidikan cukup signifikan seperti peningkatan Tunjangan Guru adanya pendidikan gratis di tingkat pendidikan dasar 9 tahun, sertifikasi guru hingga peningkatan sejumlah program pendidikan yang lain.

Kini di zaman reformasi dan kepemimpinan SBY, dunia pendidikan masih mendapat perhatian serius hingga lahir peningkatan anggaran pendidikan hingga menembus angka 20% walau masih perlu dievaluasi kembali apa betul anggaran 20% itu sudah sesuai dengan amanat yang dikehendaki atau tidak. Namun secara umum pendidikan telah terangkat dan mendapat perhatian yang intensif dari pemerintah.

Kini guru Indonesia telah merasakan betapa pendapatan yang telah mereka dapatkan itu telah mencukupi kebutuhan hidupnya. Peningkatan kesejahteraan dalam dunia pendidikan ini menjadikan sebagain masyarakat berlomba untuk masuk dunia pendidikan karena tergiur gajidan tunjangannya. Kini wajah guru Indonesia tidak seperti apa yang digambarkan dalam sosok Umar Bakri dalam lagunya Iwan Fals. Mereka tidak lagi naik sepeda sebagaimana Umar Bakri.

Guru Indonesia kini tidak lagi naik sepeda butut sebab mereka telah naik motor bahkan Mobil. Jika lagu Umar Bakri adalah kritik buat pemerintah terhadap nasib guru yang pernah terabaikan, maka kini kritik itu itu telah di dengar dengan perubahan untuk meningkatkan kualitas pendidikan walau masih ada kekurangan disana sini. Para guru harus berterima kasih pada pejuang pendidikan, karena jasa mereka nasib guru kini terangkat. Tapi para guru juga jangan lupa dengan sepeda butut Umar Bakri. Artinya meskipun perhatian terhadap guru dan pendidikan meningkat, janganlah lupa pada kejujuran dan bakti yang semestinya selalu ada pada sosok guru Indonesia.

Pertanyaan besar perlu diajukan, apakah peningkatan kesejahteraan guru berbanding lurus dengan perbaikan kualitas pendidikan? Jika yang terjadi para Guru malah santai dengan tugasnya maka tak ada gunanya mengganti sepeda Umar Bakri dengan motor ataupun mobil yang beraneka macam. Jika guru di kelas masih menggunakan metode konvensional, maka tunjangan itu tak ada artinya. Jika masih ada praktik ketidak jujuran dalam penyelenggaraan pendidikan, maka sebaiknya guru kembali mengenakan sepeda Umar Bakri.

Tanpa kita sadari lagu Umar Bakri telah melambungkan nama guru sebagai sosok penuh kekuatan yang tak ternilai harganya dengan semua tunjangan dan dana sertifikasi yang diberikan pemerintah kepadanya. Sepeda Umar Bakri tidak tergantikan oleh semua dana-dana dan program kesejahteraan yang diberikan pemerintah untuk guru.

Kita masih berharap pendidikan berjalan dengan logika yang benar seperti peningkatan kesejahteraan berbanding lurus dengan peningkatan kualitas pendidikan. Kenyataan yang ada masih diambang normal (untuk tidak mengatakan memprihatinkan). Meskipun demikian masih ada yang memiliki keinginan meningkatkan kualitas pendidikan. Akibat peningkatan kesekahteraan itu, serta merta geliat pendidikan meningkat yang terwujud dalam program-program pengembangan. Paket-paket pelatihan pun di set dalam upaya pengembangan itu. Dana-dana penelitian pun meningkat dan ini memotivasi guru untuk melakukan inovasi dan kreatifitas dalam pembelajaran. Bagi sekolah peningkatan itu terlihat pada perbaikan sarana gedung dan pemenuhan kebutuhan sekolah seperti alat-alat dan sara pembelajaran baik buku maupun teknologi atau alat-alat modern.

