Selasa, 20 Desember 2011

HISTORISITAS A-QURAN

HISTORISITAS AL-QURAN
(Membaca Modus Hermeneutika dalam Pemikiran Ahmad Wahib)[1][1]
Oleh: Arif Budiman[2][2]
Kesejarahann Al-Quran adalah upaya pemahaman pada Al-Quran berdasarkan kesadaran sejarah. Ahmad Waib dalam buku Pergolakan Pemikiran Islam: Catatan Harian Ahmad Wahib yang diterbitkan LP3ES[3][3] mengangkat kesadaran sejarah dalam kajian AL-Quran. Uraiannya tentang makna Al-Quran menggelitik penulis untuk mengaitkannya dengan tema hermeneutika. Sehingga menyebut Ahmad Wahib sebagai salah satu pemikir yang memiliki konsep hermeneutika sebagaimana Nashr Hamid Abu Zaid dan Farid Esack dan para pendahulunya, rasanya terlalu dini. Tapi bahwa pemikiran dan pembacaannnya terhadap Al-Quran memiliki kesamaan dalam prinsip hermeneutika sudah terlihat dalam setiap catatannya. Kajian ini memfokuskan pada pembahasan dan pemikiran Ahmad Wahid pada Al-Quran.
Biografi Ahmad Wahib
Ahmad Wahib adalah tokoh yang lahir pada tanggal 9 November 1942 di Sampang, Madura dengan kultur Islam tradisional yang masih sangat kuat. Ayahnya adalah tokoh yang berwawasan terbuka dan mendalami secara serius gagasan pemikiran Muhammad Abduh. Kuliah di Jogjakarta di Fakultas MIPA dan aktif dalam berbagai kegiatan kemahasiswaan. Keprihatinannya pada kondisi pemahaman Islam mulai tumbuh subur saat dirinya masih aktif tercatat sebagai mahasiswa. Ia adalah salah satu pemuda yang memiliki keterbukaan dan toleransi yang tinggi pada agama lain. Mungkin karena ia pernah tinggal di asrama Realino di Jogjakarta. Ia bahkan pernah mimpi bertemu dengan Bunda Theresa. Selesai studi di Jogja ia pergi merantau ke Jakarta dan mencoba peruntungannya menjadi wartawan Tempo dengan gaji yang sangat pas-pasan. Meskipun begitu Ahmad Wahib terus berusaha bertahan di Jakarta dengan tetap membangun idealismenya pada nilai-nilai keislaman dan keindonesiaan. Ia adalah tipikal pemuda yang sangat bersahaja. Kontrakannya di Kebon Bawang Jakarta nampak sangat memprihatinkan bahkan ia pernah menyatakan buku-bukunya yang dimakan rayap.
Konsep Hermeneutika
Membaca pemikiran Ahmad Wahib dan Hermeneutika adalah narasi besar tentang bagaimana semestinya Al-Quran diperlakukan. Agar ajaran Islam membumi dan memberikan solusi terbaik bagi peradaban bukan sebaliknya. Hermeneutika berasal dari kata hermes. Pertama sebagai sebuah konsep penafsiran dilakukan oleh orang Kristen untuk menafsirkan Bibel. Dalam kaitannya dengan bangunan Hermeneutika. Tokoh-tokoh pemula seperti Schliermacher, Dilthey, telah meletakan dasar pemikiran Hermeneutika.
Dari semua pandangan Hermeneutika nampaknya kita mesti berhenti sejenak dan meminta salah satu para konseptor Hermeneutika melirik pemikiran Ahmad Wahib. Adakah konsep Ahmad Wahib memiliki prinsip-prinsip hermeneutika.? Tujuan penulisan ini juga tidak untuk menobatkan Ahmad Wahib sebagai tokoh yang memiliki pemikiran mendalam tentang hermeneutika. Tujuan tulisan ini lebih didasarkan pada pentingnya mengajukan alternative pemahaman yang konprehensif dalam mengkaji al-quran. Jangan sampai al-quran yang disalahkan sebagai biang kekersan atau terorisme yang melanda dunia. Tapi sudah semestinya maksud al-quran dapat dibaca dengan pemahaman yang benar. Tokoh seperti Gadamer mengungkapkan dengan gamblang betapa agama dan pemahaman kita pada teks akan terkait dengan nilai historikalitas dan proses dialektika.
Heidegger
Fikiran manusia sangat dipengaruhi Bejana lingkungannya. “Sipa saya sangat dipengaruhi oleh lingkungannya” bagaimana ia hidup dan menjalani kehidupan. Ketika manusia menemui sesuatu dalam hidupnya. Missal seseorang menemui objek dengan cakrawala yang berbeda. Masing-masing punya Pra Asumsi yang dibentuk dari Historikalitas yang berbeda. Ini pondasi Heidegger.
Heideger melanjutkanya ke Fenomena bahasa. Bahasa ini bersumber dari sang ada. Dengan bahasa mansuia bisa belajar tentang realitas. Harus ada simbolisasi fisik untuk mendekati Tuhan. Menurut Heideger bahasa adalah Rumah Ada. Kata Kang Hadi disebut Loudspeaker of Being. Sehingga dalam hal ini pemahaman kita terhadapTuhan, dapat didekati dengan bahasa yang dipakai dalam suatu teks. Jika itu diberlakukan pada teks agama misal Al-Quran maka Tuhan dalam kaitannya apa yang dimaui sang Ada itu dpat dikethui lewat bahasa kitab.
Bahasa kita atau bahasa manusialah yang terbatas, sementara realitas tak terbatas. Menurut Heidegger kita selama ini terlalu diteorisasi. Ia menyarankan untuk mengabaikan teori-teori itu berdasarkan fenomena. Nature wujud memang mengada, jadi sudah ada dengan sendirinya. Ada itu kaya penyakit, karena dia tidak memperlihatkan sesuatu dengan gejala. Misalnya gejala tipes yang terbaca.
Heidegger bicara realitas manusia yang muncul secara histories dalam ruang dan waktu. Manusia tidak datang dari ruang facum (kosong). Manusia ada dalam konteks kelingkunganya. Setiap orang particular juga manifestasi. Karena manusia punya wawasan masing (baca Prasangka, maka memahami realitas). Sehingga sangat sulit untuk mencapai kepahaman.
Realitas adalah manifestasi yang tak terbatas. Bahasa juga manifestasi sang Wujud. Dalam bahasa yang terbatas terkandung makna yang tanpan batas. Contoh jika ilmu Allah dituliskan, maka 7 lautan tidak akan mampu atau tidak akan cukup untuk menuliskan ilmu Allah tersebut. Setiap teks adalah manifestsi sang Wujud. Kita yang terikat ruang dan waktu, tapi sang wujud itu tak terikat ruang dan waktu.
Biarkan yang ada bicara sendiri, Heidegger adalah catatan kaki Mulla Shadra, artinya tentu betapa hal ini sangat penting dalam pemikiran Mulla Shadra. Teks adalah Horizon sintesis antara teks dan horizaon ----disebut FUSION OF HORIZON. Realitas sangat banyak meyebabkannya tidak menggunakan Metode. Tujuannya sama tentu agar teks bisa bicara secara leluasa tentang dirinya. Artinya metode yang diguakan selama ini sama artinya telah menggunakan ukuran dan takaran yang sangat temporal, sementara manusia adalah horizon yang sangat luar. Ia ada dengan dirinya. Latar belakang pemikiran Gadamer antara lain
  1. Manusia temporal
  2. Bahasa itu merupakan manifestasi Ada
  3. Ekspresi dan makna yang tertangkap satu pemahaman individu, itu baru satu butir makna dari kekayaaan makna yang tersembunyi dalam ekspresi.
  4. Pemahaman manusia Bersifat Historis bukan Presuposisionals understanding
  5. Konsekuaensinya hermeneutika bersifat terbuka, produktif
  6. Understanding is co-eksistesial
