Jumat, 16 Desember 2011

PENULIS NOVEL IDEALIS

(Sebuah Idealisme yang hampir Tenggelam)

Di depan komputernya yang tak lagi baru, laki-laki itu sedang memainkan Tuts-tuts yang ada di keybord. Malam itu adalah salah satu malam dalam rangkaian malam dan hari-hari panjang dalam bingkai waktu yang sedang sangat ia hargai. Bukan berarti waktu sebelumnya tidak ia hargai. Tapi paling tidak ia sedang merasakan betapa waktu yang sedang dijalaninya saat itu sangat ia dambakan. Waktu yang ia butuhkan demi selesainya sebuah idealisme. Saat kawan-kawan guru pulang kampong atau liburan, ia sengaja tidak pulang. Saat orang tua dan kakaknya yang ada di Tangerang beberapa kali menelpon dan menanyakan kabar ketidak pulangannya, ia pun tetap memilih tidak pulang. Semua dilakukannya untuk sebuah novel. Bersama waktu dan dengan terus memanfaatkan waktu itu ia ingin segera menyelesaikan Novelnya. Sungguhkah hanya karena Novel itu ia tidak pulang walau sekedar untuk menegok ibu yang beberapa tahun terakhir sering terkena sakit atau ayah yang beberapa hari ini dikabarkan sedang sakit gula. Laki-laki itu sepertinya tidak hanya menyimpan satu alasan atas ketidak pulangannya.

Lagi Nulis Novel.” Jawabannya singkat saat salah satu kawannya ada yang pernah bertanya. Jawaban tegas tapi tanpa isi tanpa muatan apalagi ungkapan makna. Bahkan yang terlihat hanyalah egoisme yang dipaksakan. Ia sangat yakin bahwa karyanya adalah karya yang sangat penting bagi masyarakat. Menurutnya karya yang dibuat atau disusunnya adalah novel yang baru dan tidak ditemukan pada novel-novel yang lain. Tidak seperti novel atau buku-buku yang mendopleng ketenaran karya orang lain. Contoh saat baru muncul atau booming buku Da Vinci Code, ramai-ramai buku atau tulisan membuat kemasan dan tema yang sama tentang Da Vinci Code dengan segala variasinya. Atau saat Shirazy booming dengan “ayat-ayat Cinta”, beberapa penulis lain juga membuat buku atau tulisan atau novel dengan bahasa dan tampilan buku mirip dengan tampilan buku Ayat-ayat Cinta.

Berbeda dengan Laki-laki itu…. !!!! Novel yang sedang dibuatnya adalah Novel yang benar-benar baru yang diangkat dari khasanh budaya local yang sering dipandang sebelah mata oleh anak negeri sendiri. Begitulah kurang lebih akunya. Laki-laki yang di depan computer itu ingin menunjukkan bahwa budaya negerinya juga punya khasanah cerita rakyat yang lebih bermakna dibanding dengan cerita atau epos bangsa-bangsa Eropa yang jelas-jelas tidak memiliki akar atau dasar budaya ketimuran.

Ada juga yang mengira ia tidak pulang karena alasan tidak ada ongkos. Segera ia membantahnya sebab uang gajian bulan lalu cukup sekiranya hanya untuk ongkos pulang. Tapi memang harus diakui novel adalah idealisme dan obsesi yang setahun terakhir memenuhi ruang dalam jiwanya, sehingga dana sebesar apapun rela ia keluarkan untuk tujuan penulisan novel. Komputer Pentium tiga yang ada di depanya sesungguhnya adalah computer kreditan yang belum lunas. Naskah separoh jadi beberapa kali ia kirimkan pun harus diakui memerlukan dana yang tidak sedikit. Belum lagi printer berikut tinta serta kertas dll. Belum lagi jika computer harus mengalami kerusakan. Setahun ini ia harus mengganti hard disk-nya sebanyak 2 kali. Tentu ini semua menjadi sebuah kenyataan betapa alasan keuangan turut membentuk alasannya untuk tidak pulang.

Tidak…!!!! Aku memang sedang nulis novel. Ga ada sebab atau alasan lain. Kekehnya dalam hati meyakinkan bahwa penulisan dan keasyikannya dengan novel memang sesuatu yang sedang menjadi fokusnya. Bukan hanya satu dua kawan guru yang menanyakannya. Memang agak aneh dan tak lazim kelihatannya dengan pola umum. Saat libur adalah saat yang ditunggu oleh banyak orang untuk istirahat atau berkumpul bersama keluarga. Hal itupun bukan sesuatu yang tak membebani pikirannya. Tapi kini ia sedang memilih dan menggunakan cara itu. Paling tidak untuk beberapa hari. Selebihnya ia tentu ada rencana untuk pulang.

Bahkan kepala sekolahnya juga turut bertanya.