Jika semangat Umar Bakri itu masih ada pada guru-guru di era kesejahteraan ini, kita sangat yakin pendidikan akan gilang gemilang. Bukan guru yang memanfaatkan program-program peningkatan mutu pembelajaran hanya untuk memenuhi kepentingan sendiri. Guru kita masih ada yang belum menyadari tugas dan fungsinya secara benar. Tidak sedikit penampakan-penampakan baru yang mengaku sebagai Umar Bakri. Padahal ia tak mengenal siapa itu Umar Bakri.

Hari ini, sepeda butut Umar Bakri mungkin telah dimuseumkan tapi kita berharap ia tidak dimusnahkan. Harus ada selalu sepeda Umar Bakri sebab ia yang akan senantiasa mengingatkan kita tentang sejarah dan nasib guru Indonesia. Secara fisik mengganti atau Sepeda Butut dengan kendaraan yang lebih baik dan memadai itu baik tapi jangan lupa makna yang tertoreh pada sepeda Butut miliknya. Marilah bersama-sama merawat dan menjaga nilai sejarah sepeda butut Umar Bakri. Merawat sepeda Umar Bakri artinya membangun kesadaran pedagogik yaitu guru yang jujur dan berbakti dalam menjalankan tugas pembelajarannya. Ingat Sepeda Umar Bakri lebih mahal dari pada Kendaraan Mewah yang kita punya atau beli dengan Tunjangan Kesejahteraan yang diberikan Negara pada Guru-Guru Indonesia.

Kita masih yakin dan percaya bahwa Guru-guru Indonesia masih mau merawat Sepeda Butut Umar Bakri itu demi pendidikan terbaik Indonesia yaitu Guru yang jujur dan penuh bakti.