Masih tentang Gadamer. Memahami menurut GADAMER bukan produksi atau reconstruksi, penganut Mazhab ini adalah mazhab rekonstruksi seperti dilthey, Schliemmacher dan Betti. Demikian halnya dengan mahzab Romantis. Kritik estetik, kesengan dianggap sebagai persepsi. Kata Gadamer saat aku meneliti realiata yang sangat kaya itu, kamu sendir telah sangat membatasi realitas itu sendiri. Biarkan Bumi menjadi Bumi arrinya biarkan fenomena yang ada bicara dengan dirinya sendiri. Tanpa kita mengintervensi apalagi merubah maknanya. Fusion of Horizon, peleburan Horizon kita hidup dalam tradisi. Kita dibentuk oleh tradisi dalam pemahaman. Saat berhadapan dengan teks, Ini adalah satu Horizon, tapi saat kita memahami buku.[4][4]
Dari uraian diatas dapat kami dirangkumkan beberapa pokok pemikiran hermeneutiki untuk dijadikan alat atau kacamata untuk meneropong Pemikiran Ahmad Wahib, antara lain:
1. Adanya Latar Belakang Hermeneutika
2. Adanya Upaya Penafsiran
3. Adanya Upaya Memahami
4. Adanya Upaya Rasional/Filosophis
5. Adanya Upaya Melawan Doktrin
6. Adanya Upaya Penggalian Makna
7. Adanya Keinginan yang Sama tentang Beragama yang Benar
Tokoh terakhir yang secara khusus menerapkan ilmu Hermeneutika ini dalam penafsiran Al-quran semisal Fazlur Rahman, Farid Esack dan Nashr Hamid Abu Zaid. Tersebut pertama justru merupakan guru dari Nurcholish Madjid yang merupakan teman dekat Ahmad Wahib saat aktif di HMI. Tokoh-tokoh tersebut memiliki konsentrasi yang sama yaitu tetang Islam dan pembaharuan. Meskipun Ahmad Wahib menilaib Nurcholish Madjid mengalami perubahan orientasi pemikiran[5][5]. Setidaknya melihat dua tokoh Wahid dan Nurcholish Madjid menarik sebab kedua tokoh ini sesungguhnya sama-sama memiliki pemikiran agama yang dalam. Namun karena faktor publikasi lah yang menjadikan Ahmad Wahib kurang dikenal di kancah pemikiran. Ditambah Nurcholish Madjid pernah menjabat ketua HMI saat di IAIN Jakarta selama dua kali masa kepengurusan.
Saya ingin melihat Ahmad Wahib dengan tujuh kacamata hermeneutika sebagaimana yang secara umum telah sama-sama kita baca:
A.    Latar Belakang Penafsiran Terhadap Al-Quran ( sebuah Tinjauan Umum)
Ahmad Wahib prihatin nasib umat Islam sebab Islam sebagai agama dengan penganut mayoritas di Indonesia tidak mampu memberikan kontribusi yang nyata bagi bangsanya. Setidaknya ada beberapa hal yang baginya cukup meggelisahkan dari umat Islam Indonesia, antara lain:
Penafsiran yang salah artinya kondisi umat Islam yang salah dalam memahami agamanya. Ahmad Wahib membangun argumen yang cukup keras (baca: kontroversial). Di salah satu pernyataannya ia mengatakan Jika nabi Muhammad adalah seorang filusuf maka kata-katanya adalah abadi. Namun nabi Muhammad katanya hanyalah seorang kepala pemerintahan pada masanya, maka segala kebijakan dan perilakukanya hanya tepat pada zamannya. Disini Ahmad Wahib ingin mengatakan bahwa Al-Quran bukanlah teks yang langgeng dalam arti praktis (Fi Kulli Makan, Wakulli Zaman). Apa yang diceritakan dalam Al-Quran adalah cerita zaman atau masanya. Sehingga ketika menerapkan Al-Quran untuk zaman sekarang tidaklah relevan. Dalam Ulumul Quran, A.H. John mengutip satu kata yang cukup mendasar. Seandainya nabi Muhammad hidup pada masa kini, maka beliau sangat prihatin. Dalam kata-kata ini terkandung makna bahwa praktek agama umatnya tidak seperti apa yang dikehendakinya.
Inti Pemaknaan Ahmad Wahib Kesejarahan Al-Quran
Ahmad Wahib tidak membuat pembedaan yang tegas antara Sunah dan hadits. Tapi ia memiliki pemikiran yang cukup unik tentang Al-Quran. Pemikiran ini didasarkan pada keprihatianan penafsiran Ayat dalam Al-Quran yang terkadang hanya menjadi justifiksi bagi kekuasaan dan kepentingan. Al-quran diartikan secara leterlijk. Padahal saat ayat AL-Quran diartikan secara apa adanya akan menimbulan banyak persoalan. Contoh yang diajukannya adaalh Negara teokrasi oleh rasulullah dengan mendirikan negara teokrasi sebab situasi saat itu memang mengharukan untuk membentuk negara teokrasi itu, tapi tidak tepat jika hal itu diterapkan pada zaman ini. Tidak ada alasan mengapa ia membuat contoh negara teokrasi. Kemungkinan situasi saat itu adalah masa-masa rusuh pasca revolusi 1965.
Kesejarahan AL-Quran menurut Ahmad Wahib dibangun dari pemahaman akan prinsip-prinsip sejarah. Pertama, ia menekankan aspek Historical Setting. Ia termasuk yang meyakini bahwa ayat-ayat dalam Al-quran itu turun dalam situasi zamannya. Ahmad Wahib menyebutnya dengan istilah meruang dan mewaktu. Historical Setting adalah setting waktu atau zaman yang melingkupi suatu kejadian yang dalam hal ini dimaksud adalah ayatnya. Jadi al-quran harus dipahami dalam konteks historis yang melingkupinya atau situasi zaman masa itu.
Aspek kedua Ahmad Wahib tentang sejarah adalah proses ideation yang artinya mengambil ide-ide, makna dan prinsip-prinsip sejarah. Proses ini dalam pemikiran Nashr hamid Abu Zaid bahwa dalam teks itu mengandung Makna dan Maghza. Sehingga dalam proses penggalian makna seorang penafsir akan diajak pada zaman Rasulullah dimana teks itu ada dan dari sana ia akan mengambil makna. Dalam proses pengambilan makan ini, Ahmad Wahib mengajukan perlunya ilmu-ilmu lain seperti sosiologi, politik dll sebab permasalahan yang dihadapi sudah sangat kompleks sehingga membutuhkan pendekatan yang multidisiplin.
Aspek ketiga, Ahmad Wahib menawarkan gagasan yang sangat fundamental (baca: cemerlang) Pertama dikenal dengan istilahh historical direction. Apakah ini sama dengan gagasan yang dibuat oleh Fazlurahman dengan konsep double movement, yang oleh Fazlurrahman dimaksud sebagai mengambil makna pada zaman dimana teks itu ada dan membawa makna itu pada masa kini. historical direction yang dimaksud Ahmad Wahib adalah bagaimana sejarah Rasulullah kita gunakan untuk menuntun dan menentukan sikap dan perbuatan pada masa kini.
Dengan cara ini, maka umat islam tidak perlu melakukan kesalahan dalam penerapan ajaran Islam yang benar sebab yang dilakukannya adalah sesuai dengan makna yang sebenarnya. Hari terpampang di depan mata bagaimana agama itu tampil sangat mengerikan. Ia ibarat monster yang siap membunuh siapapun yang menentangnya. Agama bukan lagi membawa kedamaian dan rahmatan lil alamiin.