Ya…. Memang benar aku sedang menulis Novel. Ini waktu yang sangat tepat untuk merapihkan tulisan dalam Novel ini. Jawabnya berusaha memantapkan. Bahkan kadang-kadang ia harus berbohong dengan mengatakan bahwa dirinya sedang ikut lomba penulisan resensi buku yang diadakan oleh salah satu penerbit di Jakarta. Dengan begitu alas an penulisan Novel tertutupi. Sehingga idealisme penulisan novel baginya bukanlah sesuatu yang harus ditampilkan. Bahkan sebisa mungkin itu disimpan dalam-dalam dan jangan sampai ada orang yang tahu. Tentu agar apa yang kita katakana lebih punya kesesuaian dengan kenyataan. Saat kita menggebu dengan penyusunan Novel, namun dalam kenyataannya novel itu tak kunjung terwujud, maka semangat yang menggebu itu menjadi dipertanyakan. Namun apabila kita baru menyampaikan judul Novel tapi sebenarnya sudah sekian Bab dan juga halaman tersusun, sungguh orang akan salut dengan kata-kata kita. Sebab antara apa yang dikatakan dengan kenyataan jauh lebih baik. Itulah prinsip yang sedang terus dipegangnya.

Satu hari kawan dekatnya bertanya lewat sms.

Apa kamu ngga kepingin ketemu orang tua…??? Tanya kawannya yang beberapa hari lalu telah menikah dengan gadis Blora lulusan salah satu Universitas Islam bergengsi di Jogya. Gadis itu cukup cantik … Pokoknya di atas standar yang pernah kami sharing bersama tentang tipe-tipe wanita yang kami idealkan. Beberapa minggu yang lalu kami masih main bersama untuk sekedar ngobrol tentang Yayasan dan harus diakui obrolan kami sedikit banyak terfokus pada obrolan tengang wanita dengan sejuta harapan padanya.

Kangen seeh.., tapi beberapa hari lalu kan aku sudah pulang ……!!!!lewat sms laki-laki itu kirimkan jawaban. Ya berapa hari lalu ia memang sempat pulang tapi tidak ke rumah. Ia ke Jawa untuk tujuan mendampingi Tour murid kelas tiga. Saat Bis melaju di wilayah kabupaten tempat Orang tuanya, ia memang sempat kirim sms dan bertanya soal kabar di rumah. Tapi ia tidak sempat mampir karena ia sedang mendampingi anak-anak tour. Ia memang sempat mengatakan kalau ada waktu nanti akan pulang. Beberapa saat berikutnya sms datang kembali. Di buka kotak pesan dalam ponselnya. Rupanya pesan singkat dari kawanya tadi.

Yaa bukan itu… Meski hanya sebentar orang tua itu sangat senang jika anaknya dapat menengok. Apalagi jika usianya telah tua. Mendapati jawaban itu, laki-laki itu terdiam dan berpikir panjang sebelum ia menanggapi argument kawannya. Air matapun tak kuasa ia tahan. Bayangan ibunya yang gesit membayang sangat jelas dalam ingatannya. Bayangan gesit seorang ibu yang tiap pagi bersiap-bersiap pergi ke pasar kembali hadir menambah rasa sedihnya menjadi kian dalam. Tangannya yang dulu halus kini menjadi keriput dan makin terlihat keriput. Dengan tangan yang kini keriput itulah Lelaki itu mendapati belaian kasih sayangnya. Demikian bayangan kekar ayahnya tampil juga dalam ingatannya. Rambutnya tidak semua berwarna hitam. Bahkan yang ada warna putih yang tampak lebih dominant. Wajar saja usianya beberapa tahun lagi mendekati 60. Mengingatinya menjaaadikan ia tambah sedih. Apalagi permintaannya di beberapa bulan terakhir. Sebuah permintaan yang sangat menganggu perasaannya

Jam menunjukkan pukul 09.00, lelaki itu lagi-lagi hanyut dalam aktifitas mengetiknya. Ia Kembali menekuni computer Pentium tiga hasil kredit yang belum lagi lunas. Dua bulan lagi tepatnya bulan Agustus, semua Insya Allah lunas. Ia bisa memanfaatkan dananya untuk keperluan yang lain. Di depan computer itu laki-laki it uterus melanjutkan aktifitas penulisan novelnya. Sebut saja novel itu dengan sebutan Novel Idealis. Idealis sebab itulah karakter yang kuat melekat pada laki-laki itu. Idealis punya dua makna, bisa positif bisa juga negative. Biasanya makna ini lebih dekat pada makna yang negative sebuah kata sifat yang menunjukkan perilaku yang di luar kebiasaan atau diluar mainstream.

Diiringi MP3 dengan lagu-lagu melankolik, ia masih terus asyik dengan novelnya. Walau sesekali lagu berhenti, atau kadang-kadang computer tak dapat dioperasikan alias HENG. Dengan me-reset ulang komputernya, laki-laki itu melanjutkan aktifitasnya. Wajahnya sangat lelah. Meski harus mengalah mengetik dengan tanpa iringan MP3. Radio pinjaman temen yang ada disisinya pun telah tak bersuara alias rusak.