RUMI DAN INILAH YANG SESUNGUHNYA


RUMI DAN INILAH YANG SESUNGGUHNYA
Oleh: Arif Budiman[1]
Fihi Ma Fihi adalah buku yang disusun untuk menunjukkan mana yang sesungguhnya dari kehidupan ini. Judul aslinya bertajuk Fihi Ma Fihi yang kemudian diterjemahkan menjadi inilah apa yang sesungguhnya oleh A.J Arbery. Dalam bahasa Inggris diterjemakan menjadi “In It Is What In It”. Buku ini menjelaskan dengan sangat gamblang bagaimana jalan-jalan untuk memahami makna yang sesungguhnya hidup ini. Buku ini adalah karya Jalaludin Rumi Sufi terbesar dunia yang memiliki pengaruh sangat besar dalamdunia sastra dan pemikiran para sufi. Buku ini sesungguhnya merupan catatan yang ditulis oleh murid-murid Rumi saat mengikuti sesi pembelajaran di kelas.
Rumi adalah tokoh sufi yang hidup antara tahun . Awalnya ia adalah seorang pencari kebenaran dalam arti pencari kebenaran intelektual lewat buku-buku literasi ilmiah yang bertumpuk dan seorang pengajar dalam sebuah majelis-majelis ilmu. Dalam perjalanannnya menuju pencarain itu ia bertemu dengan seorang yang secara tiba-tiba masuk dalam ruang pembelajarannya dan membakar buku-buku Rumi yang dipakai dalam pembelajaran itu. Tentu saja Rumi sangat kaget dengan kelakuan yang dilakukan orang yang baru datang di majelisnya itu.
Inilah sesungguhnya peristiwa mahapenting dalam spiritualitas Rumi tentang bagaimana cara berpikirnya tentang kehidupan mengalami perubuhan. Kejadian itu adalah awal baginya untuk memaknai apa yang sesungguhnya. Bahwa apa yang ada dalam kehidupan ini sesungguhnya adalah pencarian dan upaya untuk menggapai cinta yang hakiki. Sosok laki-laki yang dating dalam majelis Rumi saat itu adalah Syamsudin Tabrizi yang telah mengantarkan rumi menjadi sufi besar sepanjang masa. Kedatangannya yang tiba-tiba telah menyentak alam berpikirnya bahwa tiada yang utama dan penting dalam pencarian hidup ini kecuali kedekatan pada Tuhan. Itulah makna pencarian yang sebenarnya dalam kehidupan. Sejak saat itu rumi mulai menekuni dunia sufi dalam persekutuan abadi dan pencarian hakiki pada Tuhan. Kesedihannya adalah ketika Tuhan jauh dari hidupnya.
Fihi Ma Fihi atau inilah apa yang sesungguhnya yang diterjemahkan oleh A.J Arbery memaparkan dengan sangat elegan tentang perlilaku kita dalam kehidupan. Apakah benar apa yang kita lakukan menuju pada gapaian yang abadi dan hakiki atau hanya mengikuti dorongan pandangan sesaat atau hawa nafsu semata. Atau kesombongan dan kebutaan intelektual dan melupakan hakekat yang sebenarnya dari perjalanan hidup kita yang sebenarnya. Fihi Ma Fihi adalah catatan yang dibuat oleh murid-murid Rumi saat mendengarkan kuliahnya di sesi pembelajaran yang sangat agung dan penuh kecintaan pada Tuhan. Beragam wacana dimunculkan berbagai puisi dalam banyak tema dicpta dalam kalimat-kalimat yang mengalir abakair gunung yang mengalirkan kesejukan,dimana suara gemericik menentramkan Jiwa, percik air yang mengenai muka kita membuat kita bercahaya dalam cahaya Tuhan akhir dari pencarian dan tujuan utama kedamaian.
Tidak tertulis dengan pasti kapan Rumi menuturkan kalimat-kalimat indahnya, sebab bukan itu fakta utama yang ingin dimunculkan dalam uraian uraiannya. Apalagi detik apa kalimatnya meluncur di tengah murid-muridnya yang sangat membanggainya. Ia menuurkan dengan kalimat langsung disusun atau dalam proses pemikiran panjang sebab kalimat-kalimatnya sudah terbangun dan tercipta lewat intusisi yang lama bahwa kehidupan adalah guru yang mengajarkan konseptualisasi dan menjadikan kata-katanya pun penuh makna lagi sulit dibantah sebab ia adalah kebenaran penenial, kebenaran yang dating dari Tuhan, itulah sebenar-benarnya kebenaran.