Aspek keempat pemikiran Ahmad Wahid adalah Comunication with God, yang dalam konteks ini Ahmad Wahib dinilai sebagai pengikut ajaran Ahmadiyah garis Lahore yang meyakini masih ada wahyu setelah nabi Muhammad. Padahal dalam al-quran sangat jelas menyatakan bahwa nabi Muhammad adalah penutup para nabi. Terlepas dari perdebatan itu bahwa ada satu situasi saat manusia telah pada tahapan dimana tingkat intelektualitas itu sampai pada level yang sangat dimungkinkan baginya menggapai kebenaran yang hakiki sebagaimana nabi dan rasul juga manusia-manusia pilihan. Dalam konsep ini tentu kita hanya meyakini bahwa itu terjadi hanya pada manusia-manusia sempurna yang bias menjaga ahlak dan keilmuananya pun di luar manusia biasa. Ibnu Sina menyebutnya dengan tingkatan intelelek yang menjadikan tiadanya batas antara Tuhan dan manusia. (Isyarat Wa Tan Bihat[6][6])
Pemikiran Ahmad Wahib yang bekaitan dengan pemikian sejarah terlihat dalam beberapa argumentasinnya antara lain: Pertama, Quran sendiri ia pandang sebagai sejarah Muhamamad. Dan pandangan ini memberi dampak pada argumen yang otomatis sejalan dengan argumen pertama. Kedua Shalat olehnya dipandang sebagai kegiatan memahami dan mengkaji sejarah Muhamamad. Demikian halnya puasa ataupun haji ditempatkannya dalam konteks pemahaman terhadap sejarah nabi Muhammad. Ketiga, Al-Quran sebagai puisi Muhammad, yang itu artinya memberi julukan bahwa Rasulullah adalah Penyair. Nashr Hamid Abu Zaid punya analisa yang kuat.
Kesejarahan Al-Quran tentu dapat dibenarkan dalam beberapa aspek seperti rasulullah hidup dalam ruang dan waktu. Yaitu di Hijaz. Ini unsure utama sejarah, karenanya Al-Quran yang diturunkan pada waktu itu mengandung unsure sejarah. Tidak perlu juga merasa takut bahwa saat rasulullah hanya sebagai manusia sejarah bukan berarti mengkerdilkan rasulullah. Sebab sebagai manusia sejarah rasulullah telah meninggalkan makna-makna mendalam. Walaupun di aspek yang lain rasulullah juga melakukan tindakan yang hanya tepat untuk zamannya. Ia melakukan tindakan sesuai zamannya.
Mudah-mudahan bisa memberikan cabaran yang lebih baik jika dalam tulisan ini juga menyinggung pandangan Ayatullah Muhammad Baqir Shadr dalam bukunya “Paradigma dan Kecenderungan Sejarah dalam Al-quran” dengan mengatakan bahwa Al-Quran itu memiliki norma-norma sejarah. Bahasa Al-Quran adalah bahasa yang mengandung hukum-hukum sejarah seperti dorongan perkawinan, keberagaman. Dalam poin pentingnya Ayatullah Muhammad ingin mengatakan bahwa memahami kesejarahan termasuk dalam hal ini kesejarahan Al-Quran akan mengaktifkan daya pikir manusia dan tidak mudah pasrah dengan keadaan hanya karena keyakinan bahwa Tuhan sudah menggariskan di dalam Al-Quran. Sehingga dalam hal ini Al-Quran memiliki nilai aktif yang memotivasi manusia dengan nilai-nilai sejarah. Muhamad Bagir Shadr secara nyata menngunggulkan cara memahami Islam yang benar itu dengan penafsiran Maudu’i.
Ahmad Wahib menolak teokrasi karena basic demand pada masa nabi berbeda dengan basic demand pada masa kini. Muhammad Baqir Shadr kurang lebih juga memiliki pandangan yang sama dengan mengatakan bahwa Nabi menjelaskan teori-teori dalam Al-Quran dengan cara yang sesuai dengan lingkungan beliau di masa itu.
Nash Hamid Abu Zaid
Pemerhati dan juga pemikir aktif Hermeneutika ini rasanya paling produktif. Beberapa karyanya cukup menyisakan ruang diskusi dan perhatian umat Islam yang cukup besar. Bahkan ia hidup satu zaman dengan Ahmad Wahib. Nashr Hamid meinggal belakangan pada tahun 2011. Karenanya, menhadirkannya sebagai penyulut pemikiran hermeneutika ini, menjadi sangat relevan. Dalam hal ini kajian Nashr Hamid Abu Zaid tentang perbudakaan rasanya cukup relevan dijadikan pembanding bahwa perbudakan ada sebab masa itu memang sedang tumbuh kuat budaya itu. Tahapan yang dibuat Nashr Hamid misalnya. Pertama, Kedua, Ketiga dan Kempat. Terakhir, Dalalah atau kesimpulan bahwa perbudakan ditolak sebab tidak sesuai dengan zamannya. Zaman ini tidak tepat lagi melakukan perbudakan.[7][7]
Shalat adalah kegiatan mempelajari dan mengkaji sejarah Muhammad, pemikiran ini tidak ditemukan dalam pemikir Islam manapun. Dalam hal ini akan timbul satu penilaian bahwa Shalat menjadi hanya memiliki makna yang sempit. Shalat hanya berarti proses mempelajari, memahami dan mengkaji sejarah rasulullah. Penolakan padanya didasarkan pada makna yang luas tentang shalat. Kritik padanya adalah jika ia diartikan sebagai sekedar mengkaji sejarah Muhammad, apakah itu juga bisa dilakukan dengan seminar-seminar atau diskusi tentang Muhammad. Sejauh (dalam catatan hariannya) ini Wahib belum membangun konsep atau argumen yang kuat tentang Shalat yang dimaksudnya.
Ahmad Wahib juga memberikan contoh tentang relevansi fiqh. Baginya fiqh yang ada selama ini adalah fiqh Muhammad dan hanya sesuai dengan konteks dan zaman Muhammad. Karenanya dengan tuntutan waktu yang ada saat sekarang ini perlu adanya fiqh baru.[8][8] Fikih Muhammad adalah hasil sekulerisasi Transformatif terhadap ajaran Tuhan dalam situasi zaman Muhamamad pada abad ke-14 Masehi.
Kontroversi Tak terhindarkan
            Setelah meninggal, catatan harian Ahmad Wahib dibukuka Djohan Efendi. Saat itu ada dua naskah yang bersamaan waktunya dengan Naskah Soe Hok Gie, aktifis pergerakan tahun 1965-an. Unik sebenarnya sebenarnya kedua tokoh ini, oleh karena memiliki idealism yang sama tentang Negara. Soe Hk Gie lebih sangat konsern dengan gerakan politik dalam perpektif sosialisme yang kuat. Sebuah catatan juga bahwa pada masa itu rupanya pemikiran sosialisme sedang sangat digandrungi. Soekarno dalam kepemimpinan dan politik Indonesia sangat nyata terpengaruh akan idiologi ini. Sebut saja konsepnya tentang Nasakom.
Pelajaran menarik dari Wahib ini adalah betapa ia telah menyuguhkan ide tentang pentingnya sejarah. Ide yang sesunguhnya sangat original bahakan para pengkaji sejarah belum ada yang secara khusus dan berani menyebut kitab suci sebagai teks historis. Bahwa yang dilakukan manusia adalah aktifitas historis. Ini menunjukan demikian intens Ahmad Wahib memandang pentingnya sejarah. Tugas manusia berikutnya dalam konteks historis itulah yang penting seperti mengambil makan dan mengamalkannya. Saat itu terjadi adalah saat dimana manusia dapat mengamalkan ajaran yang benar sesuai denan tuntutan zamannya masing-masing yang berbeda. Sejarah adalah sumber inspirasi yang dikemas dalam tiga istilah penting yaitu historical setting, ideation, direction dan comunication with good. Pada dasarnya sejarah Muhamamd adalah sumber inspirasi yang mengarahkan dan menggerakkan umat Islam dalam segala aktifitasnya. Pada akhirnya manusia diposisikan sebagai pengambil pelajaran dari peristiwa-peristiwa sejarah itu dan dijadikan dasar dalam bertindak atau berperilaku. Dengan cara pandang yang sama apa yang dilakukannya (kita) pada dasarnya adalah tindakan yang terikat ruang dan waktu.