Biarlah tanpa musik…!!! Yang penting aku dapat segera menyelesaikan Novel ini tanpa harus terganggu dengan Heng-Heng yang melelahkan. Beberapa kawan guru yang lain telah memiliki laptop yang cukup baik untuk ukuran seorang guru. Tentu mereka sangat nyaman dan terbantu dengan laptop itu. Laki-laki itu membayangkan suatu saat untuk juga bisa memiliki sebuah Lapop. Ia pernah membaca satu majalah dimana seorang penulis terkenal dengan laptop yang dipunyainya ia bisa menuangkan tulisan atau idenya seketika dan dimana saja tentu karena kelebihan yang ada pada laptop.

Wajahnya masih tampak sayu dan begitu lelah malam itu. Lelah karena kerja idealis yang dilakukannya tak kunjung membuahkan hasil yang diinginkan. Bahkan malam itu ia mengharuskan diri untuk mengenakan kacamata minnya yang jarang ia kenakan. Tulisan font ukuran 12 yang biasa tampak jelas, akhir-akhir ini terlihat tambah buram dalam pandangannya. Mungkin daya lihatnya telah menurun, Pikirnya.

Novel penggugah Nurani peradaban, begitu kurang lebih idealisme yang dibangun untuk menyebut apa yang digarapnya sebagai karya peradaban. Ia berharap dan sangat yakin bahwa suatu saat nanti novelnya bisa diterbitkan. Sebagaimana novel seorang penulis muda yang ia kagumi dan sangat popular di masanya. Dan keyakinan itu tak perlu ia perlihatkan. Ia lebih memilih pembuktian daripada kata-kata yang sering membebani.

Suatu saat muridnya juga pernah menyarankan agar novel yang sedang dia susun diterbitkan. Lelaki dan sekaligus guru muda itu hanya mengatakan “Kalau novel itu bisa diterbitkan tentu menjadi suatu harapan semua penulis, tapi yang utama buat bapak adalah bagaimana kita sebagai manusia yang diberikan kemampuan intelektual bisa memaksimalkan kemampuan tulisnya dalam sebuah catatan. Tulisan atau catatan kita diterbitkan dalam sebuah buku itu adalah suatu kebanggaan yang besar. Sebab catatan atau tulisan yang kita buat bukan hanya bermanfaat untuk diri sendiri melainkan juga bermanfaat untuk orang lain. Jawabnya di depan kelas saat dalam satu sesi belajar mengajar.

Ini adalah karya terbaik peradaban..!!! yakinnya dalam hati sembari sesekali menghentikan aktifitasnya dan mencoba memperhatikan kembali kata-demi kata. Kalimat demi kalimat di satu BAB yang asyik ia tekuni pada layar Monitor di depannya. Dan keyakinannya tak perlu ia tampakkan sebagai sesuatu yang akan benar-benar terwujud. Biarlah keyakinan itu ia simpan dalam-dalam sedalam idealisme yang terkandung didalamnya.

Aku yakin aku bisa bersanding bersama penulis-penulis besar sebagaimana El-Sirazy, penulis ayat-ayat cinta yang namanya harum memenuhi jagat perbukuan negeri ini. Siapa orang yang tidak mengenal Sirazy, itulah nama yang lekat dalam pikirannya. Seorang penulis muda dengan karya monumental telah dibuatnya, karya besar diakui sebagai karya yang masuk deretan karya-karya terbaik di zamanya. Karya peradaban yang menghentak seluruh paradigma novel-novel yang ada sebelumnya sebab karyanya berada di luar Mainstream.

Sesekali ia melihat novel Ayat-ayat Cinta yang sengaja ditaruh di atas computer. “Buku Setebal 418 halaman, yang menurut penuturan adiknya adalah karya yang dibuat hanya memerlukan waktu kurang lebih sepuluh hari. Itupun dikerjakannya saat ia menderita sakit karena musibah kecelakaan.

“Sungguh sangat luar biasa”. Pujinya untuk Shirazy atas karya besar yang dibuatnya.

Hampir satu tahun aku mengerjakan Novel Idelis ini. Tapi yang kudapat barulah peta konsep. Sekian kali terjadi [erubahan pada peta konsep. Tapi aku yakin, peta konsep ini ada;ah peta konsep yang terakhir dan paling sempurna dibanding konsep-konsep yang telah dibuat sebelumnya.