Tema Fihi Ma Fihi terdiri atas beberapa uraian yang kesemuanya adalah wacana pemikiran Rumi yang diajelaskan dalam bahasa-bahasa kehidupan dan persentuhannya dengan aspek-aspek kehidupan itu sendiri. Wacana-wacana itu adalah pengalaman yang dikuatkan oleh petuah teman sejatinya, Syamsuddin yang menguatkan gagagsan dan ide-idenya tentang Tuhan, manusia, kekuasaan dan moral. Ia banyak menggunakan bahasa-bahasa seperti angin, dahan pohon, ombak, kearifan raja dalam kepemimpinannya. Beliau juga banyak menyajikan ayat Quran dan juga hadits tentang kesejatian dan keutuhan agama dalam menjawab masalah kehidupan yang utama tersebut. Sungguh karya yang sangat inspiratif dan menggugah alam kesadaran kita tentang betapa apa yang ada disekitar kita belum tentu seperti apa yang kita lihat dan rasakan itu.
Tuhan adalah gagasan tertinggi dari semua pemikiran. Semua dibingkai dalam Konsep dan pemaknaan pada Tuhan. Tuhan adalah tujuan utama. Tujuan akhir dari semua pengembaraan Jiwa. PUncak kedamaian dan akhir dari semuacerita. Saat itu terjadi manusiatelah sampai pada Ultimate Goal (Tujuan Sempurna).
Fihi Ma Fihi terdiri dari beragam wacana pemikiran yang sangat menggugah dan menyentuh hingga dasar JIwa, misalnya. Tema yang sama dapat kita baca pada bab lain ketika Rumi dengan sangat baik mengungkapkan pengalaman spiritualnya. Banyak uraiannnya memunculkan Ide tentang Negara atau kerajaan atau dalam wacana itu disebut dengan istilah Amir. Rumi ingin menunjukkan dengan penuh kesadaran dan penyadaran bahwa mana yang lebih penting dari semua persoalan yang ada. Raja atau AMir yang sibuk dengan urusannya dibiarkan oleh Rumi, dengan tujuan untuk menyadarkan bahwa dalam urusan dunia, rakyat dan kekuasaan tidak lebih Indah dari urusan mendekatkan diri dan penyatuan diri dengan kebenaran lewat jalan-jalan Tuhan. Rumi hanya mau menemui sang Amir apabila sang Amir telah benar-benar m,enyelesaikan semua urusannya.
Masih tentang Amir, bagaimana Rumi dengan dengan Amir menjadi penasehat dalam hal spiritual. Bagaiman Rumi memadukan logika atau konsep kekuasaan Tuhan dnegan konsep kekuasaan Raja atau Amir. Saat sang raja demikian khwatir dengan dengan waktunya yang terreduksi oleh urusannya Rumi memberikan jawaban yang sangat menyejukkan. Sebab selama apa yang dilakukan Amir dalam rangka pelayanan pada Umat dan itu sepenuhnya dalam bingkai Tuhan maka itu termasuk Ibadah. Sungguh makna ini sangat mendalam dari semua makna kita saat memaknai kehidupan ini yang sangat sedrhana dan kadang terjebak pada Rutinitas yang menurut kita bukanb Ibadah, padahal Ibadah pada Tuhan sangat universal danmencakup semua wilayah.[2]
Perumpamaan Rumi tentang kebenaran yang sangat dikagumi dan sangat ditekankannya adalah perumpamaan lewat fenomena-fenomena alam seperti daun atau pepohonan. Kita dapat melihat bagaimana Rumi memandang kerendah hataian Rasulullah sebagai tauladan kebenaran dengan menggambarkannya seperti sebuah pohon yang tatkala batangnya menunduk maka batang-batang itu tertahan oleh adanya dahan-dahan itu. Itulah kerendah hatian yang sempurna yang ditunjukan oleh Rasulullah. Artinya Rasulullah adalah taudalan yang menjadi penyangga semua kebaikan yang ada di muka bumi. Subhanallah.[3]
Rumi, sesungguhnya adalah guru Cinta yang sebenarnya dari semua guru atau pujangga Cinta di sepanjang Zaman. Ia sangat elegan menerjemahkan makna Cinta. Terkhusus dalam hal ini adalah cinta pada seorang gadis yang dalam pandangannya adalah bukan terletak pada keindahan fisik namun lebih tinggi dari fisik yang Indah dan cantik itu adalah kecintaan pada apa yang ada dalam diri sebenar-benarnya yaitu kecantikan Jiwa. Rumi menempatkan cinta sejatinya pada Tuhan dan itulah tujuan yang jelas. Bukan orang barat yang tidak mengerti kemana Tujuan akhir dari filsafat yang dibangunnya. Bukan orang barat yang mengatakan bahwa semua tindakanya berasal dari dirinya dan kehendaknya. Tuhan diabaikan, Tuhan tidak punya tempat. Tapi bagi Rumi kalaupun Rumi menggunakan konsep barat tetang evolusi misalnya, gagasan evolusinya adalah gagasan evolusi yang lahir dari konsepnya tentang tujuan akhir yang jelas yaitu cinta pada Tuhan.[4]