[1][1] Hasil Penelitian saat kuliah di jurusan Sejarah UNJ
[2][2] Arif Budiman, Mahasiswa S2 Ilmu Agama Islam ICAS-Paramadina. Alamat Kp Sarang Bango Marunda Cilincing Jakarta Utara telp. 02141872917. E-mail: tirta_pawitra@yahoo.co.id
[3][3] Pergolakan Pemikiran Islam: Catatan Harian Ahmad Wahib, diterbitkan oleh LP3ES. Penerbitannya menimbulkan kontroversi.
[4][4] Ini adalah rangkuman hasil kuliah Hermeneutika, Dosen Hadi Kharisman
[5][5] Dulu Noercholish Madjid sangat benci dengan Amerika, setelah diundang untuk study banding, Noercholish berubah. Pergolakan Pemikiran Islam: Catatan Harian Ahmad wahib. LP3ES. Jakarta.1996
[6][6] Tema ini juga disampaikan saat Diskusi Periphatetic Philosophy. Prof. Abdel Azis Abaci. Beliau mengatakan bahwa Jiwa yang makin sempurna akan mampu mengantarkan manusia pada Akal Pertama (The First Intellect).
[7][7] Lima tahap metode hermeneutika dalam kasus perbudakan ini diambil dalam Makalah Hermeneutika Nasr Hamid Abu Zaid. Dalam “Diskusi SelasaSore” yang dipresentasikan oleh Tijani.
[8][8] Ahmad Wahib, Pergolakan Pemikiran Islam: Catatan Harian Ahmad Wahib. Edisi Cetak Ulang yang diterbitkan atas Kerjasama dengan Freedom Institute. Jakarta:Pusataka LP3ES. 2003. Hal 58.