Ya… aku yakin aku bisa. Akan kubuktikan pada semua orang bahwa aku bisa melakukannya. Aku bisa menjadi penulis besar sebagaimana mereka…!!!!! Sebuah catatan yang terlupa dari idealisme yang dibuatnya mungkin terletak pada. Perubahan yang mendasar pada obsesinya. Awal ia mengajar di sekolah itu, ia berobsesi menghasilkan artikel dan karya-karya ilmiah. Belakangan ia banting stir ingin menjadi penulis novel. Sebuah dunia kepenulisan yang sama sekali jarang ia sentuh. Bahkan bisa dikatakan satu novel belum pernah ia baca hingga tuntas. Wajar jika ia sering mengalami kesulitan untuk menemukan pilihan kata, sistematika dan semua hal yang terkaiy dengan novel. Perubahan ke dunia novel salah satunya didasarkan pada pertimbangan bahwa dunia novel lebih punya kebebasan berskspresi tanpa harus dituntut untuk mencari rujukanatau sumber-sumber ilmiah. Terlebih jika novel yang ditulis adalah novel dalam bentuk FIKSI. Novel jenis ini lebih punya kebebasan ekspresi disbanding novel Non-fiksi. Lelaki depan computer itu sedang menulis Novel Fiksi Peradaban. Sebut saja ia dengan Novel Idealis. Seidealis penulisnya.

Suatu hari teteh, tetangganya disamping saung menasehatinya untuk menghentikan aktifitas penulisan novel. Ia sepertinya mersa prihatin atas apa yang terjadi pada laki-laki itu. Ia prihatin sebab dengan kegiatannya menulis novel laki-lakiitu sering melupakan diri sendiri. Dari makan, pakaian hingga soal pasangan hidup. Beberapa kali pakaian yang ia kenakan musti dicucikan Teteh karena jemuran yang terbengkalai.

Simpan dulu novelnya, jangan terlalu memaksakan diri..!!! Suara itu pelan terucap tapi sangat dalam maknanya. Sebuah nasihat untuk berhenti melanjutkan penyusunan Novel. Atau sebuah sindiran halus Untuk tidak mengatakan mengakhiri idealisme yang tak pernah punya bentuk. Aku sangat memahami apa yang dia maksud dengan kata-katanya. Tiap hari kami bertemu dan sling sapa. Tiap hari pula ia tentu sangat memahami atas apa yang aku lakukan di kamar atas dengan. Dia tetanggaku sangat memahami bahwa aku sedang mengerjakan proyek idealis. Dia juga pernah mengatakan tentang ketidak pahamannya atas novel yang kususun.

ENTE NGARTI, begitu kurang lebih kata-kata yang ia lontarkan saat pertama aku menyodorinya peta konsep Novel Idealis itu. Bahasanya terlalu tinggi. Lanjutnya. Benar sekali mungkin apa yang dia katakan. Gaya bahasa tinggi sudah sering dipakainya saat ia masih gemar menulis artikel atau karya tulis ilmiah. Gaya bahasa itu rupanya tidak bisa hilang begitu saja saat menuangkannya dalam bentuk novel. Salah satu kata mutiara yang ia bangun dalam novel itu misalnya ia katakana “Karya terbesar peradaban adalah ketika cipta, rasa dan karsa bersatu dalam satu bahtera. Saat itu kemenangan menjadi dermaga bagi berlabuhnya semua harapan”. Sangat idealis. Kata-kata yang ia bangun dari budayawan besar negeri ini, Koentjaraningrat. Ia modifikasi menjadi rangkain indah menjadi jalinan esensial tentang makna peradaban yang sesungguhnya. Bahasa tinggi dan tidak mudah dimengerti sebab memang tidak semua orang dibekali dengan kemampuan membaca esendi dasar atau hal paling kecil dari suatui fenomena. Maka bersyukurlah wahai anda yang diberikan kemampuan memahami hal yang esensial dan substanssial. Selebihnya kemudahan akan kau dapatkan.

Tapi sungguh aku tidak mengerti dengan apa yang terjadi denganku. Aku seperti sedang terbius oleh penyihir dimana aku tak mampu keluar dari pengaruh sihir. Ujarnya disatu waktu. Laki-laki itu tidak bisa melepaskan dan meninggalkan novel berikut komputernya. Ia telah terjerat dalam ikatan Magis Novel Idealis. Sungguh ia tidak bisa melepaskannya. Hanya lelah dan tidur yang mampu menghentikan aktifitasnya. Hingga mata kembali terbuka ia pun tetap kembali di depan computer. Tentu saja kewajiban rutin beribadah takkan ia tinggalkan sebab itulah kekuatan utama yang menggerakan seluruh yang ada padanya. Bahkan hingga malaikat maut merenggut nyawanya….!!!!! Ia akan terus di depan komputernya melanjutkan nafas peradaban, membangun nurani, menguatkan hati. Mengutkan logika menuju karya besar amanah peradaban.

Lelaki depan computer itu kini sedang berlinang air mata. Ia menangis sebab di usianya kini belum bisa membahagiakan orang tuanya

Mak…… Aku ga bisa sama Tri…???!!!!!