Bagaimana juga pandangan Rumi tentang pembelajaran atau ilmu pengetahuan yang sesungguhnya. Tentu tidak lepas dari pengalaman pribadi Rumi sendiri tentang keberalihannya dari seorang penggila kajian-kajian ilmiah beralih menjadi ahli Sufi yang sangat kenamaan. Baginya kebenaran yang ada pada kajian-kajian ilmiah selama ini tidak mampu mengantarkannya pada capaian yang sesungguhnya dari gagasan kesejatian sebab kajian ilmiah dan ilmu-ilmu yang bertumpuk dalam buku-buku itu tidak mampu menggapi ketinggia yang tertinggi yaitu jiwa. Tapi justru kajiannya itulah yang telah mengantarkannya pada kedamaian dan ketenangan sempurna. Itu lebih utama baginya.[5]
Wacana-wacana Rumi sangat kental dengan penyampaian puisi-puisinya yang isoterik; sedikit saya ingin mengangkat satu Puisinya yang sangat menarik dan semuanya sebenarnya menarik. Ini tentang pusinya saat ia ingin mengapresiasi:
Sebagimana Pujangga berkata:
Kamu adalah transkripsi sejati
Dari arketipe Ilahi
Sebuah kaca tempat keindahan Matahari
Memancarkan SInar
Dari dalam dari luar
Kemana saja ia tergeletak
Menerima setiap hasrat
Dan berteriak, “ Inilah aku.”
Dua kekuatan yang tidak asing bagi Rumi dan wejangan spiritualnya adalah Musik dan Puisi. Dua media yang sangat efektif untuk mengungkapkan apa yang sesunggunya dan apa dia pahami tentang konsep kehidupan. Ini jalan Tumi jalan yanb Indah dan sangat Universal sebagaimana Musik dan Pusisi adalah bahasa Universal yang mampu menembus batas-batas peradaban dan juga kangkuhan zaman yang mungkin sangatjauh dari nilai-nilai humanis. Lewat Musik, pertemuan dan upayanya untuk dekat dengan Tuhan begitu terasa. Sangat transendetan dan penenial. Musik menyirep pendengarnya dalam rentak tari Sama yang “memabukkan” semata karena pertemuan dengan Tuhan demikian terasa dangat intim atau sangat dekat.
Puisinya adalah bahasa Jiwa yang murni yang mengalir dari mulutnya kalimat Indah tanpa persiapan tanpa konsep tapi mengalir bak air sejuk di Sungai di satu Gunung yang menentramkan Jiwa. Tentu karena pikiran dan Jiwanya telah terkonsep dalam satu pemahaman dan pemaknaannya yang dalam tentang Tuhan sehingga ia mengalir apa adanya. Tapia pa adanya yang sangat sempurna. Sempurna sebab ia adalah bahasa Tuhan. Puisinya adalah bahasa Tuhan, bahasa yang mengungkapkan keagungan Tuhan dalam dimensi yang Universal dan menembus sekat-sekat pemikiran yang berbeda.
Pada akhirnya Apa yang sesungguhnya ingin disampaikan Rumi pada kita adalah bagaimana kita memahami bahasa kehidupan dengan kalimat yang Indah sebab ia adalah bahasa Tuhan bahasa sempurna. Kalimat-kalimat dalam Fihi Ma Fihi adalah kumpulan kuliah yang Indah yang dicatat oleh murid-muridnya yang saying jika kuliah yang Indah itu tidak diabadaikan dalam sebuah catatan atau buku. Tujuan sejati dan utama dalam perjalanan hidup manusia. Wallu alam Bi Shawab
Bibliography
Amin, Miska Muhammad. Epistimology Islam, Jakarta: UI Press.
Gaarder, Jostein. Dunia Sophie. Bandung: Mizan Pustaka. 2006
Muthahari, Ayatullah Murtadha. Pengantar Epistimologi Islam. Jakarta: Shadra Press. 2010
Muhammad Taqi Misbah Yazdi. Buku Daras Filsafat Islam: Orientasi ke Filsafat Islam Kontemporer. Jakarta: Shadra Press. 2010
Arbery, A. J . Inilah Apa Yang Sesungguhnya. Yogjakarta. Risalah Gusti. 2002
Nasution, Harun, Falsafah dan Mistisisme dalam Islam. Jakarta: Bulan Bintang. 2002
Schimel, Annemarie. Dimensi Mistik dalam Islam. Jakarta: Bulan Bintang. 2002


[1] Mahasiswa S2 Islamic Philosophy, The IC Jakarta. Saat ini masih aktif mengajar di MAN 21 Jakarta. E-mail: tirta_pawitra@yahoo.co.id
[2] Hal 13
[3] Hal 141
[4] Hal 271
[5] Fihi Ma Fihi Hal 211

Cari Blog Ini