Jumat, 16 Desember 2011

PENULIS NOVEL IDEALIS

(Sebuah Idealisme yang hampir Tenggelam)

Di depan komputernya yang tak lagi baru, laki-laki itu sedang memainkan Tuts-tuts yang ada di keybord. Malam itu adalah salah satu malam dalam rangkaian malam dan hari-hari panjang dalam bingkai waktu yang sedang sangat ia hargai. Bukan berarti waktu sebelumnya tidak ia hargai. Tapi paling tidak ia sedang merasakan betapa waktu yang sedang dijalaninya saat itu sangat ia dambakan. Waktu yang ia butuhkan demi selesainya sebuah idealisme. Saat kawan-kawan guru pulang kampong atau liburan, ia sengaja tidak pulang. Saat orang tua dan kakaknya yang ada di Tangerang beberapa kali menelpon dan menanyakan kabar ketidak pulangannya, ia pun tetap memilih tidak pulang. Semua dilakukannya untuk sebuah novel. Bersama waktu dan dengan terus memanfaatkan waktu itu ia ingin segera menyelesaikan Novelnya. Sungguhkah hanya karena Novel itu ia tidak pulang walau sekedar untuk menegok ibu yang beberapa tahun terakhir sering terkena sakit atau ayah yang beberapa hari ini dikabarkan sedang sakit gula. Laki-laki itu sepertinya tidak hanya menyimpan satu alasan atas ketidak pulangannya.

Lagi Nulis Novel.” Jawabannya singkat saat salah satu kawannya ada yang pernah bertanya. Jawaban tegas tapi tanpa isi tanpa muatan apalagi ungkapan makna. Bahkan yang terlihat hanyalah egoisme yang dipaksakan. Ia sangat yakin bahwa karyanya adalah karya yang sangat penting bagi masyarakat. Menurutnya karya yang dibuat atau disusunnya adalah novel yang baru dan tidak ditemukan pada novel-novel yang lain. Tidak seperti novel atau buku-buku yang mendopleng ketenaran karya orang lain. Contoh saat baru muncul atau booming buku Da Vinci Code, ramai-ramai buku atau tulisan membuat kemasan dan tema yang sama tentang Da Vinci Code dengan segala variasinya. Atau saat Shirazy booming dengan “ayat-ayat Cinta”, beberapa penulis lain juga membuat buku atau tulisan atau novel dengan bahasa dan tampilan buku mirip dengan tampilan buku Ayat-ayat Cinta.