(Babakan Jaya Sukabumi 2007)

Selasa, 03 Februari 2009

THE THAIBAH

THE THAIBAH

Kisah Cinta di Tengah Euphoria Penegakkan Syariah

Kisah percintaan yang mengharu biru. Kisah yang tumbuh di tengah kuatnya idealisme penegakkan syariah. Bukan tidak suka dengan tegaknya syariah, tapi tegaknya syariah punya makna yang sangat luas, bukan sekedar mengenakan baju rapat, hingga timbul kesan tak boleh melihat mata wanita. Terlebih bagian tubuh yang lain. Penegakkan syariah juga bukan sekedar memotong tangan seorang pencuri yang berdosa. Tegaknya syariah adalah kesadaran bahwa tuhan adalah sentral dari kehidupan manusia. Maka saat kesadaran ber-Tuhan telah ada, saat itulah terjadi penegakkan syariah dalam pengertian yang sebenarnya.

The Thaibah berkisah tentang seorang lelaki bernama Rahman Hakim yang mencintai gadis di luar system pergerakan yang masih muda belia. Gadis muda belia itu bernama Puri Eviyanti. Kisah ini sebenarnya merupakan sebuah tesis yang berusaha menjelaskan bagaimana perbenturan nilai-nilai itu terjadi. Saat Rahman berada dalam kukuhnya idealisme penegakkan syariat, disaat yang sama cinta pada gadis pujaannya itu menyeret Rahman Hakim pada penelusuran doktrin anti pacaran. Sebuah doktrin yang telah lama tertanam dalam benaknya bahkan sejak ia masih SMA. Doktrin itu kini telah “dilanggarnya”. Ia menjadi penganut “idiologi pacaran” namun tidak seperti pengertian pacaran yang banyak dipersepsikan. Ia sesungguhnya sedang mengikuti nuraninya. Nurani tentang dirinya yang membutuhkan wanita. Tapi ia tidak melakukan hal yang dilarang agama dalam arti hubungan yang dibebaskan. Kedekatan pada wanita yang sedang dilakoninya adalah kedekatan insaniyah dalam batas-batas kewajaran. Hingga suatu hari ia tanpa sengaja melihat keindahan sesunggguhnya dari gadis pujaannya, ia pun meminta wanita itu menutup keindahan miliknya.

Rahman Hakim dipertemukan dengan seorang wanita yang sangat istimewa. Ia dikenal sangat digandrungi banyak pemuda. Daya tariknya memang sungguh sangat luar biasa. Hakim kini masuk dalam lingkaran itu. Ia telah di pertemukan dalam pertemuan indah nan bahagia. Sebuah pertemuan yang mengharuskan keduanya masuk dalam ikatan cinta. Itulah saat yang pertama bagi dirinya mengenal wanita ( baca: berpacaran). Selama ini ia hanya membayangkan apa yang dimaksud dengan pacaran, ia hanya mengira-ira tanpa pernah mengalami sendiri.

Proses pacaran itu telah mengantarkan Hakim pada shock yang dalam. Trauma pada makna pacaran yang dilakoni banyak orang pernah dia nisbat-kan pada Puri Eviyanti. Dan nisbat (penyamaan arti) yang dilakukannya adalah sesuatu yang salah sebab Puri Eviyanti tidak pernah melakukan hal-hal yang ada dalam pengertian umum itu. Kedalaman makna pacaran itu sungguh tidak berlaku untuk wanita yang kini ada di dekatnya. Hakim telah membuat kesimpulan yang terlampau sederhana.

Dilihat dari latar belakangnya, Rahman adalah seorang laki-laki yang menilai cinta sebagai sesuatu yang simple, mudah dan tak perlu berbeli-belit. Cinta baginya adalah sesuatu yang mudah untuk didapatkan, cinta adalah seuntai bunga indah yang mekar di taman yang bila kita menyenanginya, maka kita dapat langsung memetiknya. Ternyata cinta tidak sesimple itu. Sesungguhnya cinta melebihi apa yang selama ini dibayangkan. Mendapatkan bunga indah yang tumbuh di taman itu memerlukan usaha yang besar. Dalam cinta dinamakan perjuangan dan pengorbanan. Cinta adalah sesuatu yang menjadikan laki-laki mengencangkan otot tangannya. Mendedag dadanya, menguatkan azzam dan mengukuhkan asa. Cinta adalah sesuatu yang menjadikan kedua mata lelaki menetikkan airnya. Demikian halnya sebaliknya.

Cinta bukanlah bahasa sederhana yang dengan mudah dapat diucapkan. Cinta juga bukanlah mimpi yang menjadikan kain tidur kita basah saat kita bangun dipagi hari. Cinta bukanlah kisah-kisah tentang berbunganya jiwa. Definisi cinta sesungguhnya melampaui semua definisi-definisi yang pernah dibuat para pujangga. Cinta adalah harga yang sangat mahal. Mendapatkannya adalah satu anugrah besar, maka jangan pernah mengabaikan cinta sebab ia sedang sangat nyata mendekati kita

Rabu, 25 Juni 2008

EPISTIMOLOGI TRANSENDEN:

Problem besar dalam bangunan ilmu saat ini adalah saat peran ilmu sebagai sarana manusia menggapai tujuannya tidak berjalan dengan baik. Ada problem besar di tingkat epistimologi yaitu struktur di dalam bangunan ilmu yang mengurai asal-mula ilmu. Epistimologi kita belum mampu menjawab secara memuaskan tentang bagaimana transendentalitas dapat dijabarkan. Epistimologi kita juga belum mampu mengakomodasi objek-objek transenden sebagai sasaran kaji ilmu. Contoh, ada orang yang memandang agama sebagai ilmu, disaat yang sama orang tidak menerima agama itu sebagai ilmu, contohnya transendentalitas Tuhan. Maka yang terjadi, Epistimologi tidak pernah berpihak secara fair pada aspek ke-Tuhanan. Padahal, transendentalitas adalah unsur yang sangat fundamental dalam berkeyakinan. Ketidakmampuan epistimologi dalam menjawab problem transendentalitas ini harus segera disadari sebagai problem besar peradaban. Selanjutnya problem ini mendapatkan jawabannya agar seluruh dimensi dasar manusia tentang Tuhan mendapat argumentasi dan dasar ilmiah. Sebab beragama atau ber-Tuhan adalah perilaku yang memiliki mekanisme yang jelas dalam ilmu pengetahuan. Mekanisme yang dimaksud adalah metode ilmiah. Sudahkah transendentalitas dapat dikaji secara ilmiah tapi mengandalkan metode barat selama ini sangat tidak memuaskan..
Struktur ilmu pengetahuan saat ini terbentuk dari olah pikir manusia dalam menjawab problematika peradaban. Pertanyaan pertama yang perlu diajukan terkait dengan ilmu adalah “Sudahkah ilmu membantu manusia untuk meniti tahapan-tahapan sejarah menuju tujuan akhir dari tahapan sejarah itu sendiri. Yang sering kita temukan adalah manusia yang kaya dengan ilmu tapi kering dari nilai sebagai manusia terlebih dirinya di hadapan tuhan, Yang maha Pencipta (menurut mereka yang berpijak pada paradigma agama). Ilmu adalah alat bagi manusia. la menjadi pedoman dalam setiap langkahnya. Manusia tidak bisa terlepas dari adanya ilmu. Ada tiga hal pokok dalam teori ilmu, yang pertama Ontologi yang berarti apa itu ilmu, kedua epistimologi yang berarti bagaimana ilmu itu didapat dan yang ketiga adalah aksiologi yang menunjukkan untuk apa (atau kegunaan ilmu). Pembahasan tentang ilmu biasanya terfokus pada pembahasan epistimologi yaitu bidang ilmu yang membahas pengetahuan manusia (Muhammad Taqi’ Yazdi, 2003). Dari mana ilmu didapat, bagaimana prosesnya, metodenya bagaimana adalah hal-hal yang dijangkau dalam epistimologi. Intinya epistimologi dapat dipahami sebagai cara untuk mendapatkan ilmu pengetahuan.
Pembahasan mengenai epistimologi menjadi hal penting bahkan sangat penting, saat dominasi paradigma atau pemikiran barat tentang ilmu begitu nyata bertengger diatas bangunan ilmu. Bahkan ukuran tingginya suatu peradaban seringkali ditentukan atas dasar filisfat ilmu yang dibangunnya. Epistimologi transenden berupaya mengukuhkan gagasan epistimologi dalam wilayah agama. Epistimologi ini sebetulnya tidak perlu muncul atau dimunculkan seandainya gagasan tentang ilmu ini (epistimologi) yang berlaku saat ini mampu menjawab problem besar ilmu pengetahuan. Kenyataan yang ada sebaliknya epistimologi yang ada tidak mempu mengakomodir gagasan transendetalitas Tuhan. Ilmu barat yang hari ini kita lihat dan menghujam di tengah peradaban, telah banyak meninggalkan tanya yang tak kunjung berjawab disaat problema kemanusian yang makin kompleks. Disana ada yang hilang dari sisi manusia. Ada nilai yang disingkirkan, padahal nilai tersebut begitu lekat dalam manusia. Radikalisme dalam paradigma atau perspektif ilmu barat telah banyak melahirkan gagasan-gagasan sekuler yang terbukti kering dan menjauhkan manusia dari hakikatnya yang tauhidi (nilai religius). Saat ilmu dipandang dalam perspektif ini (barat), yang lahir adalah gagasan-gagasan yang berdasar pada otoritas manusia (anthroposentris). Pengalaman the dark age di Eropa dijadikan dasar untuk menolak konsep-konsep yang teologis (agama). selanjutnya mucullah gagasan-gagasan yang mendasarkan struktur ilmunya pada rasionalitas dan kemampuan berpikir manusia.