Berbeda dengan Laki-laki itu…. !!!! Novel yang sedang dibuatnya adalah Novel yang benar-benar baru yang diangkat dari khasanh budaya local yang sering dipandang sebelah mata oleh anak negeri sendiri. Begitulah kurang lebih akunya. Laki-laki yang di depan computer itu ingin menunjukkan bahwa budaya negerinya juga punya khasanah cerita rakyat yang lebih bermakna dibanding dengan cerita atau epos bangsa-bangsa Eropa yang jelas-jelas tidak memiliki akar atau dasar budaya ketimuran.

Ada juga yang mengira ia tidak pulang karena alasan tidak ada ongkos. Segera ia membantahnya sebab uang gajian bulan lalu cukup sekiranya hanya untuk ongkos pulang. Tapi memang harus diakui novel adalah idealisme dan obsesi yang setahun terakhir memenuhi ruang dalam jiwanya, sehingga dana sebesar apapun rela ia keluarkan untuk tujuan penulisan novel. Komputer Pentium tiga yang ada di depanya sesungguhnya adalah computer kreditan yang belum lunas. Naskah separoh jadi beberapa kali ia kirimkan pun harus diakui memerlukan dana yang tidak sedikit. Belum lagi printer berikut tinta serta kertas dll. Belum lagi jika computer harus mengalami kerusakan. Setahun ini ia harus mengganti hard disk-nya sebanyak 2 kali. Tentu ini semua menjadi sebuah kenyataan betapa alasan keuangan turut membentuk alasannya untuk tidak pulang.

Tidak…!!!! Aku memang sedang nulis novel. Ga ada sebab atau alasan lain. Kekehnya dalam hati meyakinkan bahwa penulisan dan keasyikannya dengan novel memang sesuatu yang sedang menjadi fokusnya. Bukan hanya satu dua kawan guru yang menanyakannya. Memang agak aneh dan tak lazim kelihatannya dengan pola umum. Saat libur adalah saat yang ditunggu oleh banyak orang untuk istirahat atau berkumpul bersama keluarga. Hal itupun bukan sesuatu yang tak membebani pikirannya. Tapi kini ia sedang memilih dan menggunakan cara itu. Paling tidak untuk beberapa hari. Selebihnya ia tentu ada rencana untuk pulang.

Bahkan kepala sekolahnya juga turut bertanya.

Ya…. Memang benar aku sedang menulis Novel. Ini waktu yang sangat tepat untuk merapihkan tulisan dalam Novel ini. Jawabnya berusaha memantapkan. Bahkan kadang-kadang ia harus berbohong dengan mengatakan bahwa dirinya sedang ikut lomba penulisan resensi buku yang diadakan oleh salah satu penerbit di Jakarta. Dengan begitu alas an penulisan Novel tertutupi. Sehingga idealisme penulisan novel baginya bukanlah sesuatu yang harus ditampilkan. Bahkan sebisa mungkin itu disimpan dalam-dalam dan jangan sampai ada orang yang tahu. Tentu agar apa yang kita katakana lebih punya kesesuaian dengan kenyataan. Saat kita menggebu dengan penyusunan Novel, namun dalam kenyataannya novel itu tak kunjung terwujud, maka semangat yang menggebu itu menjadi dipertanyakan. Namun apabila kita baru menyampaikan judul Novel tapi sebenarnya sudah sekian Bab dan juga halaman tersusun, sungguh orang akan salut dengan kata-kata kita. Sebab antara apa yang dikatakan dengan kenyataan jauh lebih baik. Itulah prinsip yang sedang terus dipegangnya.

Satu hari kawan dekatnya bertanya lewat sms.

Apa kamu ngga kepingin ketemu orang tua…??? Tanya kawannya yang beberapa hari lalu telah menikah dengan gadis Blora lulusan salah satu Universitas Islam bergengsi di Jogya. Gadis itu cukup cantik … Pokoknya di atas standar yang pernah kami sharing bersama tentang tipe-tipe wanita yang kami idealkan. Beberapa minggu yang lalu kami masih main bersama untuk sekedar ngobrol tentang Yayasan dan harus diakui obrolan kami sedikit banyak terfokus pada obrolan tengang wanita dengan sejuta harapan padanya.

Kangen seeh.., tapi beberapa hari lalu kan aku sudah pulang ……!!!!lewat sms laki-laki itu kirimkan jawaban. Ya berapa hari lalu ia memang sempat pulang tapi tidak ke rumah. Ia ke Jawa untuk tujuan mendampingi Tour murid kelas tiga. Saat Bis melaju di wilayah kabupaten tempat Orang tuanya, ia memang sempat kirim sms dan bertanya soal kabar di rumah. Tapi ia tidak sempat mampir karena ia sedang mendampingi anak-anak tour. Ia memang sempat mengatakan kalau ada waktu nanti akan pulang. Beberapa saat berikutnya sms datang kembali. Di buka kotak pesan dalam ponselnya. Rupanya pesan singkat dari kawanya tadi.

Yaa bukan itu… Meski hanya sebentar orang tua itu sangat senang jika anaknya dapat menengok. Apalagi jika usianya telah tua. Mendapati jawaban itu, laki-laki itu terdiam dan berpikir panjang sebelum ia menanggapi argument kawannya. Air matapun tak kuasa ia tahan. Bayangan ibunya yang gesit membayang sangat jelas dalam ingatannya. Bayangan gesit seorang ibu yang tiap pagi bersiap-bersiap pergi ke pasar kembali hadir menambah rasa sedihnya menjadi kian dalam. Tangannya yang dulu halus kini menjadi keriput dan makin terlihat keriput. Dengan tangan yang kini keriput itulah Lelaki itu mendapati belaian kasih sayangnya. Demikian bayangan kekar ayahnya tampil juga dalam ingatannya. Rambutnya tidak semua berwarna hitam. Bahkan yang ada warna putih yang tampak lebih dominant. Wajar saja usianya beberapa tahun lagi mendekati 60. Mengingatinya menjaaadikan ia tambah sedih. Apalagi permintaannya di beberapa bulan terakhir. Sebuah permintaan yang sangat menganggu perasaannya

Jam menunjukkan pukul 09.00, lelaki itu lagi-lagi hanyut dalam aktifitas mengetiknya. Ia Kembali menekuni computer Pentium tiga hasil kredit yang belum lagi lunas. Dua bulan lagi tepatnya bulan Agustus, semua Insya Allah lunas. Ia bisa memanfaatkan dananya untuk keperluan yang lain. Di depan computer itu laki-laki it uterus melanjutkan aktifitas penulisan novelnya. Sebut saja novel itu dengan sebutan Novel Idealis. Idealis sebab itulah karakter yang kuat melekat pada laki-laki itu. Idealis punya dua makna, bisa positif bisa juga negative. Biasanya makna ini lebih dekat pada makna yang negative sebuah kata sifat yang menunjukkan perilaku yang di luar kebiasaan atau diluar mainstream.

Diiringi MP3 dengan lagu-lagu melankolik, ia masih terus asyik dengan novelnya. Walau sesekali lagu berhenti, atau kadang-kadang computer tak dapat dioperasikan alias HENG. Dengan me-reset ulang komputernya, laki-laki itu melanjutkan aktifitasnya. Wajahnya sangat lelah. Meski harus mengalah mengetik dengan tanpa iringan MP3. Radio pinjaman temen yang ada disisinya pun telah tak bersuara alias rusak.

Biarlah tanpa musik…!!! Yang penting aku dapat segera menyelesaikan Novel ini tanpa harus terganggu dengan Heng-Heng yang melelahkan. Beberapa kawan guru yang lain telah memiliki laptop yang cukup baik untuk ukuran seorang guru. Tentu mereka sangat nyaman dan terbantu dengan laptop itu. Laki-laki itu membayangkan suatu saat untuk juga bisa memiliki sebuah Lapop. Ia pernah membaca satu majalah dimana seorang penulis terkenal dengan laptop yang dipunyainya ia bisa menuangkan tulisan atau idenya seketika dan dimana saja tentu karena kelebihan yang ada pada laptop.

Wajahnya masih tampak sayu dan begitu lelah malam itu. Lelah karena kerja idealis yang dilakukannya tak kunjung membuahkan hasil yang diinginkan. Bahkan malam itu ia mengharuskan diri untuk mengenakan kacamata minnya yang jarang ia kenakan. Tulisan font ukuran 12 yang biasa tampak jelas, akhir-akhir ini terlihat tambah buram dalam pandangannya. Mungkin daya lihatnya telah menurun, Pikirnya.

Novel penggugah Nurani peradaban, begitu kurang lebih idealisme yang dibangun untuk menyebut apa yang digarapnya sebagai karya peradaban. Ia berharap dan sangat yakin bahwa suatu saat nanti novelnya bisa diterbitkan. Sebagaimana novel seorang penulis muda yang ia kagumi dan sangat popular di masanya. Dan keyakinan itu tak perlu ia perlihatkan. Ia lebih memilih pembuktian daripada kata-kata yang sering membebani.

Suatu saat muridnya juga pernah menyarankan agar novel yang sedang dia susun diterbitkan. Lelaki dan sekaligus guru muda itu hanya mengatakan “Kalau novel itu bisa diterbitkan tentu menjadi suatu harapan semua penulis, tapi yang utama buat bapak adalah bagaimana kita sebagai manusia yang diberikan kemampuan intelektual bisa memaksimalkan kemampuan tulisnya dalam sebuah catatan. Tulisan atau catatan kita diterbitkan dalam sebuah buku itu adalah suatu kebanggaan yang besar. Sebab catatan atau tulisan yang kita buat bukan hanya bermanfaat untuk diri sendiri melainkan juga bermanfaat untuk orang lain. Jawabnya di depan kelas saat dalam satu sesi belajar mengajar.

Ini adalah karya terbaik peradaban..!!! yakinnya dalam hati sembari sesekali menghentikan aktifitasnya dan mencoba memperhatikan kembali kata-demi kata. Kalimat demi kalimat di satu BAB yang asyik ia tekuni pada layar Monitor di depannya. Dan keyakinannya tak perlu ia tampakkan sebagai sesuatu yang akan benar-benar terwujud. Biarlah keyakinan itu ia simpan dalam-dalam sedalam idealisme yang terkandung didalamnya.

Aku yakin aku bisa bersanding bersama penulis-penulis besar sebagaimana El-Sirazy, penulis ayat-ayat cinta yang namanya harum memenuhi jagat perbukuan negeri ini. Siapa orang yang tidak mengenal Sirazy, itulah nama yang lekat dalam pikirannya. Seorang penulis muda dengan karya monumental telah dibuatnya, karya besar diakui sebagai karya yang masuk deretan karya-karya terbaik di zamanya. Karya peradaban yang menghentak seluruh paradigma novel-novel yang ada sebelumnya sebab karyanya berada di luar Mainstream.

Sesekali ia melihat novel Ayat-ayat Cinta yang sengaja ditaruh di atas computer. “Buku Setebal 418 halaman, yang menurut penuturan adiknya adalah karya yang dibuat hanya memerlukan waktu kurang lebih sepuluh hari. Itupun dikerjakannya saat ia menderita sakit karena musibah kecelakaan.