Kalau ilmu itu bemama pengalaman, maka pengalaman meninggalkan pesan berharga untuk selanjutnya menentukan langkah tepat kedepan. Bisa jadi pengalaman yang dialami adalah pengalaman pahit lebih-lebih menyakitkan. Selanjutnya atas dasar pengalaman itu, tentu saja ia tidak ingin merasakan kembali hal pahit yang pernah dialaminya. Tentang hal ini kita tentu tahu bahwa tujuan akhir dari setiap langkah manusia adalah untuk didapatinya kebaikan. Hal pahit tidak pemah diharapkan. Lewat pengalaman itulah manusia mengambil pelajaran. Sementara yang terkandung didalam ilmu bukan hanya pengalaman. Pengalaman hanyalah sebagian kecil dari "narasi agung" ilmu pengetahuan. Narasi intelektual yang diyakini manusia dapat memberi petunjuk dan jalan keluar bagi setiap problem yang datang.
Sehingga tak bisa ditawar lagi, ilmu adalah sebuah keniscayaan dalam laku kehidupan manusia. Permasalahannya, ilmu seperti apa yang bisa dipakai untuk mencapai tujuan manusia itu? Yang diharapkan tentu saja ilmu yang benar, ilmu yang mampu mengantarkan manusia pada tujuan dan kebutuhannya. Namun dalam kenyataannya, manusia mendapati dirinya dalam kekeringan, satu kondisi yang tidak dia peroleh dalam ilmu barat. Pilihan yang didasarkan pada kenyataan yang ada menuntutnya untuk menggunakan ilmu tersebut (baca: barat). Bukti tentang kegunaan ilmu yang dipakainya pun bukan TIADA. Banyak manfaat telah dirasakan. Ilmu yang memberi manfaat itulah ilmu yang dipakai. Sebaliknya ilmu yang tidak bermanfaat itu akan dibuang atau ditinggalkan.
Ilmu adalah pengetahuan yang benar. Sehingga jika pengetahuan itu salah, maka jelas ia tidak dapat disebut sebagai ilmu. Ilmu yang dipahami sebagai pengalaman, maka pengalaman itu bisa disebut ilmu dengan melewati sejumlah prosedur ilmu atau metode ilmiah. Benar atau tidaknya pengalaman kita, tentu bukan tanpa dasar terlebih untuk menilai benar atau tidak suatu ilmu. Kita pun berhak untuk mengatakan pengalaman kita adalah pengalaman yang benar. Dalam kondisi seperti ini, maka kita sebetulnya telah mampu memberi sifat atau menilai sesuatu itu benar dan atau salah terhadap ilmu pengetahuan atas suatu pendasaran.
Dasar konseptual tentang ilmu (Epistimologi) diharapkan dapat memenuhi kebutuhan manusia untuk didapatnya pengetahuan yang benar. Entitas manusia haruslah menjadi dasar utama untuk memilih ilmu pengetahuan sebagai alat yang akan digunakan. Contoh pertanyaan mudah “apakah saya akan Menggunakan ilmu Barat atau tidak” Jawabannya tentu selama ilmu barat itu baik dan mampu mengantarkan manusia pada penyelesaian masalah yang dihadapi, maka ilmu barat itu menjadi suatu pilihan untuk digunakan. Kenyataannya, tidak semua ilmu itu mampu mengantarkan manusia pada apa yang diharapkan manusia. Jika kita punya tujuan dekat dengan Tuhan, maka kita perlu alat untuk mencapai tujuan itu. Alat untuk mencapai tujuan inilah yang dinamakan sebagai ilmu. Sering kita mendapati manusia menggunakan ilmu yang dia yakini mampu menggapai tujuannya, namun yang terjadi sebaliknya. Disisi lain kita juga melihat ada orang berilmu tapi kering sisi kemanusiaannya (jiwanya), la tidak mampu dekat dengan Tuhan. Jadi bisa disimpulkan bahwa ilmu tersebut adalah ilmu yang tidak mampu menjadi alat bagi manusia. Secara ekstrem, ia tidak bisa disebut sebagai ilmu sebab dasar penilaian sesuatu disebut ilmu apabila sesuatu atau pengetahuan tersebut terbukti kebenarannya.
Paradigma yang sangat berbeda antara ilmu barat dengan agam,a (baca: Islam), dapat kita lihat pada banyak aspek, salah satunya pada sisi metodologi ilmu. Pertama pada sisi ontology, ilmu barat menekankan objek ilmu pada Fenomena (sesuatu yang nampak), sementara Islam menekankan pada fenomena dan Noumena (tidak nampak). Kenyataan ini dapat kita cermati pada gagasan ilmu yang bersifat materialistic. Gagasan-gagasan ini berpusat pada kemampuan akal manusia sebagai pusat gagasan.