“Sungguh sangat luar biasa”. Pujinya untuk Shirazy atas karya besar yang dibuatnya.

Hampir satu tahun aku mengerjakan Novel Idelis ini. Tapi yang kudapat barulah peta konsep. Sekian kali terjadi [erubahan pada peta konsep. Tapi aku yakin, peta konsep ini ada;ah peta konsep yang terakhir dan paling sempurna dibanding konsep-konsep yang telah dibuat sebelumnya.

Ya… aku yakin aku bisa. Akan kubuktikan pada semua orang bahwa aku bisa melakukannya. Aku bisa menjadi penulis besar sebagaimana mereka…!!!!! Sebuah catatan yang terlupa dari idealisme yang dibuatnya mungkin terletak pada. Perubahan yang mendasar pada obsesinya. Awal ia mengajar di sekolah itu, ia berobsesi menghasilkan artikel dan karya-karya ilmiah. Belakangan ia banting stir ingin menjadi penulis novel. Sebuah dunia kepenulisan yang sama sekali jarang ia sentuh. Bahkan bisa dikatakan satu novel belum pernah ia baca hingga tuntas. Wajar jika ia sering mengalami kesulitan untuk menemukan pilihan kata, sistematika dan semua hal yang terkaiy dengan novel. Perubahan ke dunia novel salah satunya didasarkan pada pertimbangan bahwa dunia novel lebih punya kebebasan berskspresi tanpa harus dituntut untuk mencari rujukanatau sumber-sumber ilmiah. Terlebih jika novel yang ditulis adalah novel dalam bentuk FIKSI. Novel jenis ini lebih punya kebebasan ekspresi disbanding novel Non-fiksi. Lelaki depan computer itu sedang menulis Novel Fiksi Peradaban. Sebut saja ia dengan Novel Idealis. Seidealis penulisnya.

Suatu hari teteh, tetangganya disamping saung menasehatinya untuk menghentikan aktifitas penulisan novel. Ia sepertinya mersa prihatin atas apa yang terjadi pada laki-laki itu. Ia prihatin sebab dengan kegiatannya menulis novel laki-lakiitu sering melupakan diri sendiri. Dari makan, pakaian hingga soal pasangan hidup. Beberapa kali pakaian yang ia kenakan musti dicucikan Teteh karena jemuran yang terbengkalai.

Simpan dulu novelnya, jangan terlalu memaksakan diri..!!! Suara itu pelan terucap tapi sangat dalam maknanya. Sebuah nasihat untuk berhenti melanjutkan penyusunan Novel. Atau sebuah sindiran halus Untuk tidak mengatakan mengakhiri idealisme yang tak pernah punya bentuk. Aku sangat memahami apa yang dia maksud dengan kata-katanya. Tiap hari kami bertemu dan sling sapa. Tiap hari pula ia tentu sangat memahami atas apa yang aku lakukan di kamar atas dengan. Dia tetanggaku sangat memahami bahwa aku sedang mengerjakan proyek idealis. Dia juga pernah mengatakan tentang ketidak pahamannya atas novel yang kususun.

ENTE NGARTI, begitu kurang lebih kata-kata yang ia lontarkan saat pertama aku menyodorinya peta konsep Novel Idealis itu. Bahasanya terlalu tinggi. Lanjutnya. Benar sekali mungkin apa yang dia katakan. Gaya bahasa tinggi sudah sering dipakainya saat ia masih gemar menulis artikel atau karya tulis ilmiah. Gaya bahasa itu rupanya tidak bisa hilang begitu saja saat menuangkannya dalam bentuk novel. Salah satu kata mutiara yang ia bangun dalam novel itu misalnya ia katakana “Karya terbesar peradaban adalah ketika cipta, rasa dan karsa bersatu dalam satu bahtera. Saat itu kemenangan menjadi dermaga bagi berlabuhnya semua harapan”. Sangat idealis. Kata-kata yang ia bangun dari budayawan besar negeri ini, Koentjaraningrat. Ia modifikasi menjadi rangkain indah menjadi jalinan esensial tentang makna peradaban yang sesungguhnya. Bahasa tinggi dan tidak mudah dimengerti sebab memang tidak semua orang dibekali dengan kemampuan membaca esendi dasar atau hal paling kecil dari suatui fenomena. Maka bersyukurlah wahai anda yang diberikan kemampuan memahami hal yang esensial dan substanssial. Selebihnya kemudahan akan kau dapatkan.

Tapi sungguh aku tidak mengerti dengan apa yang terjadi denganku. Aku seperti sedang terbius oleh penyihir dimana aku tak mampu keluar dari pengaruh sihir. Ujarnya disatu waktu. Laki-laki itu tidak bisa melepaskan dan meninggalkan novel berikut komputernya. Ia telah terjerat dalam ikatan Magis Novel Idealis. Sungguh ia tidak bisa melepaskannya. Hanya lelah dan tidur yang mampu menghentikan aktifitasnya. Hingga mata kembali terbuka ia pun tetap kembali di depan computer. Tentu saja kewajiban rutin beribadah takkan ia tinggalkan sebab itulah kekuatan utama yang menggerakan seluruh yang ada padanya. Bahkan hingga malaikat maut merenggut nyawanya….!!!!! Ia akan terus di depan komputernya melanjutkan nafas peradaban, membangun nurani, menguatkan hati. Mengutkan logika menuju karya besar amanah peradaban.

Lelaki depan computer itu kini sedang berlinang air mata. Ia menangis sebab di usianya kini belum bisa membahagiakan orang tuanya

Mak…… Aku ga bisa sama Tri…???!!!!!

(Babakan Jaya Sukabumi 2007)

Cari Blog Ini