Contoh "gagasan tentang Tuhan", bagi mereka adalah sesuatu yang tidak bisa dibuktikan, alasannya tidak ada secara fisik. Selanjutnya gagasan tentang Tuhan (baca agama) secara tidak langsung ditempatkan sebagai gagasan yang tidak ilmiah. Disini seharusnnya terbangun dalam kesadaran kita bahwa epistimologi yang dipakai selama ini sedang menggiring manusia untuk “tidak beragama”. Ajakan halus tentang pemikiran ini dibingkai dalam gagasan sekulerisme. Rasionalisme dan materialisme belakangan ramai diperbincangkan dan dijadikan pijakan berpikirnya. Islam adalah petunjuk. Dalam Islam sangat menekankan kedudukan Ilmu. Salah satunya adalah keyakinan bahwa al-Quran adalah sumber dari segala sumber ilmu. Objek yang ada dalam Quran dalam pandangan epistimologi barat, mungkin tidak ilmiah. Contoh tentang malaikat. Paradigma ilmu barat tentu akan mempertanyakan keilmiahan malaikat. Sebab ilmu bagi pandangan barat harus bisa dibuktikan. Bisakah keberadaan malaikat dibuktikan. Umat Islam meyakini adanya malaikat yaitu meyakini adanya hal-hal yang gaib. Pertanyaannya “ apakah sesuatu yang tidak bisa dibuktikan secara ilmiah harus ditolak?. Jawabannya tentu tidak. Kita masih bisa meyakini adanya yang gaib (Malaikat). Akal kita mungkin tidak bisa menerima keberadaannya. Tapi? Bukankah manusia bukan hanya punya akal. Manusia punya Hati dan dengan hati inilah manusia meyakini kebenaran adanya malaikat. Seperti sudah disinggung sebelumnya, aksioma yang lahir dari debat pemikiran ini, diakhiri dengan jawaban tidak berdasar: “biarkan tentang yang gaib itu menjadi urusan agama”. Inilah saya kira awal lahirnya gagasan sekulerisme, sebuah gagasan yang ada saat gagasan tentang transendentalitas dipaksakan untuk bisa dibuktikan.
Meyakini tentang adanya yang gaib adalah ilmiah bagi umat Islam. Sebuah penilaian yang sangat paradoks dengan cara pandang barat. Cara pandang berbeda tentang sesuatu. ltulah yang saya maksud sebagai objek barat yang fenomena oriented, tapi dalam islam bukan hanya fenomena tapi juga Noumena (Metafisis). Bagimana cara melihat yang Noumena Menyangkut cara melihat, ini ada kaitannya dengan metodologi yang kedua, yaitu epistimologi yakni cara mendapatkan ilmu. Cara yang dipakai dalam ilmu Islam adalah dengan indra, akal dan hati (QS :3:191). Sementara metodologi barat cara yang dipakai dalam mendapatkan ilmu pengetahuan hanya menggunakan indra dan akal lewat proses berpikir. Yang terakhir adalah aksiologi, menyangkut kegunaan ilmu. Paradigma ilmu barat, penggalan ilmu didedikasikan untuk kepentingan ilmu itu sendiri. Sementara aksiologi dalam ilmu Islam, ilmu didedikasikan sebagai bekal da1am rangka menjadi khalifatullah dan sistem pengabdian sebagai hamba Allah (QS: 51:56).
Apakah untuk percaya dengan adanya kekuatan gaib (kekuatan diluar kita), harus menunggu ada alat yang bisa membuktikan dengan hasil fisik. Haruskah kita menunggu para pakar membuat alat yang canggih? Tidakkah kita menusia sudah memiliki alat canggih itu bahkan supercanggih yang hingga saat ini belum ada ilmuawan yang bisa membuatnnya. Alat itu supercanggih. Dengan alat itu manusia mampu menembus tembok paling tinggi lagi tebal. la mampu membaca detail bentangan ciptaan yang Maha Perkasa. la mampu memperkuat pendirian saat alam raya menunjukkan keagungannya. Tanpa mengguanakan alat bantu teknologi supercanggih, alat ini selalu dapat mengakses dan melakukan komunikasi dengan Tuhan. Dialah hati. Hati manusia adalah alat supercanggih. Ekspansi dan kesombongan manusia telah menyingkirkan perannya dalam membangun peradaban. Kecongkakkan akal manusialah yang telah lama meminggirkannya. Hati, ia adalah altematif. Disaat manusia disuguhkan banyak tawaran. Hati adalah sebuah keniscayaan saat ilmu dan peradaban hendak didirikan. Epistimologi Alternatif adalah kesadaran tentang potensi insaniah. Bukan hanya akal yang dipunya manusia. Manusia juga punya hati yang mampu mengukur tentang segala sesuatu yang ada dihadapannya.
Epistimologi transenden berupaya membongkar kesombongan intelektual yang lupa dengan nilai religius. Epistimologi transenden adalah gagasan yang menyodorkan sisi dasar manusia yang utama, untuk selanjutnya menjadi bagian dalam proyek pembangunan ilmu pengetahuan yang mampu menjadikan manusia sadar dan dekat pada Allah SWT. Wallahu Alam Bishawab.
_____________
*Arif Budiman, saat ini aktif sebagai tenaga pengajar di SMP Internat Al-Kausar Jl. Habib, Desa Babakan Jaya Sukabumi Telp. 0266734576, 0266734577 HP: 08176661322 E-mail: arif_sma77@yahoo.co.id atau arif0budiman@yahoo.com

Selasa, 11 September 2007

Cari Blog Ini